Insidious (2011)



Directed by James Wan ; Produced by Jason Blum, Jeanette Brill, Oren Peli, Steven Schneider, Aaron Sims ; Written by Leigh Whannell ; Starring Patrick Wilson, Rose Byrne, Ty Simpkins, Barbara Hershey, Lin Shaye, Andrew Astor, Leigh Whannell ; Music by Joseph Bishara ; Cinematography David M. Brewer, John R. Leonetti ; Studio Alliance Films, Stage 6 Films ; Distributed by FilmDistrict ; Release date(s) September 14, 2010, April 1, 2011 (US) ; Running time 100 minutes ; Country United States, Canada ; Language English ; Budget $1.5 million ; Gross revenue $80,747,165

Rated: PG-13
Genre: Horror, Fantasy
RottenTomatoes: 66% (6/10)
NikenBicaraFilm:
Sinopsis:
Renai (Rose Byrne) dan Josh Lambert (Patrick Wilson) baru saja pindah ke sebuah rumah baru ketika salah satu anak laki-laki mereka, Dalton (Ty Simpkins) terjatuh dari tangga di loteng mereka. Dalton tidak mengeluhkan apa-apa sampai kemudian tertidur dan mengalami koma. Dokter yang mendiagnosis tidak menemukan apa-apa yang aneh dari Dalton dan hal ini membuat Renai dan Josh kebingungan. Bersamaan dengan komanya Dalton, Renai merasa bahwa ada yang aneh dengan rumah mereka, dan ia meyakini bahwa rumah mereka berhantu. Maka Renai dan Josh memutuskan untuk pindah rumah, dan menyadari bahwa di rumah baru mereka, keanehan dan penampakan itu masih saja terjadi...


Review:
Sebenernya, saya agak gag tertarik ketika Insidious pertama kali muncul di bioskop. Walaupun membawa embel-embel sutradara Saw yang kemudian menjadi sutradaranya dan sutradara Paranormal Activity – yang menjadi produsernya, saya pikir Insidious tak ubahnya sebuah film horror klasik dengan tema yang sudah terlalu umum. Tipikal kisah rumah berhantu yang pasti udah familiar lah. Belum lagi theatrical poster-nya yang menurut saya agak terlalu common, membuat saya mikir nih film pasti kayak film Orphan (2009) yang mengecewakan itu... Tapi saya penasaran juga kok banyak movie blogger lain yang ngereview film ini memberikan pandangan berbeda. Rata-rata sih pada muji film ini. Maka dari itu, saya jadi kepengen juga nonton film ini...

Ternyata, ekspektasi yang cukup rendah membuat saya cukup puas menonton film ini. James Wan, sutradara kelahiran Malaysia yang beberapa tahun lalu sukses menyutradarai bagian pertama franchise Saw, begitu baik dalam memasukkan unsur-unsur horror yang sebenernya old-fashioned, tapi tetep aja bisa bikin merinding. Derit rumah kayu, kursi yang bergerak sendiri, buku-buku yang berjatuhan sendiri, penampakan-penampakan misterius. Bener-bener hal yang sudah diterapkan dari dulu sebenarnya untuk sebuah film, tapi James Wan masih saja membuat saya ketakutan di banyak momen – dan membuat para penonton di bioskop berteriak-teriak ketakutan. Tidak banyak memang film horror Hollywood yang bisa sedemikian menakutkannya belakangan ini, mungkin kalah jauh jika dibandingkan film horror Asia dengan tipikal penampakan gadis berambut panjangnya. Tapi Insidious, akhirnya muncul sebagai jawaban. Dengan tema klasik rumah hantu, Insidious menjadi suguhan segar bagi penikmat film horror Hollywood.

Namun, keceriaan saya menonton ini akhirnya perlahan pupus setelah mengetahui twist apa yang sesungguhnya terjadi. Agak tidak puas dengan hasil akhirnya, dan misteri apa sebenarnya menimpa keluarga Lambert. *spoiler alert!*Bersamaan dengan munculnya cenayang dan anggota GhostBuster, serta hantu-hantu yang sebenarnya arwah-arwah penasaran dari alam baka, lalu iblis, saya kemudian menjadi kecewa dengan plot yang ada. Saya tentu aja masih berharap bahwa jawaban yang terjadi melibatkan hantu (ghost), bukan kemudian ternyata melibatkan iblis berwajah merah yang membuat saya jadi gag ketakutan lagi. Mengetahui pilihan akan jawaban misteri yang ada membuat Insidious menjadi semacam film fantasi – seperti membaca sebuah kisah yang ada di majalah Liberty. Terkesan agak gag logis. Hehe. *spoiler end* Saya gag tahu apakah sebagian dari Anda merasakan hal yang sama atau tidak. Dialog-dialognya juga sedikit cheesy menurut saya. Belum lagi hantu-hantu yang kemudian ternyata tidak cukup menakutkan, lebih mirip hantu-hantu ala drakula, zombie dan freddie krueger. Urghhh... a little bit dissapointed for me. Untung saja, walaupun sempat menurun pada pertengahan film (when a mystery revealed), James Wan masih setia dan tetap pintar menyuguhkan suspense dan shocking moment hingga akhir film. Terutama pas Josh berusaha menolong anaknya Dalton di dunia lain itu. Hantunya ada juga yang cukup menakutkan lah pas adegan itu.

Saya mengira bahwa Insidious diinginkan menjadi sebuah film horror yang bernuansa klasik. Mulai dari opening title-nya yang menggunakan font-font klasik, momen nakutinnya, hingga scoring musik-nya. Insidious punya Joseph Bishara yang menangani musiknya, dan cukup bikin kita freaking out dengan musiknya yang cukup bikin merinding walau kadang cukup berisik dan mengganggu. Terutama dengan biolanya yang cukup memekakkan telinga. Saya gag bakal komentarin urusan akting para pemerannya, karena menurut saya biasanya cast pemain gag terlalu berperan beran untuk sebuah film horror. Tapi Patrick Wilson (Watchmen) dan Rose Byrne (Adam) berperan dengan standar yang cukup baik.

Overview:
Sebuah film horror yang mempunyai banyak momen shocking, tapi jangan berharap terlalu banyak akan twist di endingnya...

Komentar

  1. Aaah paruh pertama udah lumayan serem, eh paruh kedua jadi kayak fantasy

    BalasHapus
  2. Udah nonton dan gak anehnya saya gak merasa takut. Mungkin karena nontonnya siang bolong kali ya. Hehe.

    BalasHapus
  3. Pertama kali hantunya muncul di balik jendela kamar si kecil, bikin loncat dari kursi..he, serem nih

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!