Parasite (기생충) (South Korea, 2019) (4,5/5) : Review & Analisa


RottenTomatoes: 98% | IMDb: 8,6/10 | Metascore : 89/100 | NikenBicaraFilm: 4,5/5

Rated: 17+ | Genre: Drama, Thriller

Directed by Bong Joon-ho ; Produced by Bong Joon-ho, Kwak Sin-ae, Jang Young-hwan ; Written by Bong Joon-ho, Han Jin-won ; Starring Song Kang-ho, Lee Sun-kyun, Cho Yeo-jeong, Choi Woo-shik, Park So-dam ; Music by Jung Jae-il ; Cinematography Hong Kyung-pyo ; Edited by Yang Jin-mo ; Production company Barunson E&A Corp ; Distributed by CJ Entertainment ; Release date May 21, 2019 (Cannes), May 30, 2019 (South Korea) ; Running time 132 minutes ; Country South Korea ; Language Korean ; Budget ₩17.0 billion (roughly US$14.6 million) ; Box office US$67.8 million

Story / Cerita / Sinopsis :
Kehidupan keluarga Kim Ki-taek (Song Kang-ho) berubah ketika anak lelaki sulungnya bekerja menjadi guru les privat dari keluarga kaya raya. 

 Review / Resensi :
Halo! Intermezzo dulu ya, berhubung sudah hampir dua bulan saya hiatus dari blog ini. Jadi, hampir dua bulan lalu saya (akhirnya) menikah. Sebelum pernikahan, saya hectic dengan segala persiapan pernikahan, dan setelah pernikahan saya hectic dengan kepindahan dan adaptasi tinggal di kota baru. Alhasil, mood dan kebiasaan saya nyaris berubah total. Dan bagi seseorang yang hobi menulisnya sangat dipengaruhi oleh mood, blog ini pun terbengkalai selama dua bulan. Saya bahkan sempet kepikiran, apakah kehidupan baru saya ini pada akhirnya membuat blog ini tamat riwayatnya setelah sekian tahun? Tapi kemudian terjadi sesuatu. Saya menonton film ini, Parasite, di CGV pada suatu malam. Lalu saya mikir, ga mungkin saya ga bikin reviewnya di blog ini. Saya harus bikin review dan analisanya!

Sebagai seseorang yang sok-sokan menyebut diri sebagai movie blogger, referensi film saya sebenarnya masih terbatas, termasuk film-film dari Korea Selatan. Tapi dari sedikit film-film Korea Selatan yang pernah saya tonton, saya cukup familiar dengan film dari sutradara Bong Joon-Ho. Malah saya suka banget film-film yang dianggap paling berhasil mempopulerkan namanya: The Host (2007) dan Snowpiercer (2013). Dengan daftar film lainnya dalam karirnya seperti Memoirs of Murders dan Okja, tak pelak lagi Bong Joon-Ho adalah salah satu sutradara Korea Selatan paling disegani dan dihormati, baik di negara asalnya maupun di seluruh dunia. Namanya pun makin populer saat film terbarunya ini, Parasite ini berhasil mengalahkan Once Upon a Time in Hollywood-nya Quentin Tarantino di ajang Cannes tahun 2019 ini dan berhasil meraih Palm d'Or (penghargaan tertinggi pada ajang Cannes Festival). Jadi, bagi siapa aja yang belum menonton filmnya, lebih baik hentikan membaca ulasan ini dan langsung nonton. Dan sebaiknya ga usah baca review lainnya. Parasite ini tipe film yang makin sedikit kamu tahu ceritanya, makin baik.

(WARNING!! CONTAINS MAJOR SPOILER)

Alkisah, Kim Ki-Taek (diperankan oleh aktor langganan Bong Joon-ho, yakni Song Kang-ho), adalah kepala keluarga dari keluarga yang seluruh anggota keluarganya pengangguran. Mereka harus hidup apa adanya di sebuah rumah kecil semi-basement dengan jendela kecil yang menghadap ke jalan (dimana pemandangan yang sering mereka lihat adalah orang mabuk yang muntah dan kencing sembarangan), mengais-ngais sinyal wifi dari kamar mandi, dan dibayar rendah untuk pekerjaan melipat kotak pizza. Kehidupan mereka kemudian berubah ketika anak sulung keluarga mereka Ki-woo (Choi Woo-shik) menjadi guru les bahasa inggris seorang anak perempuan dari keluarga Park yang kaya raya. Dengan akal bulusnya, Ki-woo dan keluarganya kemudian berhasil menipu keluarga kaya itu (lebih tepatnya, sang ibu yang naif luar biasa - diperankan oleh Cho Yeo-jeong), dan menjadikan seluruh anggota keluarga Kim bekerja untuk keluarga Park, dan menjadi parasit dengan menikmati kekayaan keluarga Park. 

Parasite dipasarkan sebagai sebuah "tragicomedy" sebuah keluarga. Namun selama hampir separuh film, kamu mungkin mengira film ini sepenuhnya komedi, akibat kekocakan yang utamanya dihadirkan oleh keluarga Kim. Namun lewat bel yang tiba-tiba berbunyi di tengah malam, di tengah cuaca yang sedang hujan deras, mood film tiba-tiba sepenuhnya berubah, dan saya mengalami momen ketegangan luar biasa. Peleburan genre komedi-thriller ini yang sangat mahir dimainkan oleh Bong Joon-ho lewat film Parasite ini. Sebenarnya, untuk yang sudah terbiasa nonton film Bong Joon-ho atau Park Chan-wook (Oldboy, The Handmaiden), unsur komedi khas Asia dalam film-film mereka adalah hal yang cukup biasa. Biasanya ini dihadirkan lewat tokoh utama dengan karakter yang komikal dan bodoh. Tapi Parasite ini lebih menghadirkan perubahan mood dari komedi ke thriller (dan bahkan horror) secara kontras dan mendadak, cukup mengejutkan dan unpredictable bagi penonton awam yang mengira sedang nonton film komedi ringan. Menariknya, sekalipun paruh film kedua sudah terasa intens, Bong Joon-ho juga masih bisa menyisipkan unsur komedi (siapa yang tertawa pada adegan si pembantu rumah tangga yang lama, ditendang oleh sang ibu hingga terjatuh dari tangga?). Sebenarnya, perubahan mood filmnya tidak cukup drastis sih, karena di paruh film pertama, Parasite sudah sedikit "menggoda" dengan scoring music yang cukup gloomy dan momen-momen misterius. Oh ya, ada beberapa momen misterius dari awal film yang membuat kita menebak-nebak darimana "kejutan" nanti akan terjadi: dari sang ayah? dari sang ibu? dari anak perempuan? dari anak lelaki? dari rumah keluarga Park? (by the way, perubahan mood dari komedi di paruh pertama ke tragedi di paruh akhir tentu meninggalkan kesan yang sedikit "depresif" bagi saya dan kebanyakan penonton, tapi sayangnya saya merasa bagian endingnya agak "mendayu-dayu" dan terlalu impossible, jadi malah bikin mood emosionalnya sedikit turun...).

Sementara itu, ga perlu diragukan lagi bagaimana sinematografi dari Hong Kyung-pyo yang sebelumnya dikenal menggarap film-film Bong Joon-ho yang lain (Snowpiercer, Mother) mengambil gambar demi gambar dengan baik. Favorit saya tentu saja adegan horror kemunculan "hantu" dari basement - sebuah momen yang menakutkan hingga bikin seorang anak kecil trauma, tapi malah bikin saya terpingkal. Scoring music dari Jung Jae-il juga mendukung keseluruhan mood Parasite. Belum lagi deretan cast yang menawan, dipimpin oleh Song Kang-ho yang sudah bermain di empat film Bong Joon-ho. Tapi yang paling spesial buat saya tentu saja, si "sinting" Park Myung-hoon sebagai Geun-se (saya masih kebayang mukanya yang berdarah-darah, dengan ekspresi balas dendam membabi buta). Saya sempet mikir apa doi ditakdirkan dengan muka aneh psycho yang cocok dengan perannya, tapi kalo lihat foto lainnya sih mukanya normal banget (malah babyface khas Korea gituuu).

Apa yang saya sukai dari film-film terbaik Korea Selatan (seenggaknya dari film asal Korea Selatan yang pernah saya tonton), adalah adanya unsur lokal yang cukup khas. Ini yang suka hilang dari perfilman mainstream Indonesia, yang biasanya mengambil syuting di luar negeri, atau mengambil kehidupan urban kelas menengah ke atas. Kalau sudah menonton film Bong Joon-ho sebelumnya seperti The Host dan Mother, kita tahu bahwa Bong Joon-ho suka mengambil tema keluarga sebagai sentral kisahnya. Dan tema keluarga ini tentu terasa lebih related dengan kita yang sama-sama orang Asia, dibandingkan potret keluarga di film-film Barat, misalnya. Lewat Snowpiercer, Bong Joon-ho juga melakukan kritik sosialnya sendiri terhadap ketidakadilan kelas. Hal ini ia hadirkan lagi, begitupula dengan tokoh utama sebuah keluarga, lewat film Parasite ini yang naskahnya ia tulis sendiri bersama dengan Han Ji-won. Oke, sekarang mari kita analisa apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan lewat Parasite?

Kita semua tahu Parasite adalah tentang dua keluarga dari kehidupan kelas yang berbeda. Keluarga Park yang kaya raya, hidup tenang dan nyaman - dengan seorang pembantu rumah tangga dan supir pribadi, di sebuah rumah modern yang indah. Secara kontras, ada keluarga Kim, yang hidup begitu miskin di sebuah rumah kecil semi-basement, mencari sedikit uang dari melipat kotak pizza. Seperti yang saya baca di blog tetangga, movfreak, jendela rumah kedua kelurga tersebut menjadi semacam perlambang yang menunjukkan betapa berbedanya kehidupan mereka. Rumah Park mempunyai jendela yang luas, menghadap halaman hijau yang rapi dan segar. Rumah Kim mempunyai jendela sempit, menghadap ke jalan dimana pemandangan yang sering mereka lihat adalah orang mabuk yang kencing sembarangan. Rumah keluarga Park terletak di atas bukit, sementara rumah keluarga Kim terletak di bawah. Saat hujan deras, keluarga Park yang kaya raya merasa hujan deras itu justru terasa menyegarkan, sementara keluarga Kim harus menerima nasib rumah mereka kebanjiran dan terpaksa bermalam di gedung olahraga dengan para pengungsi yang lain. Nasib, rupanya bisa sedemikian berbeda pada kedua keluarga tersebut.

Lalu, apa yang membuat akhirnya Kim Ki-taek menusukkan pisau ke dada Mr. Park? Bagi saya, ini titik klimaks ketika Ki-taek tidak mampu menerima nasib malang yang menimpa keluarganya. Dalam banyak momen, tampaknya dialog Parasite berulangkali menyinggung soal merencanakan hidup. Bagi keluarga Park yang kaya raya, rencana hidup tampak begitu mulus. Sesekali rencana berakhir buruk hanya sekedar ketika hujan deras, dan perayaan ulang tahun dengan berkemah terpaksa dibatalkan. Namun perayaan itu toh masih bisa diganti dengan pesta ulang tahun dadakan di hari berikutnya. Dalam salah satu dialog Ki-taek dengan Mr. Park, Mr. Park menyebutkan bagaimana istrinya menyukai "kejutan" (dan kejutan berarti sesuatu yang menyenangkan), atau bagaimana putra lelaki Ki-taek, Ki-woo, yang mengatakan bahwa orang-orang kaya tersebut masih bisa berdandan dengan menawan walaupun diundang dalam pesta ulang tahun dadakan. Namun rencana bagi keluarga miskin seperti Kim adalah sesuatu yang muluk-muluk, dan seringkali berakhir buruk. Ingat percakapan Ki-taek dengan anak-anaknya ketika menanyakan apa rencana ayahnya selanjutnya? Ki-taek cuma bilang bahwa rencana terbaik adalah tidak berencana sama sekali, karena pada akhirnya hidup akan selalu mengecewakanmu. Tampaknya, ini adalah salah satu ekspresi pesimisme yang umum terjadi di masyarakat menengah ke bawah. (Namun secara ironis, Ki-wook yang selamat dari segala tragedi itu, di akhir film masih memiliki optimisme tinggi dengan berencana bahwa ia akan menyelamatkan ayahnya dengan menjadi kaya raya dan membeli rumah tersebut. Tapi tentu saja, kita sudah bisa menduga bahwa rencana itu toh kemungkinan besar tidak akan terwujud). 

Saya juga menafsirkan dalam beberapa dialog, bahwa Mr. Park menyukai Ki-taek karena sebagai supir pribadi, ia tidak melanggar batas. Namun batas itu nyaris terlanggar ketika Ki-taek berulangkali menanyakan apakah Mr. Park mencintai istrinya (yang tidak pernah dijawab), karena percakapan ini tampaknya bukan percakapan yang akan Mr. Park obrolkan dengan seorang supir. Ya, batas yang dimaksud mungkin adalah batasan bahwa keduanya, Mr. Park dan Ki-taek, adalah dua orang dari kelas sosial yang berbeda: majikan dan pekerjanya. Lalu berikutnya: masalah bau badan. Kamu mungkin tertawa ketika Mr. Park pertama kali mengomentari bau badan yang kurang sedap dari Ki-taek sebagai supir pribadinya. Namun sesuatu yang tampaknya remeh dan sepele itu, rupanya persoalan besar yang menandai jurang perbedaan antara keluarga Park dan keluarga Kim. Dan itu yang tampaknya Ki-taek sadari ketika ia melihat bahwa Mr. Park, di tengah segala kekacauan yang terjadi di pesta ulang tahun anaknya, sempat-sempatnya menutup hidungnya saat hendak mengambil kunci mobil yang tertindih hantu rubanah alias Geun-se (yang ironisnya, memuja Mr. Park karena dianggap menyelamatkan hidupnya secara tidak langsung). Bagi saya, ini momen puncak yang membuat Kim Ki-taek secara emosional membunuh Mr. Park. Dalam suatu headline surat kabar murahan, mungkin berita pembunuhan ini akan berbunyi "Disebut Badannya Bau, Kim Ki-Taek Tega Membunuh Majikannya Sendiri", tapi kamu pasti tahu bahwa alasannya tidak sekonyol itu...


Komentar

  1. You know what... begitu selesai nonton film ini barusan (karena penasaran dengan hype nya dan bertahan gak baca semua tulisan tentang film ini maupun nonton trailernya), yang terpikirkan oleh saya adalah pingin baca review blog ini. Mungkin karena saya kepincut dengan tulisan anda (terutama tentang film arrival). Meski saya fully aware bahwa udah cukup lama blog ini "off" alias gak ada tulisan baru, tapi tetep nyoba cek/buka kalau² ada tulisan tentang parasyte. Dan voilaaa! There it is! Mungkin law of attraction bekerja saat ini (buat saya). Anyway, ini film yang (almost) perfect buat saya. Hampir semua aspeknya bekerja dengan baik. Btw, welcome back!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mba, meskipun aku tau blog ini udh lama ga update tulisan baru, tapi habis ntn Parasite entah kenapa langsung mampir ke sini. Dan sama, kepincut awal dari tulisan tentang film Arrival... Toss 🙏

      Hapus
    2. Walah! Sehati kita rupanya... toss juga!😅

      Hapus
    3. Wah terima kasih semua sudah mampir ke blog saya :)

      Hapus
  2. Setuju, sama endingnya yg terkesan menurun tensinya. Dari awal nikmati dark comedy nya disambung adegan tipu tipu lanjut kejutan setelah ketukan lalu gore yg biasa saja yg sayang ditutup dgn lemas tak berdaya...

    BalasHapus
  3. Sudah 8 tahun mengikuti Blog ini. untuk pertamakalinya saya komen cuma mau bilang, "Selamat Menikah,Semoga dipermudah segala urusan" Aamiin.

    BalasHapus
  4. First of all, congratulations on your wedding, Mbak Niken!

    Anyway, keputusanmu untuk ngga menunda menulis review Parasite emang paling tepat. Untuk penonton yang suka emotionally invested, tulisanmu itu pas banget. Kayak menemukan temen curhat. Can't agree more dengan shift tone-nya yang drastis pun dramatis itu. Membekas sampai sekarang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah thank you yaa! Iya nih, karena filmnya sangat emosional dan membekas maka harus nulis reviewnya :) (*biarpun telat juga reviewnya haha).

      Hapus
  5. tulisannya rapi dan bagus , jadi seneng bacanya .

    indoxxi

    BalasHapus

Posting Komentar

Your comment is always important to me. Share di sini!