12 Years a Slave (2013)


"If you want to survive, do and say as little as possible. 
Tell no one who you really are and tell no one that you can read and write. Unless you want to be a dead nigger,"

RottenTomatoes: 96%
IMDb: 8,1/10
Metacritic: 97/100
NikenBicaraFilm: 4,5/5

Rated: R
Genre: Drama

Directed by Steve McQueen ; Produced by Brad Pitt, Dede Gardner, Jeremy Kleiner, Bill Pohlad, Steve McQueen, Arnon Milchan, Anthony Katagas ; Screenplay by John Ridley ; Based on Twelve Years a Slave by Solomon Northup ; Starring Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Paul Dano, Paul Giamatti, Lupita Nyong'o, Sarah Paulson, Brad Pitt, Alfre Woodard ; Music by Hans Zimmer ; Cinematography Sean Bobbitt ; Edited by Joe Walker ; Production companies Regency Enterprises, River Road Entertainment, Plan B, Film4 ; Distributed by Fox Searchlight Pictures ; Release dates November 8, 2013 (United States); Running time 134 minutes ; Country United States, United Kingdom ; Language English ; Budget $22 million

Story / Cerita / Sinopsis :
Berdasarkan kisah nyata yang diangkat dari memoar Solomon Northrup (Chiwetel Ejiofor), 12 Years a Slave bercerita mengenai Solomon Northrup, seorang freeman dari New York yang kemudian diculik dan dijadikan budak selama 12 tahun di Louisana pada masa sebelum perang sipil.

Review / Cerita :
The first thing that really came up in my mind after watch this movie is: did this really happened? Baah, i know this is a stupid question. Saya sudah pernah mendengar beberapa cerita tentang kekejaman yang diterima para budak kulit hitam di Amerika maupun isu diskriminasi ras pada masa setelah perbudakan, namun tetap saja menonton 12 Years a Slave masih tetap terlalu memilukan untuk disaksikan. Tidak jarang beberapa kali saya harus mengalihkan muka dari layar karena secara vulgar dan frontal Steve McQueen (Hunger, Shame) sang sutradara menyajikan adegan demi adegan yang sangat mengerikan. Perbudakan kulit hitam pada abad ke-19 adalah salah satu sejarah paling kelam yang dimiliki oleh Amerika Serikat, dan 12 Years a Slave dengan baik menangkap esensi sejarah yang menyedihkan itu melalui narasi sang tokoh utama Solomon Northrup (Chiwetel Ejiofor), seorang yang sebelumnya bahagia sebagai pria merdeka, kemudian harus mengalami nasib yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya: menjadi budak. 

Entahlah, setelah menonton ini saya menjadi depresi sendiri karena kisahnya terlalu sadis dan kejam untuk diikuti, dan ini sebenarnya bukan film yang baik ditonton sebelum tidur (setelah menonton ini saya jadi mimpi buruk). Melalui narasi yang sebenarnya terbilang lambat, Steve McQueen menampilkan adegan-adegan suram dan kejam yang dilakukan para majikan terhadap budaknya - yang dianggap selayaknya properti yang bisa diperlakukan semena-mena (bahkan kita tidak memperlakukan kuda dan sapi sekejam ini!). Mulai dari adegan cambukan, budak yang dibunuh dengan cara digantung, hingga bagaimana keseharian para budak yang harus tidur dan mandi bersama-sama. Adegan "penjualan" budak - yang ditelanjangi dan kemudian dipilih-pilih orang-orang kaya bahkan juga terasa sangat menyedihkan. Semua hal yang kemudian membuat saya bertanya-tanya, terlepas dari isu hak asasi manusia yang baru muncul kemudian, apakah orang-orang ini sudah kehilangan simpati dan rasa welas asih sehingga hal ini bisa terjadi? Hingga kemudian saya berharap bahwa mungkin 12 Years a Slave sedikit lebay dan mendramatisir keadaan.

Penyutradaraan Steve McQueen bagi saya begitu luar biasa, karena kita "dipaksa" untuk melahap kekejian itu secara nyata. Steve McQueen juga begitu mahir dalam menggali emosi para aktornya, menampilkannya dengan baik di layar sehingga kita sebagai penonton mampu merasa terhubung dan simpati terhadap perasaan dan apa yang dialami sang tokohnya. Lihat saja adegan ketika Solomon tergantung, dan harus berjinjit supaya tali di lehernya tidak membuatnya mati - Steve McQueen menampilkannya selama beberapa menit, sehingga membuat siapapun yang menontonnya akan merasa tidak nyaman. Walaupun begitu, memang penuturan Steve McQueen yang terbilang lambat agak membosankan untuk sebagian orang, apalagi narasinya tidak memuat sebuah adegan yang benar-benar klimaks dari seluruh ceritanya - namun sekedar penceritaan perjalanan Solomon sebagai budak yang berpindah dari satu majikan ke majikan lain. Namun, memang di ranah inilah 12 Years bergerak, menyajikan sebuah potret buram kehidupan yang menyedihkan dari perspektif seorang Solomon.

Ada isu menarik sebenarnya yang bisa saya telaah selepas menonton 12 Years a Slave. Isu perbudakan sebenarnya bukan isu yang baru dan terbatas pada perbudakan kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika, namun perbudakan juga adalah hal biasa yang ada di berbagai belahan dunia, termasuk pada masa nabi. Isu ini kemudian yang dihembuskan terhadap kontradiksi yang ada pada karakter Edwin Epps (Michael Fassbender) yang menggunakan ajaran agama untuk menjustifikasi kepemilikannya atas budak. Dan melihat kekejaman yang dilakukan oleh para majikan maupun mandor kulit putih terhadap para budaknya juga seperti membuat saya bertanya-tanya tentang sifat natural manusia mengenai kekuasaan. Apakah kekuasaan secara psikologis memang memicu manusia untuk bertindak sesuka hatinya? Melihat para kulit putih ini memaki-maki budak entah kenapa juga membuat saya teringat suatu masa yang disebut pengkaderan, ketika senior merasa "berkuasa" terhadap para juniornya. Hal ini membuat saya teringat quote dari Abraham Lincoln, "Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man's character, give him power.".

Selain penyutradaraan yang menawan dari Steve McQueen dan naskah yang cemerlang dari John Ridley, kekuatan 12 Years a Slave ada pada betapa solidnya kualitas para aktor dan aktrisnya. Dipimpin oleh Chiwetel Ejiofor yang berperan sangat baik sebagai karakter utama, Solomon, yang mampu menampilkan tidak sekedar emosi yang menimbulkan simpati dan rasa kasihan, namun di baliknya ada kekuatan dan kecerdasan. Yang juga tampil tidak terduga adalah Lupita Nyong'o yang belakangan menjadi salah satu fashion icon dunia, yang memerankan karakter Patsey dengan baik walaupun ini adalah akting debutnya. Michael Fassbender, as usual, tampil menawan (dan ganteng) sebagai majikan pemabuk dan sinting. Dinominasikannya Fassbender sebagai Best Supporting Actor boleh dikatakan menjadi penebusan setelah tahun sebelumnya the Academy tidak melirik aktingnya saat memerankan sex-addict di film garapan Steve McQueen juga, Shame. Selain itu, 12 Years a Slave juga didukung oleh aktor dan aktris menarik lainnya seperti Sarah Paulson, Benedict Cumberbatch, Paul Dano, Brad Pitt, hingga Paul Giammati. Yes, 12 Years a Slave has a really great cast! (but clearly putting Paul Dano, Brad Pitt and Michael Fassbender in one frame will make me call every movie has a great cast!).

Jangan dilupakan juga peran sinematografer, penata kostum dan desainer set pada keseluruhan produksi film ini. Setiap gambar di 12 Years a Slave ditampilkan secara artistik dan menawan dengan detail kostum dan set yang luar biasa. Membuat saya berpikir bahwa hampir setiap adegan di film ini layak untuk dimasukkan ke dalam majalah National Geographic. Hans Zimmer yang menangani penataan musik juga membuat mood 12 Years a Slave yang menimbulkan rasa sedih dan mencekam juga terbangun dengan baik, termasuk melalui sentuhan blues dan gospel pada beberapa adegannya. Dan siapa yang tidak merasa miris mendengar Paul Dano menyanyikan Run Nigger Run?

Overview :
Breathtaking. Melalui 12 Years a Slave, sebuah potret gelap mengenai bagaimana kondisi perbudakan di Amerika saat itu direkam dengan sangat detail, gamblang, dan frontal. Steve McQueen dengan luar biasa mampu menggiring emosi penonton ke dalam level paling menyedihkan. 12 Years a Slave juga memiliki ensemble cast yang luar biasa, dengan penghargaan khusus kepada Chiwetel Eijofor, Lupita Nyong'o, dan Michael Fassbender. Desain produksi, kostum, musik dan sinematografi yang maksimal juga membuat 12 Years a Slave layak mendapatkan Best Picture tahun itu. 

~ RANDOM TIPS ~
 Are you feeling depressed after watch this movie?
Maka saya merekomendasikan untuk menonton Django Unchained (2012) milik Quentin Tarantino setelahnya, mungkin itu adalah pembalasan dendam yang setimpal :)

Komentar