Aquaman (2018) (4/5)


My father was a lighthouse keeper. My mother was a queen. But life has a way of bringing people together. They made me what I am.

RottenTomatoes: 69% | IMDb: 7.7/10 | Metascore: 55/100 | NikenBicaraFilm: 4/5

Rated: PG-13 | Genre: Adventure, Action, Fantasy

Directed by James Wan ; Produced by Peter Safran, Rob Cowan ; Screenplay by David Leslie, Johnson-McGoldrick, Will Beall ; Story by Geoff Johns, James Wan, Will Beall ; Based on Aquaman by Mort Weisinger, Paul Norris ; Starring Jason Momoa, Amber Heard, Willem Dafoe, Patrick Wilson, Dolph Lundgren, Yahya Abdul-Mateen II, Nicole Kidman ; Music by Rupert Gregson-Williams ; Cinematography Don Burgess ; Edited by Kirk Morri ; Production company Warner Bros. Pictures, DC Films, The Safran Company, Cruel and Unusual Films, Mad Ghost Productions ; Distributed by Warner Bros. Pictures ; Release date  December 21, 2018 (United States) ; Running time 143 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $160–200 million

Story / Cerita / Sinopsis :
Arthur Curry (Jason Momoa) lahir dari hasil hubungan terlarang antara Atlanna (Nicole Kidman) - ratu Atlantis, dan manusia biasa Tom Curry (Temuera Morrison). Arthur kemudian terpaksa merebut kekuasaan penerus Atlantis dari tangan adik tirinya sendiri, Orm (Patrick Wilson) yang berencana menyerang daratan bumi.

Review / Resensi :
Buat saya, bagian tersulit dalam menulis review adalah memulai paragraf pembukaan. Dan, yang kepikiran pertama kali setiap me-review film-film DCEU adalah... membandingkannya dengan kompetitor sebelah: MCU. Haha. Banyak orang-orang bilang untuk berhenti membandingkan film DC dengan MCU, karena "katanya" masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi buat saya, mustahil membuat review tanpa membandingkan ye kan? Dari awal, saya merasa DCEU punya pondasi dan visi-misi yang kurang kuat dan ga konsisten. Kayaknya sih karena kalah start, maka DCEU memulai universenya justru dengan film-film yang menggabungkan jagoan-jagoannya (seperti Batman v Superman: Dawn of Justice dan Justice League), alih-alih memulainya dengan membuatkan masing-masing jagoannya sebuah film solo seperti strategi yang dilakukan oleh MCU. Buat saya ini blunder, karena film superhero gabungannya akan punya beban yang luar biasa berat (coba baca review Justice League saya), dan DC dan Warner Bros tidak berhasil melakukannya. DCEU sejauh ini baru membuat senang kritikus lewat film Wonder Woman (2017), yang memang tampil solid dengan misi politis sebagaimana Black Panther (WW mewakili perempuan, Black Panther mewakili ras non kulit putih). Lantas, apakah Aquaman tampil sama bagusnya dengan Wonder Woman?

Secara singkat: Tidak. Aquaman punya beberapa kelemahan yang akan membuat kritikus (dan saya) jadi kurang menyukainya. Walaupun begitu, Aquaman punya banyak hal yang memuaskan penonton dan lumayan membuat saya senang menontonnya (apalagi saya menontonnya dalam format terbaiknya, IMAX). Buat saya Aquaman jelas lebih baik dari film-film DCEU lainnya (selain WW), dan jelas jauh lebih baik dari Venom yang dirilis tahun ini juga.

Apa yang paling menyenangkan dari Aquaman? Film ini membawa keseruan luar biasa yang dijamin  memuaskan penonton. James Wan tahu benar bagaimana menyenangkan fans-fans superhero lewat action scene-nya. Film-film DCEU lainnya seperti Suicide Squad, BvS, dan Justice League tidak punya action scene yang benar-benar keren, namun Aquaman punya banyak action scene yang cukup keren. Dengan kamera yang bergerak simultan, zoom-in dan zoom-out, memutar, kadang mengikuti dari belakang, serta koreografi action scene yang asyik, Aquaman dijamin akan memberikan kegembiraan yang kita idam-idamkan dari film-film superhero. Dan porsi action scene ini juga lumayan dominan pada film berdurasi 2 jam lebih ini. Ga cuma action scene, Aquaman juga punya unsur fantasi yang menyenangkan. Menyenangkan melihat dunia-baru di bawah laut yang futuristik semacam Atlantis versi Aquaman ini. Sebagian orang bahkan menyebut hal ini mengingatkan mereka dengan film Avatar (2012). Dan ketika kamu merasa film ini tidak bisa lebih baik lagi, makin ke belakang film ini makin "ramai" dengan pertarungan akbar full of spectacle yang mengingatkan kita dengan Lord of The Rings versi bawah laut. Awalnya saya sempat pesimis ketika movie-clip trailer Aquaman berdurasi 5 menit dirilis di internet sebelum filmnya ditayangkan, dimana salah satunya menampilkan adegan kejar-kejaran Black Manta dan pasukannya dengan Arthur dan Mera yang super keren. Saya pikir apakah trailer yang dirilis ini sudah menampilkan semua bagian terbaiknya, tapi James Wan sendiri bilang bahwa movie-clip yang dirilis duluan itu belum ada apa-apanya. Dan kurang lebih ia benar.

Hal lain yang paling bersinar dari Aquaman adalah penampilan Jason Momoa sebagai Arthur / Aquaman. Dengan tinggi nyaris 2 meter, rambut gondrong dan bertato, etnis campuran yang unik, tampilan pria alpha-male yang kalo lahir di jaman purba pasti jadi pemimpin suku dan punya banyak istri, sosok Jason Momoa sendiri sebenarnya sudah sangat menarik perhatian. Fotonya bersama bodyguardnya bahkan beredar di internet dengan joke bahwa Jason Momoa lebih kelihatan seperti bodyguard-nya si bodyguard. Terkenal sebelumnya lewat perannya sebagai Khal Drogo, pemimpin suku Dothraki di Game of Thrones, untungnya Jason Momoa menampilkan peran yang berbeda dari Khal Drogo. Sebagai Arthur ia slengekan, sedikit belagu, dengan selera humor tinggi. Ia mengingatkan kita dengan Tony Stark versi berantakan. Kehadirannya di DCEU jelas jauh lebih menarik dari Clark Kent a.k.a Superman yang membosankan dan Bruce Wayne a.k.a Batman yang serius tapi terlihat "bodoh" (beneran Batman di Justice League keliatan ga ada wibawanya sama sekali!). Jason Momoa berhasil memunculkan jagoan baru yang iconic, apalagi Aquaman termasuk superhero underdog yang tidak terlalu dikenal sebelumnya.

Tapi apa yang memuaskan penonton belum tentu memuaskan kritikus. Kurang lebih, Aquaman ini terasa seperti Transformer-nya Michael Bay. Terlalu banyak adegan action dan CGI rawan membuat film jadi berantakan, kacau, lebay, dan bikin capek, dan ini yang terjadi pada Aquaman. Dan saya sendiri entah kenapa juga tidak terlalu menyukai aspek visualnya yang agak kurang berkelas (walau ga separah Justice League sih). Kurang sedap dipandang aja lah. Adegan di Atlantis itu sebenarnya di mata saya juga ga cukup "artsy" (kalau ditanya film superhero yang sedap dipandang itu contohnya Black Panther dan Thor: Ragnarok). Untungnya, scriptnya sendiri biarpun basi, biasa-biasa aja, dan tidak menawarkan sesuatu yang baru, sebenarnya masih cukup solid. Ada banyak karakter yang muncul di Aquaman dan karakterisasi hampir semua tokohnya bisa ditampilkan dengan baik. Visi Orm sebagai villain juga tidak segaring Steppenwolf, dan saya cukup setuju dengannya bahwa sebaiknya bumi daratan dihancurkan saja karena sudah mengotori lautan.  

Berikutnya, ijinkan saya memberikan kritikan yang paling mengganggu saya dan membuat saya merasa Aquaman terasa sangat cheap. SCORING MUSIC! Saya ga cuma ngebicarain soundtrack music Africa-nya Toto yang diremix ulang oleh Pitbull feat. Rhea (yang kemudian dibenci banyak orang dan dianggap penistaan terhadap versi aslinya) atau Everything I Need-nya Skylar Grey di end credit scene yang membuat saya merasa habis menonton film Disney (kurang rock 'n roll lah, kurang Jason Momoa!). Tapi scoring musicnya sendiri secara keseluruhan kurang konsisten, seperti tidak dalam satu film yang sama. Ada bagian yang terasa generik, ada bagian yang bernuansa elektronik ala Daft Punk kala menggarap scoring music-nya Tron: Legacy, dan ada bagian scoring music yang terasa murahan. Contoh yang terasa "cheap": scene ketika Arthur dan Mera terdampar di Sahara sambil bercanda-canda mesra - yang mengingatkan saya dengan scoring music film-film keluarga tahun 90an. Scoring music yang "meh" banget, ditambah visual artistik yang kurang cakep di mata saya, bikin Aquaman di mata saya jadi terasa kurang menarik. Sayang banget.

Overview :
James Wan membawa Aquaman sebagai sebuah film yang tahu benar bagaimana menyenangkan penonton: sebuah parade action scene full CGI yang megah dan seru. Jason Momoa,  dengan faktor "fisik" yang sudah membuatnya tampil menonjol, juga berhasil memunculkan jagoan baru iconic dengan karakter Arthur yang slengekan tapi asyik. Sayangnya, walaupun cukup solid, ceritanya relatif tidak terlalu fresh dan biasa saja, dan dialognya juga ga terlalu spesial. Terlalu banyak efek CGI dan action scene juga membuat Aquaman sedikit lebay dan berantakan, visual stylenya kurang cakep kalo buat saya, dan scoring music-nya.... super mengganggu. Tapi toh segala kelemahan Aquaman tidak menjadikan filmnya tidak layak ditonton di layar lebar. Peduli amat lah apa kata kritikus. 
  

Komentar

  1. Tapi overall bagus lah ya, yang saya masalahin justru ceritanya yang kelewat datar, ,predictable dan transisi scene yg rada kasar di bagian awal,walau ga separah Justice League

    BalasHapus
  2. Menurutku perpaduan black phanter dan thor 1, inspirasinya.

    BalasHapus
  3. Lumauan keren ini filam, cuna kurang greget alurnya, overall okelah..

    BalasHapus
  4. Next penjelasan suspiria yang 2018

    BalasHapus
  5. Sebagai penggemar MCU dan DCEU, sebenarnya DCEU tidak kalah start, hanya saja terburu2, jika kita kesampingakan trilogy Dark Knight dan serial Smallville dan lihat Universenya DCTV dari Arrow yg berkembang terus sampai sekarang (walaupun serial Arrownya sendiri sudah ketinggalan dari segi rating jika dibandingkan serial spinoffnya) bagus banget, dari pengembangan karakyer yg g terburu2, seperti the flash, supergirl, legends of tomorrow, apalagi klo lihat annual crossovernya yg sangat superb, yg disayangkan itu di TV jd bagi khalayak dunia kurang mengenal karakternya, tp DCEU sekarang sudah mengejar kok seperti Wonder Woman, Aquaman dan SHAZAM

    BalasHapus

Posting Komentar

Your comment is always important to me. Share di sini!