Sex and the City 2 (2010)


Directed by Michael Patrick King ; Produced by Michael Patrick King, Sarah Jessica Parker, Darren Star, John Melfi ; Screenplay by Michael Patrick King ; Story by Candace Bushnell ; Characters Darren Star ; Starring Sarah Jessica Parker, Kim Cattrall, Kristin Davis, Cynthia Nixon ; Music by Aaron Zigman ; Cinematography John Thomas ; Editing by Michael Berenbaum ; Studio HBO Films, Village Roadshow Pictures ; Distributed by Warner Bros. Pictures, New Line Cinema ; Release date(s) May 27, 2010 (2010-05-27) ; Running time 146 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $100 million ; Box office $305,153,249

Rated: R
Genre: Drama, comedy,
RottenTomatoes : 16% (3.7/10)
Metacritic: 27/100
NikenBicaraFilm: 2/5

Sinopsis:
Mari kembali menikmati petualangan Carrie Bradshaw bersama ketiga teman baiknya, Samantha, Charlotte dan Miranda. Cerita bergulir 2 tahun setelah Sex and The City versi film, Carrie sudah menjalankan pernikahan 2 tahun dengan Mr. Big. Kini mereka tengah memasuki ketidaksepahaman mereka akan arti pernikahan yang mereka jalankan. Sementara itu Charlotte sedang paranoid bahwa suaminya akan tertarik kepada pengasuh anak-anaknya yang seksi dan Miranda pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai pengacara. Di tengah permasalahan tersebut, datanglah Samantha yang mengajak teman-teman baiknya berlibur ke Abu Dhabi. Di paruh dunia lain itulah, ternyata Carrie bertemu dengan Aidan, sang mantan kekasih.



Review:
Sex and The City 2 mungkin bagaikan mimpi buruk bagi kebanyakan orang, dan menjadi mimpi buruk pula bagi Sarah Jessica Parker dan teman-temannya karena memenangkan Golden Raspberry Award sebagai Worst Actress tahun lalu. Menonton Sex and The City 2 memang seperti menonton peragaan busana tante-tante seksi (But wth, saya nantinya ingin pula menjadi wanita paruh baya yang tetap gaul dan seksi seperti mereka!). Sejumlah rancangan desainer-desainer ternama menjadi busana yang dikenakan Carrie dkk, dan itulah yang membuat semuanya terasa berlebihan di mana-mana. Mengenakan baju Dior hanya untuk jalan-jalan ke pasar tradisional di Abu Dhabi? Memakai setelan Valentino ketika memasak kue bersama anak-anak?

Mungkin buat sebagian orang yang menontonnya, terutama para pria yang didominasi oleh hormon testosteron mereka, menonton Sex and The City 2 akan sedikit terasa memuakkan. Karakter keempatnya memang di sini terasa sangat annoying (more more annoying than television series). Apalagi Carrie yang mengenakan busana-busana tak lazim di setiap kesempatan, seperti menonton parade tante-tante seksi yang lupa umur.

Di luar segala bentuk keglamoran yang terasa berlebihan, point kelemahan Sex and The City 2 ada pada sisi cerita yang terlalu melebar kemana-mana. Banyak sekali detail-detail cerita yang gag penting, dan membuat durasinya serasa seabad lamanya (*dan memang seabad lamanya!). Buruknya lagi, konflik yang disajikan serasa melompong, gag penting, dan anti-klimaks. Jauh lebih baik konflik pada film pertamanya yang terasa sedikit lebih berbobot dibandingkan film keduanya ini. Dan ketika semuanya terselesaikan dengan sendirinya, tanpa ada klimaks atau makna yang berarti, parade fashion show tante-tante itu lebih melekat di kepala saya. Ketika Carrie bertemu dengan Aidan di Abu Dhabi, apakah itu memberikan konflik yang berarti? Apparently not at all! Sudah susah-susah mendatangkan Aidan hingga ke Abu Dhabi nyatanya konfliknya melempem. Belum lagi cerita – cerita gag penting tentang Samantha, Charlotte dan Miranda. Luar biasa, betapa seluruh komponen gag penting itu menghasilkan durasi dua jam lebih.

Yang makin membuat Sex and The City 2 semakin parah saja adalah humor-humornya yang well, sedikit terasa rasis. Umat Muslim di Abu Dhabi digambarkan seperti kaum barbar. Dan aksi Samantha terhadap itu semua terasa seperti maniak seks yang gag punya rasa sopan sama sekali.

Tapi apakah saya bertahan hingga akhir film?
Uhh yeeaahh... agak sedikit malu untuk mengakuinya, bahwa sebenarnya saya cukup enjoy menikmatinya. Hahaha. Tetap saja, Sex and The City 2 menjadi semacam sinetron yang konyol namun masih saja ditonton.

Overview:
Sex and The City 2 bagaikan menonton 4 episode serial Sex and The City secara marathon. Akan terasa biasa saja ketika menontonnya di layar televisi, tapi menontonnya di bioskop akan membuang waktu dan uangmu. Kisahnya begitu datar, tanpa klimaks sehingga sekuelnya ini patut dipertanyakan, karena ini adalah sekuel yang tidak perlu dibuat.

Komentar

  1. Haduuh film ini isinya tante" girang salah kostum & iklan produk dimana-mana

    BalasHapus
  2. Jangan stereo type,penilaian anda lebih kelihatan sirik daripada terlihat bijak dalam menilai sesuatu, menurut saya bagus kok ceritanya, itu semua tergantung kepada kebudayaan dan kebiasaan masing-masing individu, masalah berlebihan itu relative, dari sudut mana kita memandang. Menilai sesuatu itu imbangi dengan penilaian baiknya, jangan cuma buruknya, dan saran saya lebih bijak lagi dalam memandang segala hal. Terimakasih.

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!