Minggu Pagi di Victoria Park (2010)

Directed by Lola Amaria ; Produced by Sabrang Mowo Damar Panuluh, Dewi Umaya Rachman ; Written by Titien Wattimena ; Starring Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Alamsyah, Donny Damara, Imelda Soraya, Permata Sari Harahap ; Music by Aksan Sjuman, Titi Sjuman ; Cinematography Yadi Sugandi ; Studio Pic[k]lock Production ; Running time 97 minutes ; Country Indonesia ; Language Indonesian

Genre: Drama
NikenBicaraFilm:

Sinopsis:
Mayang (Lola Amaria) pergi menyusul ke Hongkong menjadi TKW untuk mencari adiknya, Sekar (Titi Sjuman), yang telah lama tidak pulang dan memberikan kabar kepada keluarganya di tanah air.


Review:
Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya jarang nonton film Indonesia di bioskop. Pertama, film-film Indonesia yang berkualitas masih sedikit. Kedua, kalo saya mau bersabar sebentar, dalam hitungan beberapa bulan film itu pasti uda nongol di layar TV. That’s why, saya agak malas nonton film Indonesia di bioskop. Termasuk pula Minggu Pagi di Victoria Park, film yang meraih banyak pujian dari pengamat film. Gag sampai setahun sejak perilisannya di gedung bioskop, film ini uda tayang di RCTI, walaupun gag tau kenapa kok ditayanginnya jam 11 malem. Astajim, kalah saing kali’ ya ama sinetron-sinetron stupid yang ngambil slot prime-time.

Walaupun ngambil tema mengenai TKW yang bekerja di Hongkong, tapi film ini sendiri gag mengulas mengenai ‘penyiksaan’ para TKW tersebut yang dilakukan oleh majikan-majikan mereka di sana – yang begitu identik dengan berita mengenai TKW yang sering kita denger. Sebaliknya, Minggu Pagi di Victoria Park (MPdVP) - yang kabarnya diproduseri oleh Noe, vokalis Letto, anaknya Emha Ainun Najib - lebih menitikberatkan pada unsur drama itu sendiri. Mengenai hubungan kakak-adik yang gag harmonis, dan bagaimana Mayang yang sebenarnya gag ikhlas untuk mencari adiknya harus berjuang memendam ego pribadinya untuk mencari adiknya yang lagi kesulitan uang itu. Well, sebenarnya secara plot, kisah itu agak datar sih. Konfliknya cenderung sederhana, dan kita penonton pasti udah tahulah bagaimana seharusnya film ini berakhir. Tapi untungnya, Titien Wattimena (Menebus Impian) selaku penulis naskah memasukkan beberapa unsur lain yang menambah semarak konflik yang ada. Walaupun gag berpengaruh secara signifikan terhadap konflik yang dihadapi Mayang versus Sekar, tapi Titien Wattimena memasukkan pula sejumlah permasalahan-permasalahan lain yang kerap terjadi pada para TKW di Hongkong : hubungan sesama jenis, penyiksaan oleh majikan, maupun kredit mencekik yang tak juga mampu dibayar oleh para TKW. Tak lupa, bumbu cinta pun dimasukkan, biar makin afdol filmnya. Unsur-unsur itu memang menambah durasi film, namun tidak mengaburkan konflik utama yang ada di film kok.

Sinematografi MPdVP juga sangat menarik. Yadi Sugandi dengan baik menampilkan pemandangan Hongkong yang gemerlapan dan modern. Saya juga sangat suka bagaimana detail-detail kecil diperhatikan dengan baik, menggambarkan bagaimana kehidupan sesungguhnya para TKW di sana. Contohnya, bagaimana Mayang makan malam satu meja dengan majikannya – hal yang mungkin tidak akan pernah kita temui di negeri ini sendiri. Kemudian, ada pula bagaimana suasana para TKW yang asyik berkumpul di hari Minggu ketika mendapatkan libur satu hari dari pekerjaannya. *Btw, judul film ini sendiri memang mengacu pada aktivitas para TKW di hari Minggu, dimana mereka mendapatkan libur satu hari, dan mereka pun menghabiskan satu hari liburnya di Victoria Park. Tapi agak menarik memang, membaca komentar salah seorang yang mengaku TKW Hongkong di sebuah movie blogger lain yang mereview mengenai MPdVP. Katanya sih beberapa cerita yang dimasukkan di film ini agak tidak sesuai dengan kenyataan, pun detail kehidupan TKW yang ditonjolkan di film ini lebih bersifat negatif dan cuma dialami segelintir TKW aja. Tidak bisa dijadikan sebagai referensi utama yang menggambarkan bagaimana kehidupan para TKW di Hongkong sesungguhnya. Hmmmm.... *sebuah kritikan buat mbak Lola??

Sisi lain yang sangat menonjol mungkin juga adalah digunakannya bahasa dan dialek yang begitu sesuai dengan keseharian mereka sehari-hari. Total, ada tiga bahasa yang digunakan. Bahasa Indonesia, Bahasa Cina, dan juga bahasa Jawa – karena kebanyakan para TKW itu berasal dari Jawa, atau Jawa Timur lebih tepatnya. Berhubung saya orang Jawa, lahir dan besar di Surabaya, menyenangkan sekali melihat film yang dipenuhi dialek khas Jawa Timur-an. Biasanya kan Jawa yang digunakan adalah Jawa Jogja yang cenderung lebih alus, yang sering banget tampil di FTV-FTV, dan bahasa Jawanya selalu agak nanggung. Kayak bahasa Indonesia yang di-medok-medokkan aja. MPdVP punya dialek yang begitu orisinil, begitulah dialek saya sehari-hari di kota yang saya cintai ini. Pun asyik sekali melihat Titi Sjuman ‘misuh’ berulangkali. Hahaha... Ya, memang masih ada bahasa campur-campur di sana-sini sih, tapi itu wajar aja mengingat gag banyak yang ngerti artinya kalo total menggunakan bahasa Jawa. Sayangnya, saya ngerasa bahwa seharusnya film ini punya subtitle supaya penonton bisa ngerti percakapan yang terjadi – terutama pas bahasa Cina ama bahasa Jawa.

Lola Amaria, tidak hanya piawai menyutradarai film ini menjadi sebuah sajian drama yang memukau saya, tapi juga berakting dengan sangat meyakinkan. Terutama dengan pakaian-pakaiannya yang agak ‘murah’, walaupun tentu saja tampangnya masih terlalu intelek untuk memerankan pembantu rumah tangga. Tapi, saya rasa Titi Sjuman mampu mengalahkan Lola Amaria di film ini! Yeah! Titi dengan jago mampu berdialek bahasa Jawa lebih baik daripada Lola. Selain itu, mungkin karena permainan emosi Sekar yang diperankan Titi jauh lebih tereksplor dibandingkan karakter Mayang yang biarpun judes tapi tidak terlalu meledak-meledak. Gag heran kalo Titi Sjuman kemudian menyabet Pemeran Wanita Terbaik di ajang Indonesia Movie Awards (IMA) 2011 kemaren. Selain Titi dan Lola, MPdVP juga punya dua aktor yang berperan dengan cukup baik, yaaa.. si dua Donny itu. Walaupun karakter mereka sebenarnya gag penting-penting amat sih, dan gag dieksplor terlalu dalem. Tapi cukup senang sih melihat Donny Alamsyah yang *ternyata* ganteng juga, dan mahir banget ngomong bahasa Cina. Hihi. *blushing*

Karakter-karakter lain, yang numpang nampang menjadi bumbu-bumbu lain untuk menghidupkan suasana keaslian kehidupan para TKW di sana, justru yang paling menarik untuk disaksikan menurut saya. Sungguh, biarpun bukan karakter utama, tapi merekalah yang aktingnya patut pula untuk dipuji. Tidak ada yang bermain dengan mengecewakan, padahal karakter mereka bukan karakter yang penting, dan bukan pula diperankan oleh aktor-aktris yang uda punya nama. Good Job! Akting yang natural itu yang menjadikan MPdVP menjadi sebuah drama yang begitu real untuk ditonton.

Overview:
MPdVP adalah sebuah film Indonesia yang begitu menarik untuk disaksikan. Sebuah film Indonesia yang benar-benar patut untuk diapresiasi, karena kedalaman cerita yang dibawakan, dan detail-detail kecil yang begitu peka untuk ditampilkan. Sayang sekali bahwa film seperti ini terkatung-katung selama 2 tahun karena Lola mengaku bahwa dia gag punya sponsor yang mau membiayai film berbobot seperti ini. Mungkin sebaiknya saya memulai untuk menyambangi bioskop, menonton film Indonesia yang berkualitas, sebagai bentuk penghargaan kepada para insan perfilman Indonesia yang gag salah arah dan bener-bener ingin membuat film dengan niat yang baik.

*O ya, satu kritikan kepada MPVP mungkin adalah nampangnya Kangen Band yang ceritanya adalah band yang diundang untuk menghibur para TKW di Hongkong. Whyyy??? Whyyy??? Dari sekian banyak band parah di Indonesia, kenapa harus band paling parah yang nongol di sini??? *eh ikut berduka tapi 2 personel mereka masuk penjara*

Direkomendasikan Untuk:
Semua orang Indonesia. Wajib nonton nih bagi yang pada belum nonton!

Komentar

  1. Gak nyangka film ini punya TWIST di endignya menampilkan mega bintang haha

    BalasHapus
  2. ohh,, jadi ini yang movfreak bilang sebuah megabintang... ckckckc... haha

    BalasHapus
  3. why Kangen Band? simple, krn menrut survey Lola sendiri, faktanya Kangen Band memang band yg digemari TKW di sana :)

    BalasHapus
  4. 1.Tanpa konflik yg tampak (pukul2an dan hajar2an, ato mgkin ad definisi yg lain), konflik batin yg disajikan sdh cukup komplex. Bayangin aj jk kita mengalami utang dan beban2 sosial lainny. Pasti galau nyaaris mati, bhkn terjun bunuh diri.
    2. Dr sisi sosial jg menarik. Bs kita tonton bgmn hub antranggta keluarga, konflik sosial dan batin,dominasi laki2,ketergantungan dg neg yg lebih maju,peer group,penyimpangan orientasi sex, hingga cinta.
    Maaf jk ad yg kurng brkenan :)

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!