19/02/17

Split (2017)


"He's done awful things to people and he'll do awful things things to you,"
RottenTomatoes: 75% | IMDb: 7,5/10 | Metacritic: 62/100
NikenBicaraFilm: 3,5/5

Rated: PG-13
Genre: Thriller, Mystery & Suspense

Directed by M. Night Shyamalan ; Produced by M. Night Shyamalan, Jason Blum, Marc Bienstock ; Written by M. Night Shyamalan ; Starring James McAvoy, Anya Taylor-Joy, Betty Buckley ; Music by West Dylan Thordson ; Cinematography Mike Gioulakis ; Edited by Luke Franco Ciarrocchi ; Production company Blinding Edge Pictures, Blumhouse Productions ; Distributed by Universal Pictures ; Release date September 26, 2016 (Fantastic Fest), January 20, 2017 (United States) ; Running time 117 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $9 million

Story / Cerita / Sinopsis :
Tiga orang gadis Casey (Anna Taylor-Joy), Marcia (Jessica Sula) dan Clair (Haley Lu Richardson) diculik dan disekap di sebuah ruang bawah tanah oleh seorang pria misterius, Kevin (James McAvoy). Belakangan diketahui bahwa Kevin memiliki kepribadian ganda - dengan total 23 kepribadian yang telah ia punya. Namun rupanya Kevin masih memiliki kepribadian ke-24, The Beast, yang tampaknya sangat berbahaya...

Review / Resensi :
Boleh dibilang, M. Night Shyamalan adalah sutradara yang sial, karena setiap karyanya akan dibandingkan dengan karya di awal karirnya yang sangat sukses dan twisted itu: The Sixth Sense (1998). Namun ya memang setelah Unbreakable (2000), hampir sebagian besar film-filmnya mendapat kritikan pedas dari para kritikus. terutama karena film-filmnya ga punya plot twist ending yang sama kerennya dengan The Sixth Sense. Apalagi kegagalannya semakin beruntun setelah flop dalam mengarahkan The Last Airbender (2010) dan After Earth (2013). Sempat agak mendingan lewat The Visit (2015), kini tampaknya sutradara Amerika berdarah India itu akan kembali mendapat tempat yang layak lewat Split ini. 


30/01/17

XXX : Return of Xander Cage (2017) (2/5)


RottenTomatoes: 44% | Metacritic : 42/100 | NikenBicaraFilm: 2/5

Rated: PG-13
Genre: Action & Adventure

Directed by D. J. Caruso ; Produced by Joe Roth, Jeff Kirschenbaum, Vin Diesel, Samantha Vincent ; Written by F. Scott Frazier ; Based on Characters by Rich Wilkes ; Starring Vin Diesel, Donnie Yen, Deepika Padukone, Kris Wu, Ruby Rose, Tony Jaa, Nina Dobrev, Toni Collette, Ice Cube,  Samuel L. Jackson ; Music by Brian Tyler, Robert Lydecker ; Cinematography Russell Carpenter ; Edited by Jim Page, Vince Filippone ; Production company Paramount Pictures, One Race Films, Revolution Studios, Roth Kirschenbaum Films ; Distributed by Paramount Pictures ; Release date January 20, 2017 (United States) ; Running time 107 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $85 million 

Story / Cerita / Sinopsis:
Dalam film ketiga dari franchise XXX ini, Xander Cage (Vin Diesel) yang merupakan atlet olahraga ekstrem kembali berperan sebagai mata-mata ketika diminta untuk mencari Pandora's Box yang dicuri oleh komplotan misterius pimpinan Xiang (Donny Yen).

Review / Resensi:
XXX : Return of Xander Cage is fcking awesome!

Ga ding. Saya bohong. It's a really big mess.

Saya tahu XXX series (dan juga sebangsa Fast and Furious series, atau Transfomer), adalah film yang memang sengaja dirancang untuk sekedar menyenangkan dan menghibur penonton, bukan menghibur kritikus. Karena ini, biasanya logika sebaiknya ditinggalkan dulu barang sejenak selama nonton. But anyway, saya ga mencoba jadi sok keren dengan mengatakan bahwa saya hanya menyukai film-film bagus. Saya juga suka kok film-film tolol gag pakai mikir, tapi biasanya berada di genre komedi (White Chicks itu bodoh banget tapi saya udah nonton berulang kali dan tetap ketawa) atau yang romantis-romantis so sweet (as long that movie has a sweet handsome guy and loveable girl protagonist). Jadi faktor bahwa saya nggak terlalu suka film action, apalagi brainless action, sangat mempengaruhi kadar kenyinyiran saya selama menonton XXX : Return of Xander Cage yang super berantakan ini. 

XXX series jelas bukan franchise yang pernah bagus di mata kritikus, tapi cukup menjanjikan di mata produser hingga akhirnya kembali dibangkitkan lagi (dan kayaknya bakalan ada sekuel-sekuel lainnya). XXX kedua - XXX: State of the Union (2005) sebenarnya disebut-sebut memiliki kualitas yang sangat jauh dari pendahulunya, yang sebenarnya juga nggak bagus-bagus banget. Di XXX ketiga ini, 15 tahun setelah XXX pertama, XXX kembali menampilkan jagoan awalnya: Xander Cage yang diperankan oleh Vin Diesel (yang jauh lebih berotot dari sebelumnya dengan suara yang makin ngebass, but still kepalanya masih gundul plontos). Singkat cerita: ia kembali diminta oleh NSA untuk mengambil Pandora's Box (entahlah alat apa ini, pokoknya yang bisa bikin satelit jatuh ke bumi) dari tangan komplotan berbahaya lainnya yang dipimpin oleh Xiang (Donnie Yen). Ia pun terlibat konspirasi yang (sok) rumit tentang siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak. 

Sebagai sebuah film, XXX: Return of Xander Cage ini adalah film yang plotnya asli kacau, maksa, dan nggak solid. Dan sebagai sebuah film pure action, film ini juga ga bagus-bagus banget dan nggak menawarkan action scene yang fantastis. Film XXX ketiga ini memang masih menampilkan adegan olahraga ekstrim ga logis seperti ski dari tiang listrik di hutan-hutan, skateboarding di jalanan, adegan motoran ski di laut, hingga terjun bebas tanpa parasut. Mungkin ini masalah preferensi aja sih sebenarnya, tapi saya sama sekali nggak bisa menikmati adegan-adegan action ini. Memang I'm not really love action movie, tapi salah satu contoh action movie yang bisa bikin saya tertarik adalah Mission Impossible. Why? Karena film itu masih punya unsur menegangkan dengan action scene yang masih keren. Sementara XXX: Return of Xander Cage ini adegan actionnya garing dan membosankan banget sampe nggak ada karakter protagonisnya yang cedera sama sekali. Wtf. 

Selain plot dan adegan action yang nggak masuk akal, saya juga terganggu dengan fakta bahwa betapa XXX: Return of Xander Cage yang disutradarai oleh DJ Caruso dan naskahnya dikerjakan oleh F. Scott Frazier ini berusaha terlalu keras untuk terlihat keren. This is a great movie example of every guy's dream, seperti James Bond versi pria berotot (tapi at least James Bond masih klasik, biarpun saya juga ga suka-suka amat). XXX punya banyak wanita-wanita berbikini, adegan hot yang nggak penting sama sekali (kalo di bioskop disensor sih), cewek keren yang badass dan entah bagaimana bisa tembak-tembakan sambil tetap seksi (hate them so much!), adegan action yang ngarang abiz, dan dialog-dialog sok keren. Sayangnya, adegan sok keren itu disampaikan dengan sangat klise, murahan, kadang nggak nyambung - hingga bikin perut saya mulas sepanjang film. Oh dan klimaksnya hadir pada ending film yang super maksa dan awkward. 

Lalu apa lagi yang salah dari film ini? Saya bermasalah dengan para karakternya. Film ini terlalu punya banyak karakter, namun karakterisasinya kosong. Vin Diesel sama sekali bukan tipe cowok idaman saya, jadi ya begitulah. Donnie Yen paling kelihatan mendingan, dengan aksinya yang menunjukkan kelasnya sebagai martial artist. Lalu kawan-kawan Xander Cage yang lain seperti karakter pelengkap yang berkisar mulai dari gampang dilupakan hingga nggak penting. Kehadiran Deepika Padukone kelihatan jelas sekali hanya sebagai pemanis, Nina Dobrev muncul hanya untuk memberikan dialog lucu, Ruby Rose sebagai karakter perempuan tomboy jagoan. Rory McCann sebagai Tennyson yang paling potensial sebagai karakter eksentrik harusnya bisa dimaksimalkan lagi, namun sayangnya tidak. Ada pula Tony Jaa aktor action Thailand yang lebih mirip seperti tukang salon dan terlalu banyak melakukan salto lebih dari yang seharusnya. Dan yang paling mengganggu adalah karakter Kris Wu (eks personel EXO) yang sama sekali nggak ada gunanya di film ini, dan dia bahkan nggak bisa akting!

Overview:
So this is not a good movie at all. Bahkan untuk dilihat sebagai film action yang nggak pakai mikir, saya merasa sangat kesulitan untuk menikmatinya. Menikmati sih, tapi sambil nyinyir. Action scenenya tidak memberikan efek menegangkan yang dibutuhkan, dengan dialog sok asyik yang bikin perut mulas, karakternya kebanyakan dan banyak yang nggak penting. Plotnya amburadul, kadang maksa dan editingnya berantakan. Saya masih heran bahwa skor XXX di Rotten Tomatoes lebih tinggi dari film Suicide Squad atau BvS. Ini jauh lebih buruk.... Atau mungkin ini masalah selera. Coba yang main Michael Fassbender skornya bisa saya naikin dikit :)


28/01/17

Demolition (2016) (3,5/5)


I mean, haven't you ever wanted to just smash the shit out of something?

RottenTomatoes: 52% | Metacritic : 49/100 | NikenBicaraFilm: 3,5/5

Rated :
Genre : Comedy, Drama

Directed by Jean-Marc Vallée ; Produced by Lianne Halfon, Russ Smith, Molly Smith, Trent Luckinbill, Sidney Kimmel, Jean-Marc Vallée, Thad Luckinbill, John Malkovich ; Written by Bryan Sipe ; Starring Jake Gyllenhaal, Naomi Watts, Chris Cooper, Judah Lewis ; Cinematography Yves Bélanger ; Edited by Jay M. Glen ; Production company Black Label Media, Sidney Kimmel Entertainment, Mr. Mudd ; Distributed by Fox Searchlight Pictures ; Release date September 10, 2015 (TIFF), April 8, 2016 (United States) ; Running time 101 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $10 million
Review / Resensi :

Dari Jean-Marc Vallee, sutradara yang sebelumnya sukses lewat Dallas Buyer Club (2013) dan Wild (2014), Demolition hadir dengan premis melankolis yang biasanya kerap mencuri perhatian saya: how we deal with our loss. Davis Mitchell (Jake Gyllenhaal) adalah seorang investment banker yang bekerja di kantor ayah mertuanya sendiri Phil (Chris Cooper). Suatu hari istrinya Julia (Heather Lind) meninggal dunia karena kecelakaan. Davis pun harus menerima kenyataan pahit tersebut. Namun bukannya bersedih dengan menangis atas kepergian istrinya, kematian istrinya justru meninggalkannya dalam perasaan kosong. Hal ini membuatnya bertanya-tanya apakah ia sesungguhnya mencintai istrinya? Ia kemudian bertemu dengan Karen (Naomi Watts) dan anaknya Chris (Judah Lewis). Lewat mereka, Davis mempelajari bagaimana sesungguhnya perasaannya dan bagaimana ia harus membangun lagi kehidupannya yang baru.

26/01/17

10 Actors And The Real Life Characters They Potrayed

Berikut ini adalah 10 (sepuluh) aktor dan tokoh nyata yang diperankannya melalui film. Ada beberapa yang cukup mirip, namun ada beberapa yang tidak cukup mirip. Akan tetapi dengan bantuan make-up dan hairstyling yang tepat serta kualitas akting yang baik, beberapa aktor di sini sangat mirip dengan tokoh aslinya. Sebagian di antaranya bahkan membuat para aktor ini meraih piala Oscar.

 #1 
CAPOTE (2005)
Phillip Seymour Hoffman as Truman Capote


Phillip Seymour Hoffman berperan sebagai Truman Capote, seorang novelis, dalam film tahun 2005 berjudul Capote. Film ini menceritakan proses Truman Capote menulis novel non-fiksinya yang terkenal, berjudul In Cold Blood, tentang pembunuhan sebuah keluarga yang dilakukan oleh Richard "Dick" Hickock dan Perry Smith. Berkat perannya di sini, Phillip Seymour Hoffman meraih Oscar. 

 # 2 
Che (2008) 
Benicio Del Toro as Che Guevara



Terdiri dari dua bagian, film Che (2008) yang disutradarai oleh Steven Soderbergh ini merupakan sebuah biopik drama dari kehidupan revolusionis Ernesto "Che" Guevara. Che Guevara sendiri diperankan oleh aktor yang lahir di Puerto Rico, Benicio Del Toro. 

 #3 
LINCOLN (2012) 
Daniel Day Lewis as Abraham Lincoln



Berdasarkan foto di atas, kita bisa melihat bagaimana miripnya Daniel Day Lewis dengan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln. Berkat perannya di sini, Daniel Day Lewis memperoleh piala Oscar ketiganya di kategori Best Actor setelah sebelumnya meraihnya lewat film My Left Foot (1989) dan There Will Be Blood (2007).

 # 4 
THE SOCIAL NETWORK (2012) 
Jesse Eisenbergh as Mark Zuckerberg



Film ini memang membuat tokoh pendiri Facebook Mark Zuckerberg tampil sedikit culas dan menyebalkan, namun memerankan Zuckerberg membuat Jesse Eisenberg menjadi salah satu aktor muda yang mulai diperhitungkan. Melalui The Social Network, Jesse Eisenberg bahkan meraih nominasi Golden Globe, BAFTA, dan Academy Awards pada kategori Best Actor. Anyway, terkadang saya merasa bahwa karakternya di sini sebagai "si asshole genius" terlalu melekat - sehingga sulit bagi Jesse Eisenberg sendiri untuk melepaskan karakternya agar bisa menjadi aktor yang lebih versatile. 

 #5 
MILK (2008) 
Sean Penn as Harvey Milk 


Kisah hidup Harvey Milk, seorang aktivis dan politisi gay di California - Amerika Serikat dirilis pada tahun 2008 dan disutradarai oleh Gus van Sant. Harvey Milk diperankan oleh aktor Sean Penn yang tidak hanya cukup mirip secara fisik namun juga memberikan kualitas akting yang sangat menawan dan mengantarkannya meraih piala Oscar. Harvey Milk terbunuh pada sebuah tragedi menyedihkan pada tahun 1978. 

 #6 
THE KING'S SPEECH (2010) 
Colin Firth as King George VI 


Dalam film yang memperoleh banyak penghargaan pada masanya, Colin Firth berperan sebagai King George VI. Disutradarai oleh Tom Hooper dan naskahnya dikerjakan oleh David Seidler, The King's Speech bercerita tentang perjuangan manusiawi King George VI yang harus melawan penyakit gagapnya. 

 #7 
HUNGER (2008) 
Michael Fassbender as Bobby Sands 


Walaupun secara penampilan keduanya memang tidak terlalu mirip, aktor tampan Michael Fassbender memperoleh pengakuan sebagai salah satu aktor terbaik dekade ini dimulai dari perannya sebagai Bobby Sands pada film Hunger. Bobby Sands adalah sukarelawan dan aktivis IRA yang memimpin aksi mogok makan saat dirinya dipenjara. Bobby Sands meninggal pada 6 Mei 1981 setelah melakukan aksi mogok makan selama 66 hari. 

 #8 
LEGEND (2015) 
Tom Hardy as Ronnie and Reggie Kray


Ronnie dan Reggie Kray adalah saudara kembar yang menjadi pimpinan gangster di London pada tahun 50-an hingga 60-an. Legend menceritakan tentang masa kebangkitan dan kejatuhan dua bersaudara ini. Aktor Inggris Tom Hardy didapuk memerankan kedua saudara kembar tersebut. Melalui efek CGI dan kualitas akting menarik dari Tom Hardy, kita dibuat seperti benar-benar merasa ada dua aktor yang memerankan kedua bersaudara kembar yang berbeda karakter ini. 

 #9 
RUSH (2013) 
Daniel Bruhl as Niki Lauda,
and Chris Hemsworth as James Hunt


Disutradarai oleh Ron Howard, Rush menceritakan tentang persaingan antara pembalap Niki Lauda dan James Hunt pada ajang Formula One tahun 1976. Chris Hemsworth memerankan pembalap flamboyan asal Inggris James Hunt, sedangkan Daniel Bruhl memerankan pembalap perfeksionis asal Jerman, Niki Lauda. Untuk perannya di sini, kabarnya Daniel Bruhl harus memakai semacam dental appliances agar tampak mirip seperti Niki Lauda asli. 

 #10 
THE FIGHTER (2010) 
Mark Wahlberg as Micky Ward, 
and Christian Bale as Dicky Eklund



The Fighter (2010) merupakan kisah nyata tentang petinju professional Micky Ward (diperankan Mark Wahlberg) dan saudara laki-lakinya Dicky Eklund (Christian Bale). Christian Bale tampil mencuri perhatian dengan berperan sebagai Dicky Eklund, terutama karena ia harus menurunkan sejumlah berat badannya agar tampil meyakinkan sebagai tokoh yang kecanduan drugs. Perannya ini juga membuat Christian Bale meraih Best Supporting Actor pada Oscar tahun tersebut.

*By the way, artikel ini saya tulis sebagai setoran ke app Baca / Nulis (nulis.co.id). Daripada sayang, sekalian saya jadikan tulisan juga di blog. Jadi maklumin kalau bahasanya main agak formal dan "kalem". 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...