Harry Potter and the Deathly Hallows Part II (2011)


Directed by David Yates ; Produced by David Heyman, David Barron, J. K. Rowling ; Screenplay by Steve Kloves ; Based on Harry Potter and the Deathly Hallows by J. K. Rowling ; Starring Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson ; Music by Alexandre Desplat ; Themes : John Williams, Nicholas Hooper ; Cinematography Eduardo Serra ; Editing by Mark Day ; Studio Heyday Films ; Distributed by Warner Bros. Pictures ; Release date(s) 13 July 2011, 15 July 2011 (United Kingdom & United States) ; Running time 130 minutes ; Country United Kingdom, United States ; Language English ; Budget $250 million (Shared with Part 1) ; Box office $1,041,225,686

Genre: Adventure, Kids & Family, Fantasy
Rated: PG-13
RottenTomatoes: 97% (8.4/10)
Metacritic: 87/100
NikenBicaraFilm :

Sinopsis:
Setelah pada film ketujuh, Harry menemukan rahasia mengenai tiga relikui kematian dan mencoba mencari Horcrux-Horcrux Voldemort, pada film kedelapan dan terakhirnya ini, Harry Potter kembali melanjutkan kisahnya untuk mengalahkan Voldemort. Dimulai dari Gringotts, dan berakhir di sekolah sihir : Hogwarts.






Review:
Akhirnya!
Akhirnya saya nonton film ini juga, dan akhirnya Harry Potter berakhir juga. Sebagai seseorang yang lahir di era Harry Potter, saya merasakan kesedihan yang tak wajar seiring dengan berakhirnya kisah Harry Potter di bioskop. Entahlah, saya yang terlalu sensitif atau apa, walaupun sudah membaca Harry Potter ke-7 ini dua kali, dan yang pasti sudah tahu ceritanya seperti apa – termasuk tentu saja tahu bagaimana Harry Potter berakhir, saya tetep aja dibuat nangis dua kali menonton film ini. *spoiler* Kedua tangisan konyol itu waktu melihat bagaimana Ron menangis melihat Fred tergeletak tak bernyawa, serta Lupin dan Tonks yang terbujur kaku, dan yang kedua waktu rahasia Snape terkuak. *spoiler ends*. Uhhh... Mungkin pula saya menangis karena berakhirnya Harry Potter seperti semacam penanda bahwa masa kecil saya berakhir pula. Hahaha... Lebay bangetkah??

Saya bersyukur bahwa babak terakhir Harry Potter ini dibagi 2. Biarpun sebagian kalangan akan mengatakan bahwa Warner Bros sengaja melakukan ini dari segi komersil, namun bagi saya membagi 2 di bagian akhir Harry Potter ini merupakan keputusan yang tepat, sehingga akhir Harry Potter dapat terekam dengan baik, dan memberikan kesempatan bagi para penggemarnya untuk mengucapkan perpisahan dengan baik. *lagi-lagi lebay*.

Namun memang, apa yang Anda rasakan kala menonton Harry Potter pertama dengan Harry Potter terakhir ini akan terasa sangat jauh berbeda taste-nya. Sebenarnya, saya sudah merasakan hal itu dari buku kelimanya, dimana cerita jadi lebih complicated dan mbulet, dan tampaknya terlalu berat bagi fantasi anak-anak kecil. Saya pikir memang seiring bertambah dewasanya Harry Potter, Ron, dan Hermione, dan bertambah dewasanya para pembaca setia Harry Potter, kisah Harry Potter akan tetap selalu nikmat untuk diikuti, namun buat yang baru lahir ketika Harry Potter pertama kali muncul, maka kisah Harry Potter saya yakin bukan diperuntukkan bagi mereka. Walau tentu saja mereka akan tetap senang menonton aksi sihir yang ditampilkan lewat layar bioskop, tapi mereka tetap saja gag akan menikmati dari segi cerita. Nuansa dark, dan penuh kesuraman itu sudah jauh terasa ketika film dimulai dengan logo Warner Bros. Tak ada lagi lagu khas Harry Potter yang ceria itu, yang selalu mengawali setiap filmnya, sebaliknya, nuansa dark dan mencekam itu begitu terasa melalui alunan musik yang sendu dan menyedihkan, nuansa abu-abu dari film, dan tampilnya Dementor-Dementor yang menjaga Hogwarts. Adegan demi adegan juga berlangsung begitu suram. Untung saja, untuk mengatasi kesuraman yang over itu Kloves di bagian naskah memasukkan beberapa unsur komedi yang cukup mampu membuat ketegangan itu kadang menurun.

David Yates, yang telah menyutradarai film Harry Poter sejak film kelimanya – Harry Potter and the Orde of Phoenix – bekerja dengan sangat baik. Memvisualisasikan apa yang kita baca dari buku dengan sangat detail, penuh unsur dramatis – walau tidak dalam kesan berlebihan. Film ini menurut saya mempu menuangkan dengan jujur momen-momen yang ada di bukunya, menjadi cukup menyenangkan bagi para penggemar Harry Potter untuk menghidupkan fantasi mereka akan kisah Harry Potter. Saya dibikin gembira melihat makhluk sebesar naga ditampilkan di layar, melihat makhluk-makhluk Goblin dan Troll, dan pertarungan antara Pelahap Maut dan para siswa serta guru di Hogwarts menjadi semacam fantasi pertarungan seru yang begitu epik untuk ditonton! Mengingatkan saya akan pertarungan di film LOTR. Pun dengan momen menyedihkan ketika akhirnya teka-teki siapa Snape terjawab, saya masih saja dibuat menangis.... Haha. Visual efeknya juga begitu menakjubkan, terutama make-up Voldemort yang membuat saya bertanya-tanya bagaimana cara Ralph Fiennes menyembunyikan hidungnya yang mancung. Alexander Desplat, di bagian scoring music begitu indah membuai kita pada setiap momen-momen penting yang ada. Setiap momen menjadi begitu berkesan berkat iringan orkestra yang luar biasa, dan hal itu bahkan dimulai sejak logo WB itu muncul dari detik pertama! Haha...

Oke, bagi para Harry Potter freaks, *termasuk saya* yang udah baca bukunya, pasti akan merasakan banyaknya bagian yang berbeda yang ada di film dengan yang ada di buku. Saya yakin akan timbul pertanyaan-pertanyaan, “Lho kok gini...?” di sepanjang film, tapi saya rasa hal itu memang murni untuk kepentingan dramatisasi yang merupakan part penting dalam film. Tapi yang hebat, dramatisasi itu cukup jujur untuk disampaikan berdasarkan bukunya, tanpa membuatnya jadi berlebihan dan dibuat-buat. Hal inilah yang membuat saya jadi memaafkan versi film Harry Potter. Walau tentu saja, salah satu guilty pleasure saya melihat Ron dan Hermione akhirnya kissing menjadi momen yang tidak memuaskan buat saya karena menjadi poin yang berbeda dengan yang ada di buku. Haha. Dan oh yaa, saya akhirnya memaafkan dosa Daniel Radcliffe yang menurut saya selalu bermain paling kaku diantara para pemeran lainnya dari seri pertama. Pada bagian akhir ini aktingnya jelas mengalami peningkatan pesat.

Well, berhubung saya menyaksikan versi bioskopnya setelah membaca bukunya, maka kebingungan saya tidak terlalu banyak. Namun yang saya takutkan, buat Anda yang tidak pernah membaca bukunya - *heeelllooo?? ada ya yang belum baca bukunya????*, apakah menonton Harry Potter menjadi kebingungan tersendiri? Apalagi di bagian akhir ini semua tokoh tampaknya muncul semua walaupun perannya hanya makan gaji buta alias cuma muncul di beberapa scene saja – namun cukup krusial. Apalagi dengan banyaknya istilah dunia Sihir yang gag mudah dihafal. Ditambah lagi, di bagian akhir ini Yates tampaknya memang sengaja memfokuskan pada pertarungan itu sendiri, sehingga buat yang belum baca novelnya, film ini bukan saatnya untuk menjawab-jawab dan menjelaskan lagi pertanyaan-pertanyaan akan apa itu Horcrux, gimana masa lalu Dumbledore, apa itu Relikui Kematian. Bagi yang uda baca bukunya dari awal saya yakin gag lupa dan gag akan masalah, tapi buat yang enggak?? You better read those books now!! Saya pikir versi filmnya juga tidak akan cukup emosional buat Anda, karena namanya film yang cuma mampu ditampilkan kurang lebih 2 jam, buku akan lebih memuaskan dahaga Anda akan kisah dan terutama karakterisasi tokoh – tokoh Harry Potter melalui delapan ratus halamannya. Saya menjadi terikat dengan Harry Potter, dan terutama karakter favorit saya: Ron Weasley yang tolol tapi kocak, berkat membaca bukunya. Semuanya jelas lebih tereksplor di sana. Sehingga, saya pikir Anda yang sekedar menonton filmnya akan dengan lebih mudah melupakan petualangan epik Harry Potter ini dibandingkan Anda yang melahap bukunya. Jadi saya katakan lagi: You better read those books now!!

Ahhh...
It all ends.
Akhirnya.
Akhirnya Harry Potter berakhir juga. Cukup menyedihkan buat sayaaa. Seakan-akan masa kecil saya ikut terampas dengan berakhirnya seri yang menghiasi masa ABG saya ini. *lebay-lebay-lebayyyy!!* Novelnya diakhiri dengan baik, dan saya juga cukup puas bahwa filmnya pun berakhir dengan manis. Good bye, Harry Potter, Ron Weasley, and Hermione Granger. Good bye Dumbledore. Good bye Snape. T_T

Overview:
Harry Potter... berakhir dengan sebuah film yang dramatis, namun juga tragis. Membagi dua bagian akhir Harry Potter ini merupakan keputusan yang tepat, dengan duel pertarungan yang menjadi simbol kejahatan versus kebaikan ditampilkan dengan visualisasi yang memuaskan. Ini adalah satu-satunya film Harry Potter yang membuat saya menangis, baik sedih karena kisah pilu yang mengiringi kematian para tokoh-tokohnya yang berkorban untuk hal yang baik, maupun sedih karena akhirnya ditinggalkan oleh kawan kecil saya. Harry Potter and The Deathly Hallows Part II merangkum semuanya dengan porsi yang tepat, dan begitu indah untuk akhirnya mengantarkan penggemar Harry Potter mengucapkan perpisahan kepada jagoan mereka.

Komentar

  1. wah jd penasaraaaaaaan, maklum blm nntn dr yg ke5!

    BalasHapus
  2. wuahhh.. buruan nonton.. dan kudu nonton dari yang ke-5!!

    BalasHapus
  3. Opini jujur gw,
    Film ini tidak jelek, tetapi tidak bagus juga
    Umur gw diatas 30...

    Tapi napa ya banyak skali anak remaja yg terkesan ama nih film

    BalasHapus
  4. Mungkin karena kita hidup di era Harry Potter kali ya bang Pablo... hhehehee...

    BalasHapus
  5. Saya kurang suka dengan seri harry potter terutama saat Yates jadi sutradara dan paling mengecewakan menurutku itu adegan pertempurannya yang durasinya terlalu pendek untuk konklusi setelah 7 film sebelumnya. Andai pihak studio bisa nyari sutradara yang tepat pasti bakalan selevel sama Lord Of The Rings.

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!