Insomnia (2002)



Directed by Christopher Nolan ; Produced by George Clooney, Steven Soderbergh, Emma Thomas, Broderick Johnson, Paul Junger Witt, Andrew A. Kosove, Edward L. McDonnell ; Written by Erik Skjoldbjærg, Nikolaj Frobenius (1997 screenplay), Hilary Seitz ; Starring Al Pacino, Robin Williams, Hilary Swank ; Music by David Julyan ; Cinematography Wally Pfister ; Editing by Dody Dorn ; Studio Alcon Entertainment, Section Eight ; Distributed by Warner Bros. (USA), Buena Vista International (UK and AU) ; Release date(s) May 24, 2002 ; Running time 118 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $46 million ; Gross revenue $113,714,830

Rated : R
Genre : Drama, Mystery and Suspense

Rottentomatoes: 92% (7.7/10)
Metacritic : 78/100 (36 reviews)
NikenBicaraFilm:


Sinopsis:
Detektif Dormer (Al Pacino) tiba bersama rekannya Hap (Martin Donovan) di Nightmute, sebuah kota kecil di Alaska, untuk melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan seorang gadis 17 tahun Kay Connel. Dommer kemudian bertemu dengan Ellie Burr (Hillary Swank), seorang detektif muda wanita yang bersemangat yang juga turut membantu melakukan penyelidikan itu. Dormer tampaknya baru saja terkena kasus yang diselidiki oleh provoost, dan rekannya Hap rupanya berencana untuk memberikan testimoni yang memberatkan Dormer, dan ini membuat Dormer marah. Setelah perselihan tersebut, dalam upaya pengejaran pelaku pembunuhan Kay Connel keesokan harinya di tengah kabut, Dormer menembak orang yang diduganya adalah sang pelaku, namun rupanya Dormer menembak Hap, dan kemudian berbohong bahwa itu adalah kesalahan pelaku yang berhasil melarikan diri. Dormer kemudian melibatkan diri dalam persekongkolan dengan sang pelaku, Walter Finch (Robin William) yang melihat kejadian penembakan tersebut. Pada musim itu, matahari tidak pernah tenggelam di Alaska, dan membuat Dormer juga harus berjuang mengatasi insomnianya, yang membuatnya berhalusinasi dan kehilangan fokus.

Review / Resensi :
Setelah mendulang banyak perhatian dan penghargaan berkat film keduanya Memento (2000) yang berkisah tentang seorang pria yang mengalami gangguan kemampuan mengingat, Christoper Nolan (The Dark Knight, Inception), kemudian melanjutkan karirnya di bidang penyutradaraan dengan menyutradarai film ketiganya di tahun 2002, Insomnia, yang merupakan remake dari film Norwegia dengan judul yang sama. Ceritanya sendiri ada yang beberapa diubah dari cerita aslinya, contohnya settingnya gag lagi memakai Norway tapi di Alaska.

Seorang tokoh utama, atau bolehlah dikatakan lakon, boleh jadi adalah subjek dalam sebuah film yang kita ‘percayai’, yang kita ikuti kisahnya sepanjang cerita, dan selalu berharap sebuah happy ending pada si lakon ini. Makanya, lakon is always a hero. Dan kebanyakan hero berhati malaikat. Nah, tapi gimana kalo si lakon ini melakukan kesalahan buruk? ...dan kita sebagai penonton yang baik nan budiman – dipenuhi antara nurani dan keinginan lain – setengah berharap bahwa kesalahan tersebut tidak ketahuan. Detektif Dormer, dalam Insomnia ini jelas telah melakukan kesalahan (*yang tidak bisa saya jelaskan di sini apakah sengaja atau tidak sengaja, karena ini bagian penting dari isi film*) dan kemudian ia berbohong mengenai kesalahan tersebut. Saya sebagai penonton pun kemudian perasaannya dicampur aduk, dan memang berharap bahwa kesalahan itu jangan sampai ketahuan. Walau berlatarkan cerita mengenai detektif-detektifan, kisah ini sebenarnya tidak sekedar mencari barang bukti dan mencari pelaku, tapi kita diajak untuk lebih memahami persoalan yang lain dengan menambahkan permasalahan adanya kesalahan yang dilakukan Dormer dan membuatnya ‘terpaksa’ menyetujui persekongkolan dengan pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Dormer must choose, antara nurani atau reputasi. Tentu saja, perselisihan apa yang terjadi antara Dommer dan rekannya Hap, adalah hal yang akan diungkap pada akhir film dan dibuat untuk membuat kita bertanya-tanya dulu sebelumnya. Insomnia, adalah sebuah thriller yang cerdas.

Sebenarnya, dengan susunan aktor dan aktris kayak begini, Al Pacino, Hillary Swank dan Robin Williams – ketiganya uda pernah ngedapetin piala Oscar semua, bukan sesuatu yang sulit bagi Nolan untuk melakukan tugasnya. Al Pacino jelas bermain dengan baik, terutama aktingnya di akhir-akhir film, ketika insomnianya makin parah. Al Pacino boleh dikatakan adalah ‘nyawa’ dari film ini sendiri. Robin Williams juga bisa menampilkan karakter yang cukup baik, terutama dia cukup bisa melepaskan imagenya sebagai laki-laki baik hati yang biasanya kita jumpai di film-filmnya yang lain. Swank, yaaa... walaupun karakternya di sini memang tidak terlalu cukup dieksplor, tapi mampu lah untuk nunjukin kualitas aktingnya. Nolan juga dengan baik mampu membangun ketegangan dan mengeksplor karakter masing-masing, serta membangun plot dengan sangat baik. Tidak sulit bagi penonton untuk memahami apa yang terjadi. Saya juga sangat oh sangat suka, sinematografi dalam mengambil pemandangan Alaska yang indah. Sangat indah. Dengan pegunungan es dan air terjun, uhhh... seperti negeri dongeng. Apalagi pas adegan-adegan awal ketika Dormer melintasi kristal-kristal es dengan pesawat. Kemudian, berkat dukungan David Julyan di bagian musik – yang membantu Nolan di film-film lainnya seperti Following (1998), Memento (2000), dan The Prestige (2006), film ini menjadi memikat untuk katagori suspense-thriller.

Yaaa.. walaupun film ini bukan filmnya Nolan yang meraih banyak penghargaan, tapi cukup worth it kok buat ditonton.

Komentar

  1. Film Nolan yang plot-nya paling "biasa", soalnya linear gitu. Tapi masih jadi thriller yang bagus

    BalasHapus
  2. my least favorite film from nolan, tapi masih bisa menghibur hehe paling suka sama adegan kejar2an al pacino & robin williams di kayu2 yg ngambang itu, seru!

    BalasHapus
  3. emang kalo dibandingin film Nolan lainnya, kesannya insomnia jadi film yang biasa-biasa aja ya...

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!