On Reflection: TRAIN DREAMS (2025) - Hikayat Pria yang Tergilas Zaman

Saya merasa ada yang membuncah di hati selepas menonton Train Dreams (Clint Bentley, 2025). Perasaan ini sulit dideskripsikan dan dinamakan. Seperti gabungan antara sedih dan terharu - tapi dua kata itupun sepertinya tidak bisa merangkum apa yang saya rasakan. Mungkin "utuh" atau "penuh" adalah istilah yang lebih tepat, tapi itupun masih terasa tidak bisa menggambarkan seluruhnya. 

Selepas menonton Train Dreams, saya dibuang bengong berhari-hari. Rasanya seperti mengendap di kepala dan hati. Ini bener-bener tipikal film yang "saya banget". Tapi, pada awalnya saya seperti kehilangan kata-kata. Seolah-olah emosi ini hanya bisa dirasakan - dan ga cukup bahasa dan kalimat untuk mendeskripsikannya. Atau mungkin saya memang ga ahli mengungkapkannya dalam kalimat puitis - sehingga "memaksakan" diri menulis seperti ini seperti mengkhianati keindahan film ini sendiri. Saya menyadari, bahwa ga semua emosi bisa dibedah, dideskripsikan, dan dianalisis. Kadang emosi hanya bisa dirasakan.

Saya merasa Train Dreams adalah film yang benar-benar cantik. Kamu tidak bisa mengelak betapa sinematografinya (oleh Adolpho Veloso) begitu cantik, musik dari Bryce Dessner (gitaris The National) yang menggugah perasaan, serta suara narator Will Patton yang menenangkan hati (seperti mendengar suara David Attenborough atau Morgan Freeman), dan akting Joel Edgerton yang begitu subtil dan minim ekspresi, tapi juga tetap terasa kuat dan kokoh. Ini benar-benar panggung yang saya rasa sempurna untuk Edgerton, terutama setelah saya jatuh cinta berkat performanya di film Loving yang sangat romantis itu. 

Keseluruhan film Train Dreams terasa begitu puitis. Ini adalah puisi tentang hidup, tentang manusia, tentang dunia yang kita tinggali, tentang waktu, dan tentang jaman yang terus bergerak. Saya baper berhari-hari dibuatnya - mendadak membuat saya melakukan hal-hal mellow yang mungkin terdengar konyol: semacam menikmati sinar matahari yang menyentuh kulit saya, atau mendengar gemerisik angin yang menyentuh dedaunan, atau melihat orang-orang asing yang saya temui di jalanan dengan takjub dan penasaran (bagaimana hidupnya? apakah dia pernah mempertanyakan keberadaannya?). Ini mirip yang saya rasakan selepas menonton American Beauty, dimana saya bisa melihat tas kresek menari terkena angin dan merasa itu pemandangan paling indah di dunia. 

Ah, apakah saya terdengar berlebihan? ataukah perasaan & kesadaran eksistensial ini memang begini bentuknya? 

A MOVIE ABOUT A MAN WHO MIGHT NEVER QUESTIONED

Diadaptasi dari novel Denis Johnson yang masuk nominasi Pulitzer, Train Dreams mengajak kita menyaksikan hidup lelaki sederhana bernama Robert Grainer (Joel Edgerton). Robert Grainer adalah seorang yatim piatu yang tumbuh besar tanpa pernah mengenal orangtua kandungnya, dan bekerja sebagai buruh kasar penebang pohon dan tenaga konstruksi rel kereta api pada awal abad ke-20 Amerika. Grainer bukanlah protagonis heroik, ia nyaris bukan siapa-siapa yang tercatat dalam sejarah. Dirinya menyiratkan universalitas keberadaan kita - yang juga bukan siapa-siapa - sebagai manusia di tengah semesta yang luas ini.

Melalui sudut pandang Robert, Train Dreams secara tidak langsung mengajak saya mempertanyakan eksistensi saya sebagai manusia. Siapa saya? Untuk apa saya ada? Apakah keberadaan saya ini... masuk akal?

Uniknya, pertanyaan-pertanyaan "seram" ini hadir dalam bentuk seorang pria yang mungkin tidak pernah mempertanyakan itu keras-keras. Robert Grainer hanyalah pria sederhaha yang menjalani hidupnya sehari-hari, dengan bekerja semaksimal mungkin dan bertahan hidup di realita yang keras. Robert mungkin tidak pernah merefleksikan ini terang-terangan, atau benar-benar mempertanyakan keberadaannya, atau bahkan kemampuan verbal untuk menamakan perasaan dan pertanyaan yang ia rasakan. 

Di Train Dreams, Clint Bentley dan Adolpho Veloso kebanyakan menyorot wajah Joel Edgerton dari samping, atau menempatkannya agak jauh dalam perspektif lanskap pemandangan yang lebih luas. Kamera jarang menyorot wajah Edgerton secara close up untuk menangkap ekspresinya. Ini seperti usaha agar penonton bisa mengambil jarak dalam mengamati kehidupan Robert Grainer. Kita tidak benar-benar diajak untuk "menyerap" seluruh emosi Robert, tapi hanya mengintip dirinya dari jauh dan menduga-duga perasaannya. Jarak ini juga berfungsi untuk menunjukkan Grainier sebagai titik kecil dalam garis waktu. 

Tapi yang saya suka, Train Dreams tetap mampu mengalirkan emosi itu (dengan cara yang luar biasa indah), sehingga kita masih bisa menaruh empati kita pada karakter Robert Grainer. Di sini, kita tidak diajak "mengasihani" Robert Grainier sebagai lelaki menyedihkan korban nasib yang buruk, tapi sebagai pria kuat terhormat yang mengagumkan dalam kesederhanaannya. Train Dreams seperti tribute bagi sosok manusia tanpa nama (seorang pertapa introver yang mungkin terdengar sedikit "gila" karena menyingkir dari dunia), yang sesungguhnya kehidupannya sama besarnya dengan pendeta yang berkhotbah di depan mimbar. 

The world needs a hermit in the woods as much as a preacher in the pulpit.

TREES & TRAINS: SYMBOLISM OF UNIVERSE AND TIME

Saya melihat Train Dreams dibentuk dari kontras antara mungilnya hidup seorang manusia (Robert Grainer) jika dibandingkan dengan dua raksasa: alam semesta dan waktu. Di sini, pohon dan hutan berfungsi sebagai simbol semesta, dan kereta api yang bergerak adalah simbol mekanis waktu yang terus melaju tanpa ampun.

Kita melihat pohon-pohon di sini tumbang dan ditumbangkan - sebuah metafora bagaimana manusia lahir, tumbuh, dan mati. Pohon yang mati akan berganti pohon yang lain, manusia yang mati akan berganti manusia lain. Kita hanyalah bagian kecil dari dunia yang lebih besar, dingin dan apatis. Setiap manusia berpikir mereka membawa narasi besar tentang dirinya sendiri, tapi eksistensi manusia hanyalah debu di alam semesta, tersangkut di roda zaman.

Dialog Robert dengan Claire (Kerry Condon) mempertegas betapa "kecil"-nya hidup Robert. Dari atas menara pengawas tempat Claire, Robert melihat hutan yang kembali hijau - nyaris tak memperlihatkan bekas kebakaran hebat yang pernah terjadi. Di sini, Robert menyadari kenyataan pahit: lubang besar di hidupnya akibat kematian anak dan istrinya, sesungguhnya adalah titik kecil tak berarti di haadapan dunia dan waktu itu sendiri. Kematian anak dan istrinya (dan kelak termasuk dirinya sendiri) yang menurutnya sebuah tragedi besar, bagi alam hanyalah banalitas dalam siklus alam yang hidup dan mati.

Sepatu boot yang ditancapkan di batang pohon, yang kemudian lapuk dan hancur, adalah penanda kecil manusia yang pernah ada dan kemudian tiada.

Robert lahir di awal eskalasi peradaban dan kemajuan teknologi. Mulanya ia bekerja menebang pohon dengan kapak - lalu ia melihat gergaji mengambil alih. Ia melihat rel kereta api dibangun dan kota-kota tumbuh. Awalnya Robert adalah bagian dari mesin kemajuan itu, tapi dukanya karena kehilangan anak dan istrinya kemudian membuatnya menyingkir, membiarkan jaman melaju melewatinya. Ia kemudian terasing dengan betapa cepatnya teknologi dan peradaban berkembang (mengingatkan saya bahwa di akhir 30an ini saya pun sudah gagap mencoba main tiktok atau aplikasi terbaru 😅).

Di penghujung film, Robert akhirnya mencoba keluar dari gua pertapaannya, menemukan dunia yang sudah jauh berubah dari yang pernah dikenalnya. Bangunan kota yang megah, televisi, dan bagaimana Neil Armstrong bisa menginjakkan kakinya ke bulan. Train Dreams ingin menunjukkan betapa cepatnya peradaban abad ke-20 bergerak, meninggalkan orang-orang seperti Grainier tergilas di pinggiran sejarah.

DEATH: BANALITY OR TRAGEDY?

Pada awalnya, kematian di depan mata Robert Grainier ditampilkan sebagai banalitas yang terjadi sehari-hari. Ia melihat deportasi massal di kotanya tanpa rasa emosional. Kematian pertama di depan matanya ia saksikan lewat seorang pria sekarat yang ia temukan di hutan saat masih belasan tahun. Kemudian, Grainier melihat rekan kerjanya dibunuh begitu saja di depan matanya - tanpa ia benar-benar tahu kenapa (satu kematian rekannya ini cukup membekas karena selama beberapa saat membuatnya merasa dihantui), dan kecelakaan juga menimpa teman-temannya yang lain. Kematian yang kemudian cukup membuatnya sedih adalah ketika ia melihat Arn (William H. Macy) - rekan kerja dimana ia bisa menjalin pertemanan - meninggal setelah tertimpa dahan yang jatuh. Tapi di sini, Grainier masih melihat hidup dan mati sebagai bagian dari statistik alam dan keniscayaan kehidupan itu sendiri. Manusia hidup, tumbuh, mati - tapi dunia tetap ada, dan waktu terus berjalan. 

Tapi kematian berubah menjadi tragedi, ketika melibatkan orang-orang yang sangat kita pedulikan. Robert hancur saat kehilangan anak dan istrinya dalam kebakaran yang melanda hutan tempat tinggal mereka. Di sini, kematian anak istrinya tidak lagi banal, tapi momen tragis yang mengguncang hidupnya. Sejak saat itu, Robert tidak bisa pergi dari tempat yang pernah ia tinggali bersama istri dan anaknya. Robert menyepi dalam sunyi, dari waktu dan jaman yang terus bergerak, memilih untuk hidup bersama bayang-bayang memori yang tidak bisa ia tinggalkan. Hidup Robert kemudian berpusat pada kematian anak dan istrinya - berkhayal mendengarkan suara istrinya kembali, hingga menaruh harapan anaknya masih hidup dan kelak akan kembali. Pertemuan singkat Robert dengan gadis misterius di hutan melambangkan harapan besar yang masih Robert simpan. 

Menarik untuk disinggung bahwa bahwa di buku aslinya, Johnson memasukkan unsur mistis dan superstitious dalam kisahnya (katanya sih more like American Gothic story). Elemen mistis dipakai sebagai cara Robert (di tengah keterbatasan pengetahuannya) memahami apa yang terjadi di dalam hidupnya. Mistik juga menunjukkan bagaimana Robert adalah produk dari era yang masih percaya hal-hal ghaib (sebelum kemajuan teknologi tiba mengubah pemikiran manusia). Di filmnya sendiri, Clint Bentley sepertinya berusaha membuatnya sedikit modern dengan menghilangkan elemen mistis itu dan menggantinya dengan surealisme psikologis. Menurut saya, ini bentuk adaptasi yang lebih baik - karena emosinya menjadi lebih related dan dekat buat saya pribadi, sehingga peak moment di bagian akhirnya sukses bikin saya banjir air mata.

SO DOES LIFE MAKE ANY SENSE? 

Well, my friends. I have more questions than answers, too.

Ada satu kalimat yang begitu kuat menancap di kepala saya kala menonton Train Dreams. Ini momen terjadi ketika Robert bertemu dengan Gladys (Felicity Jones), kemudian mereka saling jatuh cinta, dan Robert meminta Gladys menikahinya. Lalu suara Will Patton sang narator muncul dan terdengar lembut dalam sebuah kalimat sederhana, tapi buat saya luar biasa indah (dan betul-betul romantis): 

"All of sudden, life made sense to Grainier." 


Ini adalah momen dimana kita menyaksikan Robert - yang sebelumnya terombang-ambing dalam dua dekade kehidupannya, menjalani hidup ala kadarnya - mendadak merasa hidup jadi masuk akal dan punya tujuan. Kehadiran Gladys menjadikan hidup punya arti. Gladys menjadi jangkar bagi kapalnya yang selama ini hanya mengikuti arus tanpa tujuan. Ini seperti gentle reminder buat saya pribadi bahwa... bukankah cinta (dari pasangan, anak, keluarga, dan sahabat) yang memang bikin hidup kita yang meaningless ini jadi punya makna dan maksud?

Tapi ketika kita kehilangan ini, apakah hidup jadi punya arti? Untuk apa kita harus merasakan itu dan kemudian kehilangannya?

Kefanaan ini yang membuat Robert kemudian mengasingkan diri. Di sini ia tidak digambarkan marah pada nasib atau pada Tuhan. Ia hanya menjalani sisa hidupnya - tanpa anak dan istrinya - dengan semaksimal mungkin. Ia memilih memegang memori anak dan istrinya, atau harapan anaknya masih ada, sebagai cara masuk akal untuk mempertahankan diri. Robert memang tidak mempertanyakan eksistensi dirinya keras-keras, tapi ia  membuat saya mempertanyakan eksistensi diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya terkoneksi pada dunia yang dingin, asing, dan apatis ini? 

Film ini tidak berusaha memberikan katarsis, atau jawaban tegas selayaknya agama. Train Dreams hanya menghadirkan momen magis, kala Robert Grainier mencoba terbang dengan pesawat. Untuk pertama kalinya ia melihat dunia dari tempat yang jauh lebih tinggi. Ia melihat daratan di bawahnya, dan langit di atasnya - lalu pesawat berputar dan ia kesulitan membedakan mana atas dan mana bawah. Dan pada momen sesaat itu, dengan flashback kehidupan yang berputar dalam benaknya (bayangan dan suara istrinya, wajah anaknya, orang-orang baik yang ditemuinya, hutan tempat ia tinggal dan bekerja, kereta yang melaju) - sejenak ia mampu merasa terkoneksi dengan dunia. Ini jelas bukan momen katarsis yang megah dan memberikan jawab, tapi momen sederhana yang membantu Robert memahami eksistensinya sendiri. Mengingatkan saya untuk sedikit optimis dan bersyukur di ketidakbermaknaan hidup. 

Dan duh...  saya menangis parah di momen ini. Saya bahkan sampai nonton ending Train Dreams ini berulang kali, dan ga berdaya mencegah air mata untuk tidak keluar. Ini salah satu adegan paling cantik yang pernah saya lihat, dan mungkin akan terpatri dalam ingatan saya sampai mati. Kedudukannya kayaknya setara dengan ending film Arrival dan American Beauty yang juga tidak terlupakan buat saya (that two are also my favorite film ALL THE TIME!).

Momen akhir film ini mengingatkan saya tentang hidup saya yang seringkali terasa sureal dan tidak nyata, dengan segala pertanyaan eksistensial yang berkecamuk di kepala. Ini kadang bikin saya butuh memegang sesuatu agar tidak tergelincir pada pemikiran nyaris nihilistik. Rasanya seperti ada sensasi kecemasan menakutkan tentang betapa hidup ini terasa sangat sebentar dan fana. Dimana saya bisa berpijak di kehidupan semacam ini? 

Dan kemudian saya melihat anak lelaki saya, dengan binar mata dan kelakuan anehnya, dan mendadak saya merasakan hal yang sama: bahwa kehadirannya yang membuat cerita saya masuk akal. Suami saya, keluarga saya, sahabat saya, orang-orang baik yang mungkin tidak terlalu saya kenal... koneksi ini yang bikin semuanya terasa masuk akal, atau seenggaknya - layak dijalani? Bahkan terlepas bahwa semua ini fana belaka, ini yang bikin hidup ini.... indah dan patut disyukuri?

"Beautiful, ain't it? Just beautiful..."
"What is beautiful, Arn?"
"All of it. Every bit of it."

Komentar