27/01/13

12 Angry Men (1957)


So, I will not give you another excuses why I left this blog (almost) 4 months. Ceritanya sih pada tulisan terakhir saya bertekad untuk rajin menulis lagi, tapi apa yang mau ditulis kalau frekuensi nonton-film saya belakangan ini sudah sangat jauuuuh berkurang. Tapi weekend ini saya iseng-iseng menyambangi hard disk saya dan ngeliat koleksi film saya yang ternyata masih sedikit yang sudah ditonton. Dan yeah, after watched 12 Angry Men in the middle of the nite (dimulai pada pukul 1 malam), saya jadi ngerasa berhutang kalo tidak mereview film yang sangat jenius ini. And yeah, ga usah banyak bacot, langsung simak aja yaa reviewnya ini..

12 Angry Men (1957)


Directed by Sidney Lumet ; Produced by Henry Fonda, Reginald Rose ; Written by Reginald Rose; Starring Henry Fonda, Lee J. Cobb, E. G. Marshall, Martin Balsam, Jack Warden, John Fiedler, Jack Klugman, Edward Binns, Joseph Sweeney, Ed Begley, George Voskovec, Robert Webber ; Music by Kenyon Hopkins ; Cinematography Boris Kaufman ; Editing by Carl Lerner ; Distributed by Metro-Goldwyn-Mayer, United Artists ; Release date(s) April 13, 1957 (1957-04-13) ; Running time 96 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $340,000 ; Box office $1,000,000 (US rentals)

Genre: Drama
RottenTomatoes: 100% (8.9/10)
NikenBicaraFilm : (5/5)

Story:
Pada sebuah kasus pembunuhan tingkat pertama dengan terdakwa seorang anak 18-tahun, dua belas pria yang bertindak sebagai juri harus memutuskan dengan suara bulat apakah anak tersebut bersalah atau tidak. Pada awalnya, kasus tersebut tampak gamblang dan seluruh bukti-bukti yang ada memberatkan sang terdakwa. Ketika dilakukan voting untuk memutuskan apakah sang terdakwa bersalah, sebelas orang mengangkat tangannya – yakin bahwa terdakwa sepenuhnya bersalah, namun satu orang (juri #8 – diperankan Henry Fonda) tidak mampu mengangkat tangannya karena masih meragukan apakah anak tersebut benar-benar bersalah atau tidak. Ceritapun bergulir menjelaskan bahwa bukti-bukti yang tampak gamblang itu rupanya tidak segamblang yang mereka kira sebelumnya...

Review:
Bayangkan sebuah film hitam putih, dengan 12 orang pria paruh baya sebagai pemerannya, sebuah ruangan tertutup yang menjadi lokasi cerita dalam durasi 93 menit dari total 96 menit keseluruhan durasi film, sebuah main plot yang bercerita bagaimana ke-12 orang mencoba merundingkan nasib seorang terdakwa hukuman mati, dan film ini hanya akan diisi oleh dialog-dialog berkepanjangan. Kalau saja bukan seorang jenius yang mengerjakannya, saya jamin kamu sudah tertidur di 20 menit awal film. Tapi, 12 Angry Men bukan sekedar film biasa. Betapa luar biasanya bahwa sebuah ide yang simple bisa menjadi film yang begitu menawan untuk disaksikan.

Adalah berkat tangan dingin Sydney Lumet, sang sutradara dan sang penulis naskah Reginald Rose (yang by the way juga menulis 12 Angry Men dalam versi awalnya untuk produksi televisi) yang membuat 12 Angry Men mampu seolah-olah mendudukkanmu dalam ruangan yang sama, membuatmu seakan-akan menjadi juri ke-13 dan tengah terlibat adu argumentasi dengan kedua belas juri lainnya. Alur cerita – dalam balutan naskah berisi dialog-dialog – mampu membuatmu mengikuti alur ceritanya dengan baik. Intensitas berjalan naik-turun, membuatmu panas di satu momen, tercerahkan di momen lain, tersenyum di momen lain lagi, dan terharu di bagian akhirnya. Film ini dipenuhi quotes-quotes dan argumen-argumen yang sangat menarik. Saya jamin, kamu tidak akan merasa bosan menontonnya. Oh my, jadi wajar saja (*seperti yang sudah saya jelaskan di atas*), saya merasa berdosa kalau setelah menonton ini saya nggak ngereview film ini.    

Betapa hebat pula bahwa keduabelas juri tanpa nama tersebut – sepanjang film kamu hanya akan mengenalnya sebagai juri #1, #2, ...dst, kalaupun ada hanya 2 nama yang bakal disebut di bagian akhirnya – membuatmu mampu memahami karakter masing-masing juri. Yeah, karakterisasinya begitu sempurna. Antara satu juri dan juri lainnya, kamu bisa menganalisa masing-masing karakter, semuanya terbawakan begitu baik pada dialog sang karakter maupun gesture tubuh dari para aktornya yang membawakan perannya masing-masing dengan baik. Ada si egois, ada si baik hati, ada si bijaksana, ada si peragu, ada si tukang seenaknya, ada si pemimpin, dan ada si lemah. Sebagai sebuah film drama yang hanya bersetting pada satu ruangan tertutup, kekuatan film ini jelas ada pada script dan karakternya. And that was so genius. I mean it.

Film ini juga akan membuatmu memahami bagaimana cara bisa bertahan membela sesuatu yang kamu anggap benar di tengah intimidasi dari kaum mayoritas yang berbeda pandangan denganmu. I couldn’t imagine how Juror #8 could be able to handle the pressure from the other eleven jurors. Juri #8 (yang merupakan karakter protagonis dari film ini) harus mencoba memberikan argumentasi yang sebenarnya tidak sama kuatnya dengan argumentasi dari orang-orang lainnya. Ia sendiri tidak yakin apakah sang terdakwa benar-benar tidak bersalah, namun ia menyimpan sedikit keraguan apakah terdakwa bersalah. Ia hanya mengatakan bahwa ada “kemungkinan” bukti-bukti yang diajukan pengadilan salah, dan mencoba membelokkan perspektif seluruh juri lainnya yang sebelumnya kukuh dengan pendapat masing-masing. Dan ketika ia mengatakan: I'm not trying to change your mind. It's just that... we're talking about somebody's life here. We can't decide it in five minutes. Supposing we're wrong?  - itu membuatmu menyadari bahwa butuh kepala dingin dan waktu lebih lama untuk bisa memutuskan bagaimana tindakanmu terhadap orang lain yang telah kamu penuhi dengan prasangka tertentu. Menentukan apakah seseorang layak mati atau tidak adalah salah satu keputusan besar yang tanggung jawabnya harus kamu pertanggungjawabkan seumur hidupmu, dan bukan sebuah keputusan sepele yang bisa kamu putuskan dengan terburu-buru dan emosional.

Pada akhirnya, film ini juga memberikan perspektif abu-abu terhadap sifat manusia. Agak spoiler nih: saya dibikin tersentuh di bagian akhirnya, ketika karakter antagonisnya akhirnya meruntuhkan keegoisannya, dan sesungguhnya ia hanya dipenuhi oleh amarah, sekaligus kerinduan pada anak semata wayangnya.  Yak, spoiler ends.

Overview:

12 Angry Men boleh dibilang adalah salah satu courtroom drama terbaik yang pernah dibuat di sejarah perfilman dunia. Walaupun film ini tidak memenangkan Oscar pada jamannya, dan membuat Henry Fonda yang selain menjadi aktor juga menjadi produsernya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa (dan membuatnya tidak ingin jadi produser lagi), tapi 12 Angry Men adalah salah satu masterpiece film yang pernah ada di dunia. 12 Angry Men membuktikan kepadamu bahwa kamu tidak butuh kisah muluk-muluk, teknologi canggih, chessy sex, cewek-cewek pamer belahan dada, adegan baku hatam dan ledakan hebat untuk membuat film hebat. Walaupun film ini dirilis pada tahun 1957 dimana seluruh teknologi masih sangat sederhana, namun masih sangat relevan untuk menontonnya saat ini, dan sampai kapanpun..  

12/10/12

Looper (2012)




"The only rule is: never let your target escape... even if your target is you,"

Directed by Rian Johnson ; Produced by Ram Bergman James D. Stern ; Written by Rian Johnson ; Starring Bruce Willis Joseph Gordon-Levitt Emily Blunt ; Music by Nathan Johnson ; Cinematography Steve Yedlin ; Editing by Bob Ducsay ; Studio FilmDistrict Endgame Entertainment DMG Entertainment ; Distributed by TriStar Pictures Alliance Films ; Release date(s) September 6, 2012 (TIFF) September 28, 2012 (United States) ; Running time 118 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $30 million ; Box office $43,218,912

Rated: R
Genre: Action, Science-Fiction, Mystery & Suspense
Tomatometer: 93%
NikenBicaraFilm: 4/5

Sinopsis:
Pada tahun 2044, Joe (Joseph Gordon Levitt) berprofesi sebagai Looper. Looper adalah pembunuh bayaran yang bertugas membunuh orang-orang yang dikirim dari masa depan. Pekerjaan itu tampaknya menjadi pekerjaan yang relatif mudah baginya, sampai ia kemudian seseorang dikirim dari masa depan, dan itut adalah dirinya sendiri (Bruce Willis).






Review:
Membaca premisnya mungkin sudah cukup memancing perhatianmu untuk menjadikan Looper sebagai salah satu film yang harus kamu tonton di tahun 2012. Belum lagi ada nama yang cukup kinclong beberapa tahun ini: Joseph Gordon Levitt. Setelah menggaet hati wanita-wanita muda lewat film indie romantis (500) days of Summer, JGL bersinar pula melalui film-film Christoper Nolan lewat Inception dan The Dark Knight Rises, (dan baru membuat saya jatuh cinta setelah film 50/50). Tahun ini JGL juga main di Premium Rush, yang di bioskop Indonesia tayang hampir bersamaan dengan Looper. Nantinya di akhir tahun ini, JGL juga akan bermain di film Spielberg, Lincoln. Totally can't wait! Nama Rian Johnson sendiri mungkin tampaknya tidak terlalu familiar. Looper adalah film ketiganya setelah Brick (2005) dan The Brothers Bloom (2009) dimana JGL juga bermain di kedua film ini. Walaupun di The Brothers Bloom perannya hanya sebatas cameo.

Berperan sebagai Bruce Willis muda, JGL harus mengenakan make-up yang membuatnya terlihat seperti Bruce Willis. Banyak orang bilang efek itu terlihat aneh, but I think that was so cool! JGL tampaknya memberikan performa yang sangat menarik, dan segala gayanya benar-benar mengingatkan akan gaya Bruce Willis. And eeerrr... he looks pretty cool here, and handsome. So damn handsome as always. :D *please ignore my childish attitude*

Walau memiliki premis time-travel, tapi time-travel sendiri sebenarnya bukan letak fokus utama. Hal ini menjadikan Looper terlihat sebagai film science-fiction yang sangat berbeda. Dengan paralelitas waktu yang bisa membingungkanmu, tampaknya Rian Johnson tidak ingin banyak bermain di area itu, dan menjadikan time-travel sebagai sub-plot saja. Juga dengan penceritaan dunia di masa depan yang really messed-up, kemiskinan dan kriminalitas merajalela, itu hanya bagian sub-plot. Penjelasan-penjelasan mengenai sub-plot itu hanya diceritakan sesedikit mungkin, tapi cukup jelas dan tidak akan membuatmu bingung (*kecuali kau menggalinya lebih dalam, dan niscaya kamu akan banyak menemukan kejanggalan dan plot hole. Jadi saya sarankan, stop asking and just enjoy!). Rian Johnson hanya ingin membangun cerita dengan setting cerita yang demikian, dan hal inilah yang menjadikan Looper terlihat sangat menarik. Ya, bagi sebagian orang, mungkin. Karena setelah paruh pertama film ini, saya merasa seperti menyaksikan film keenam Harry Potter. Seriously. Saya merasa tensi setelah paruh pertama film ini justru menurun, dan sejujurnya, cerita di paruh kedua film ini tidak benar-benar mampu menarik perhatian saya. Sedikit mengecewakan, sebenarnya. Sorry, fans.

Paruh pertama film ini adalah bagian terbaiknya, namun memasuki paruh kedua saya merasa film ini seperti kehilangan twistnya. Saya mengharapkan bahwa film ini akan dipenuhi cool action, namun entahlah, betapa hebatnya Bruce Willis dan JGL menghabisi musuh-musuhnya terasa seperti kurang menarik. Lalu beberapa bagian cerita menurut saya malah sedikit "cheesy". Again, sorry, fans. Dan saya tandai, cerita ini menjadi sedikit tidak menarik ketika bersamaan dengan munculnya karakter Sara (Emily Blunt) dan anaknya. Karakter Joe yang fenomenal di awal cerita, seperti terdegradasi di pertengahan cerita dan fokus menjadi sedikit terganggu. Maybe you will find urself reallty excited with this part, but I'm not. Dengan banyaknya tokoh dan cerita (atau nilai moral, lebih tepatnya) yang ingin disampaikan, kamu akan merasa bahwa banyak hal yang akhirnya tidak tergali dengan baik. Misal bagaimana hubungan Abe dan Kid Blues, atau Joe dan prostitute incarannya.

Tapi lantas bukan berarti Looper menjadi film yang buruk. Ini masih lebih menarik daripada Nobita SD ketemu dengan Nobita di masa depan. Saya suka sekali gaya direct Rian Johnson yang membuat Looper tidak kehilangan sentuhan "cool"-nya. Looper tetap saja adalah film yang keren, dengan sinematografi yang sangat menarik untuk sebuah film science-fiction. Namun sekali lagi, hal itu terangkum di paruh pertama filmnya. Dan although I'm not into action movie, tapi saya yang berekspektasi Looper adalah film action dengan bumbu science-fiction menemukan diri saya sedikit kecewa di akhir film.

Overview:
Melihat rating yang cukup istimewa yang diberikan web-web film seperti rottentomatoes dan imdb, saya merasa bahwa di lain sisi film ini sedikit overrated. Yeah, maybe this is just my opinion. Bagian terbaik dari Looper adalah paruh pertamanya, Rian Johson mampu membawamu ke dalam banyak hal cool yang sangat ingin kamu temukan di film: cerita yang menarik, hot action, cool character, "kemegahan" kisah futuristik, dan tokoh utama yang ganteng (*tentu saja*). Namun pada akhirnya bagian kedua film ini justru sedikit mengecewakan, dan membuatmu merasa tertipu jika kamu sudah melihat trailernya. Another Voldemort? Really?


10/09/12

Punch Drunk Love (2002)



"I'm lookin' at your face and I just wanna smash it. I just wanna fuckin' smash it with a sledgehammer and squeeze it. You're so pretty."

Directed by Paul Thomas Anderson ; Produced by Paul Thomas Anderson, Daniel Lupi, Joanne Sellar ; Written by Paul Thomas Anderson ; Starring Adam Sandler, Emily Watson, Phillip Seymour Hoffman ; Music by Jon Brion ; Cinematography Robert Elswit ; Editing by Leslie Jones ; Studio Revolution Studios, New Line Cinema ; Distributed by Columbia Pictures ; Release date(s) November 1, 2002 ; Running time 95 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $25 million ; Box office $24,665,649

Rated: R
Genre: Romance, Comedy, Drama
Tomatometer: 79%
Metascore: 78/100
NikenBicaraFilm: (4.5/5)

Sinopsis:
Barry Egan (Adam Sandler), tumbuh bersama 7 saudara perempuan yang kerap mengatur dan mengejeknya. Rupanya hal ini membuatnya menjadi seorang pria labil yang tidak percaya diri, introvert dan kesepian. Sampai kemudian akhirnya ia terpaksa menelepon sex-call, hanya untuk kepengen mengobrol dengan orang yang bisa diajaknya bicara. Dari sinilah kekacauan dimulai, ketika akhirnya gadis yang ditelponnya ini berusaha memerasnya, dan membuat Barry kesulitan dalam memulai hubungan percintaannya dengan Lena Leonard (Emily Watson).




Review:
By the way, saya menulis review ini sepuluh menit setelah selesai menonton filmnya di HBO Hits. Saya memaksa untuk langsung menulis reviewnya, supaya perasaan “hangat” yang masih terasa karena menonton film ini membuat saya mampu dengan lancar mengalirkannya dalam bentuk tulisan.

Saya sebenarnya tidak terlalu familiar dengan karya-karya Paul Thomas Anderson sebelumnya. Punch Drunk Love adalah film ketiganya setelah sebelumnya sukses dengan Boogie Night (1997) dan Magnolia (1999) – dimana Magnolia sukses dengan ensemble castnya, dan banyak orang menyebut di film inilah Tom Cruise berhasil menunjukkan performa terbaiknya sebagai aktor. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, Paul Thomas Anderson juga sebenarnya tidak terlalu produktif, tercatat setelah Punch Drunk Love ia baru membuat satu film, There Will Be Blood (2007) yang dibintangi Daniel Day Lewis. Eh, tapi ga main-main film itu sukses meraih nominasi Best Picture piala Oscar tahun 2007 (kalah dengan No Country for Old Men).  Pertengahan September ini akan ada lagi film terbarunya, The Master – dibintangi (lagi-lagi) Phillip Seymour Hoffman dan Joaquin Phoenix, dan disebut-sebut akan menjadi kandidat kuat Oscar tahun depan (2013). Jujur, Punch Drunk Love merupakan film pertama P.T. Anderson yang saya tonton, and at the end of the movie, I’ve found myself totally in love with this movie!

Kalau kamu hanya mengingat Adam Sandler sebagai seorang komedian, maka Punch Drunk Love merupakan pembuktian dirinya sebagai aktor yang bisa berakting serius dan menyentuh. Boleh dibilang ini adalah true-performance for him as an actor. Punch Drunk Love ibarat Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) bagi Jim Carrey. Memang, Punch Drunk Love tidak murni drama, masih ada sentuhan comedy yang sedikit kelam dan sarkastik, namun Adam Sandler masih tetap membawakannya dengan sangat luar biasa, terutama pada scenes yang bernuansa serius. Penampilannya benar-benar intense, Adam Sandler bisa membawa saya untuk menyelami ketidakstabilan perasaannya, how he must accept the humilitiation from his sisters, dan mampu mencampuradukkan perasaan saya kala ia sedih, frustasi, jatuh cinta, dan marah. Anyway, Adam Sandler meraih nominasi Golden Globe untuk Best Actor berkat peran ini.

Dari segi plot cerita, P.T. Anderson juga dengan sangat baik mampu membawa saya menyelami kisah manis dan polos cinta Barry dan Lena (yang sebenarnya terjadi relatif instan). Tidak ada adegan-adegan atau dialog yang terlalu romantis (baca: terlalu gombal) memang, semuanya dibawakan dengan sangat sederhana, namun itulah yang menjadikan Punch Drunk Love begitu cantik dan manis. Mampu membuaimu, justru karena kesederhanaannya – atau keanehannya. Keanehan itu, kecanggungan itu, justru membuat film ini terasa manis. Dan saya secara tidak sengaja menemukan diri saya senyum-senyum sendiri sepanjang film. Punch Drunk Love memang adalah drama romantis dengan sentuhan sedikit komedik, namun Paul Thomas Anderson mampu membawakannya dengan cara yang berbeda. Which is, so cool and sweet.

Menonton Punch Drunk Love memang tidak akan membuat tertawa terbahak-bahak, inti komedinya memang sangat satir, saya seolah-olah diajak menertawakan hal-hal memalukan dan menyedihkan yang sering terjadi pada hidup saya. Keanehan tokoh Barry terasa sangat wajar, justru hal itu yang menjadikan Barry tampak begitu spesial. Melihat apa yang Barry katakan dan lakukan mampu membuat saya teringat pada banyak hal yang terjadi pada hidup saya (dan kamu mungkin merasakannya juga), hal-hal memalukan yang ingin sekali kita hapus dari ingatan tapi orang-orang terdekatmu merasa hal itu adalah lelucon yang harus diceritakan berulang-ulang. Dan hal itu membuatmu ingin menghancurkan pintu. Itu memang sangat menyedihkan, namun normal. Dialog cerdas ini tampaknya juga cukup menyentil: I don't know if there is anything wrong because I don't know how other people are.

Yang paling menyenangkan tentu saja selain itu semua adalah sinematografi yang sangat indah untuk ditonton. Memang tidak ada properti atau scene pendukung yang indah dengan sendirinya, namun menonton Punch Drunk Love seperti menyaksikan potret-potret yang sangat cantik dan indah. Adegan Barry dan Lena yang berciuman, dalam sebuah siluet, itu sangat menawan. Saya juga benar-benar menyukai long take dengan moving camera yang dilakukan Paul Thomas Anderson saat menunjukkan kacaunya pikiran Barry ketika bertubi-tubi cobaan datang menimpanya: saudara perempuan yang memaksa dan mengaturnya, datang bersama Lena, telepon dari para pemerasnya, serta kecelakaan di kantornya – that was genius! Belum lagi music yang begitu weird, dengan bunyi-bunyian yang tidak biasa – mulai dari orkestra hingga semacam bunyi-bunyian yang bisa jadi terdengar dari basement studio Radiohead, that was so unique! Salut untuk Jon Brion di bagian scoring music. Btw, mendengarkan scoring music Punch Drunk Love membuat saya memahami mengapa Paul Thomas Anderson mengajak gitaris Radiohead, Jonny Greenwood di bagian scoring musik di film There Will Be Blood dan The Master. Selera musiknya tampaknya memang seperti itu.

Overview:
Punch Drunk Love adalah genre romantic-drama-comedy yang berbeda. Which is good, good, good. Bagi penyuka drama romantis yang sedikit cheesy (baca : twilight saga) mungkin akan merasa Punch Drunk Love bukan seleranya, namun kalau kamu bisa memahaminya dalam perspektif yang berbeda, kamu akan merasa film ini begitu indah. Paul Thomas Anderson juga mampu menyatukannya dalam banyak sisi: sinematografi, plot, naskah, karakter, musik.. all! Punch Drunk Love memvisualisasikan kenapa kamu ingin berdansa jika jatuh cinta. Adam Sandler juga merupakan star of the show. Ini adalah show-nya yang menunjukkan bahwa sebaiknya kamu tidak hanya mengenalnya sebagai komedian yang mengencani Drew Barrymore di 50 First Dates. 

07/09/12

[Quick Review] 50/50 (2011), Bridesmaid (2011) dan I Love You Phillip Morris (2009)

I'm still continuing my review with a quick-and-easy way. Banyak film yang sudah saya tonton sepanjang liburan kemarin, namun menuliskannya satu-satu reviewnya agak menyulitkan buat saya. Jadi, mari dibaca saja quick reviewnya. Sorry pula kalo film-filmnya so last year . . . . . . literally.

50/50 (2011)


Starring : Joseph Gordon-Levitt, Seth Rogen, Anna Kendrick
Directed by: Jonathan Levine
NikenBicaraFilm: (4/5)

Mengkatagorikan 50:50 sebagai film komedi sebenarnya tidak terlalu tepat. Walaupun ada nama Seth Rogen di sini, namun buat saya 50:50 lebih tepat dikatakan sebuah film drama. Bercerita mengenai kehidupan seorang pemuda 27 tahun, Adam (Joseph Gordon-Levitt) yang harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya baru saja divonis terkena kanker ganas, dan kemungkinan hidup-matinya hanya “50:50”. Ini topik yang cukup sensitif sebenarnya, dan jika digarap secara murni drama, dijamin bisa bikin kamu menangis bombay. Namun Jonathan Levine mengambil pendekatan yang lain, memvisualisasikannya dalam bentuk semi-komedi, walaupun jokes-nya sudah habis kalau kamu sudah lihat trailernya. Akan tetapi yang paling menyenangkan dan membuat 50/50 tampil cukup manis adalah bagaimana film ini begitu jujur dalam mewujudkan kisah yang sebenarnya true-story dari sang penulis naskah (*dan kebetulan berteman baik juga dengan Seth Rogen). Momen-momen lucunya memang kurang dapat, begitu pula sisi dramanya, namun itulah kejujuran – dan ironisnya justsru membuat film ini manis dengan caranya sendiri. Saya sudah pernah melihat JGL di (500) days of Summer, Inception hingga The Dark Knight Rises (10 Things I Hate About You gag masuk itungan ya), tapi di 50/50 ini saya justru malah baru jatuh cinta dengannya. Chemistry-nya dengan Anna Kendrick menurut saya juga tampil cantik dan menawan. Aih. Dan oh ya, perlu dicatat, ini pertama kalinya karakter Seth Rogen tidak seannoying biasanya.

BRIDESMAID (2011)


Starring: Kristen Wiig, Maya Rudolph, Rose Byrne
Directed by: Paul Feig
NikenBicaraFilm: (4/5)

Diproduseri oleh Judd Appatow (raja penghasil film komedi yang menyutradarai Knocked Up, the 40-Year-Old-Virgin), Bridesmaid membuktikan bahwa sekelompok wanita bisa bermain komedi dengan liar, bodoh dan konyol dengan lelucon yang sedikit kasar seperti andalan Judd Appatow. Bridesmaid menceritakan kehidupan Annie (Kristen Wiig), yang berada pada titik terendah dalam kehidupannya, menjadi pengiring pengantin bagi sahabatnya, Lilian (Maya Rudolph) bersama 4 wanita “gila” lainnya. Film ini sendiri merupakan breakthrough career bagi Wiig, yang sebelumnya dikenal sebagai anggota Saturday Night Live (SNL, Steve Carrel dan Tina Fey adalah contoh jebolan SNL). Tidak hanya mampu berakting sedikit bodoh dan mengesalkan, namun Wiig juga mampu membuat Bridesmaid tampil “kacau” berkat naskah yang ditulisnya bersama Annie Mumolo. Clearly, Kristen Wiig is a really star of the show. Memang akan ada banyak lelucon yang kasar dan membuatmu ingin muntah (scene boker di wastafel ini ga akan kamu lupakan seumur hidup), namun lelucon lainnya masih terasa segar dan menyenangkan. Bridesmaid jelas salah satu komedi terbaik tahun lalu.

I LOVE YOU PHILLIP MORRIS (2009)


Starring: Jim Carrey, Ewan McGregor
Directed by Glenn Ficarra and John Requa
NikenBicaraFilm: (4/5)

Setelah menonton Crazy Stupid Love (2011), film yang dibintangi oleh Steven Carrel dan Ryan Gosling, Glenn Ficarra dan John Requa masuk di radar list sutradara saya. I Love You Phillip Morris adalah film yang menjadi debut pertama keduanya dan dirilis 2 tahun sebelumnya. Tema gay di dalamnya mungkin akan membuatmu antipati terlebih dahulu, belum lagi ada nama Jim Carrey yang seringkali aktingnya cukup mengganggu, namun I Love You Phillip Morris tampil dengan sangat lucu dan (seriously) mampu membuatmu terpingkal. Kisahnya terinspirasi dari kisah nyata, Steven Jay Russel (Jim Carrey), seorang con-man dan penipu yang terkenal berkat kemampuannya kabur berulangkali dari penjara di Texas demi bersatu dengan kekasih gaynya Phillip Morris (Edward McGregor) yang ditemuinya di penjara. Ada banyak kecerdikan di sini, akal bulus yang tak terbayangkan, dan mampu membalikkan kesedihan menjadi tawa kencang. Jim Carrey untungnya tampil dengan porsi yang sangat pas, masih “khas” dirinya, namun tidak melewati batasan menyebalkan, dan applaus juga diperuntukkan kepada Ewan McGregor yang bisa menampilkan akting gay dengan sangat meyakinkan. Sedikit disayangkan memang karena gay-content di dalamnya membuat film ini sedikit kesulitan mencari distributor dan hanya bisa tayang di beberapa bioskop, namun I Love You Phillip Morris adalah salah satu komedi dekade ini yang harus kamu tonton!