Captain America : The First Avenger (2011)



Directed by Joe Johnston ; Produced by Kevin Feige ; Screenplay by Christopher Markus, Stephen McFeely ; Based on Captain America by Joe Simon, Jack Kirby ; Starring Chris Evans, Tommy Lee Jones, Hugo Weaving, Hayley Atwell, Sebastian Stan, Dominic Cooper, Neal McDonough, Derek Luke, Stanley Tucci ; Music by Alan Silvestri ; Cinematography Shelly Johnson ; Editing by Robert Dalva, Jeffrey Ford ; Studio Marvel Studios ; Distributed by Paramount Pictures ; Release date(s) July 19, 2011, July 22, 2011 ; Running time 124 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $140 million ; Box office $339,719,952

Rated: PG-13
Genre: Action, Adventure
RottenTomatoes: 78% (6.8/10)
Metacritic: 66/100
NikenBicaraFilm :

Sinopsis:
Awalnya, Steve Rogers (diperankan oleh mantan anggota Fantastic Four, Chris Evans) adalah seorang pemuda kurus kerempeng nan culun yang kerap dibully oleh orang-orang sekitarnya. Namun, hal itu tidak pernah menyurutkan hasratnya untuk maju membela negaranya melawan NAZI dengan berulangkali mengikuti recruitment sukarelawan tentara ke medan perang – yang tentu saja ia harus berhadapan dengan berulangkali penolakan akibat berat badannya yang cuma 45 kg dan sederet penyakit yang kerap dideritanya. Sampai suatu ketika, Rogers bertemu dengan Dr. Abraham Erskine yang memintanya menjadi bagian dari percobaan besarnya. Maka, berubahlah kemudian Rogers menjadi manusia super bernama Captain America dengan lawan utamanya, Red Skull (*benar-benar Red Skulld alam artian harafiah, diperankan oleh mantan Agen Smith – Huge Weaving), antek Hitler yang menciptakan senjata pembunuh berbahaya.


Review:
Sebagai bagian dari mega proyek raksasa garapan Marvel yang rencananya akan didistribusikan oleh Walt Disney Pictures, The Avenger – akan rilis tahun 2012, maka perlulah kiranya bagi Marvel Studios untuk memperkenalkan para anggota The Avenger terlebih dahulu. Kita udah sempat berkenalan dengan Iron Man, Hulk, dan Thor, maka sekarang giliran Captain America (yang sebenarnya sudah pernah rilis sebelumnya di tahun 1990-an), untuk dibuatkan filmnya. FYI, The Avenger adalah versi komik superhero dari The Expendables – film tahun lalu yang mempertemukan aktor-aktor jagoan berotot atau jago kungfu. Apalagi yang lebih menarik daripada menyaksikan superhero kesayanganmu, Iron Man, Hulk, Thor dan Captain America dalam satu frame??

Diangkat dari komik karangan Joe Simon dan Jack Kirby (sebelum Kirby akhirnya berpindah ke saingan Marvel, DC) yang ditulis pada tahun 1940-an, alias di masa perang dunia, maka Captain America adalah superhero yang terlahir di era tersebut. Perlu waktu untuk menerangkan masalalu Captain America, dan perlu kesabaran bagi kita untuk melihat Rogers akhirnya berubah dari manusia kerempeng yang culun menjadi manusia berotot yang ganteng. Tapi apakah Captain America menjadi sebuah film yang membosankan karena kisah pengantar yang cukup memakan waktu? Ternyata, sepertiga bagian awalnya menurut saya jauh lebih menarik dari sisanya!

Dengan mengambil setting perang dunia kedua, saya membayangkan saya akan menyaksikan film yang sedikit berat, tapi seperti layaknya film-film Marvel lainnya yang cenderung lebih ringan dibandingkan film-film garapan saingannya, DC, yang lebih kelam dan dark, Captain America akhirnya menjadi sebuah film mainstream yang ceritanya tetap saja terlalu biasa untuk ditonton. Saya kok merasa bahwa Captain America dikerjakan secara terburu-buru, hanya untuk menjadi sekedar film pengantar bagi The Avenger. *Btw, di film ini kamu bisa lihat bapaknya Tony Stark a.k.a Iron Man. Di luar setting retro yang menyenangkan untuk ditonton, pada akhirnya Captain America menjadi sebuah film superhero yang kurang menggigit untuk ditonton.

Pertama, karakterisasinya kurang maksimal. Bandingkan dengan kehadiran Two Face di The Dark Knight yang entah kenapa membuat saya setengah memahami mengapa ia akhirnya merubah dirinya menjadi villain Batman, atau akting Heath Ledger sebagai Joker yang amazing itu. Red Skull, sang penjahat di film ini, nyatanya tidak begitu menebarkan terror yang cukup menakutkan. Malah, saya mendambakan peran itu sebaiknya diperankan Christoph Waltz. Atau memang sebaiknya dialog Schmidt sebaiknya dibuatnya seotentik mungkin dengan menggunakan bahasa Jerman, alih-alih tetap saja menggunakan bahasa Inggris (*dengan aksen Amrik). Untungnya, Evans mampu merubah citranya dari cowok bengal di Fantastic Four menjadi pria tampan yang culun tapi smart.

Lalu, ceritanya –seperti yang sudah saya katakan sebelumnya – terlalu obvious, mainstream dan banyak sekali dialog dan momen yang terlalu cheesy (*ayolah.. mencium gadis idaman di saat-saat genting??*). Agen Peggy Carter yang menjadi lover Captain juga sekedar menjadi pemanis saja, dan saya cuma bsia geleng-geleng kepala melihat aksi nekadnya yang ikut membantu serangan Sekutu ke markas Red Skull tanpa pelindung kepala dan makeup yang cukup menor. Pun anehnya, di momen-momen yang membutuhkan dramatisasi yang berlebihan serasa kurang ‘dapet’ feelnya. Contohnya *spoiler* saat sang Captain harus menyaksikan sahabatnya tewas karenanya. Persahabatan Rogers dan Bucky yang konon menurut cerita berawal karena keduanya sama-sama anak yatim piatu, juga kurang terlalu ditangkap dari ceritanya. Tapi *spoiler* adegan kematian sang Captain tampaknya cukup membuat trenyuh lah. Sayangnya, saya menyadari bahwa Captain America akan hidup kembali (ya kalo gag hidup lagi mana mungkin dia nongol di The Avenger), jadi momen kematian itu tidak terasa menggetarkan jiwa raga saya.

But, tentu saja di balik kekurangan-kekurangan yang saya paparkan di atas itu, hal terindah dari menyaksikan Captain America adalah melihat transformasi Chris Evans sebelum minum L-Men dan setelah overdosis minum L-Men. Spesial efeknya sangat hebat, dan saya bisa membayangkan separuh penonton wanita di bioskop akan memimpikan Evans (yang berotot) malam itu juga...

Overview:

Menonton Captain Amerika hanya membuat saya kembali merindukan The Dark Knight-nya Nolan,dan memimpikan The Dark Knight Rises yang katanya akan rilis tahun depan. Sayang, dengan perisai canggihnya, Captain America juga masih kalah rock and roll dibandingkan Iron Man. Tapi di lain sisi, sebenarnya Captain America bukan sajian yang sepenuhnya buruk...

Tonton atau tidak?
Tonton.

Fun Trivia
Stan Lee, bos besar Marvel dan creator Spiderman, sepintas muncul sebagai cameo di film ini. Di bagian mana? Cari sendiri... :)

Komentar

  1. Nih film emang berasa kayak cuma buat menuhin timeline Marvel sebelum Avengers.
    Tapi enak bener deh si Steve itu bisa dapet body sekekar itu dalam sekejap :P

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!