Little Fockers (2010)



Rotten Tomatoes : 9%
IMDb: 5,4/10
Metacritic : 27/100
Empire : 2/5

NikenBicaraFilm: 2/5

Rated: R
Genre: Comedy

Directed by Paul Weitz ; Produced by Jane Rosenthal, Robert De Niro, Jay Roach, John Hamburg ; Written by John Hamburg, Larry Stuckey ; Starring Robert De Niro, Ben Stiller, Owen Wilson, Blythe Danner, Teri Polo, Jessica Alba, Dustin Hoffman, Barbra Streisand ; Music by Stephen Trask; Cinematography Remi Adefarasin ; Editing by Greg Hayden, Leslie Jones, Myron I. Kerstein ; Studio Relativity Media, TriBeCa Productions ; Distributed by Universal Studios (North America), Paramount Pictures , DreamWorks (International) ; Release date(s) December 22, 2010 (2010-12-22) ; Running time 98 minutes ; Country United States ; Budget $100 million

Story / Cerita / Sinopsis :

Setelah Meet The Parents (2000) dan Meet The Fockers (2004), Greg Focker (Ben Stiller), kembali bertengkar dengan mertuanya, Jack Brynes (Robert DeNiro).

Review /Resensi  :
Siapa orang paling sial sedunia? Seandainya film ini nyata, saya pikir orang paling sial adalah Gaylord Focker, yang diperankan oleh Ben Stiller. Kesialan itu bahkan telah dimulai sejak ia dilahirkan dunia. Orang tua macam mana yang memberikan nama anaknya Gaylord, dan keluarga macam apa yang bernama Focker? Kesialan ini tampaknya tidak pernah musnah dari kehidupan Greg Focker setelah dua film pertamanya : Meet the Parents dan Meet the Fockers. Kesialan itu bahkan kembali berlanjut pada film ketiga, Little Fockers. Kesialan yang – anehnya – menjadi daya tarik utama sebagai bahan humor.

Sebenarnya, awalnya saya agak ogah-ogahan menonton film ini. Di bioskop pula. Apalagi setelah melihat bagaimana para kritikus film dengan jahatnya menghasilkan angka 9% di rottentomatoes.com. Ternyata, ke’ogah-ogahan’ saya itu terbukti. Para kritikus yang memberikan tomat busuk itu ternyata gag salah. Film ini dari awal sampai akhir adalah rangkaian komedi horor yang murahan. Horor dalam artian sebuah komedi yang luar biasa gagal karena tidak mampu memberikan sedikitpun stimulus untuk mampu membuat saya tertawa. Berikan saja sebuah humor tentang s*ks, ke’lebay’an yang gag penting dan ‘maksa’, dan aneka macam lelucon-lelucon bodoh yang too predictable. Argh... Hangover, bagi saya tetap sebuah comedy yang paling lucu yang pernah saya lihat. (Sulit sekali tampaknya mengalahkan adegan mencuri harimau Mike Tyson!)

Kesalahan pertama, tampaknya sudah dimulai dari judulnya : Little Fockers. Kemudian taglinenya : Kids always bring everyone closer, right?. Saya belum membaca sinopsisnya ketika hendak menonton, alhasil sampai tengah film saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang dimaui oleh sang penulis naskah??? Menilik judul dan taglinenya, apakah film ini tentang bagaimana si anak kembar Focker? Tidak juga. Kisah masih seputar si Greg (alias Gaylord) yang lagi-lagi berantem ama mertuanya. Si twin focker, hanya jembatan penghubung aja yang membuat mertua Gay kembali datang ke peace life si Gay. Tidak ada porsi lebih yang diberikan pada si kecil Focker. Jadi, pemilihan judul dan tagline-nya saja sudah amburadul.

Saya juga bahkan sedikit kesulitan ketika hendak memberikan sinopsis film ini. Tanpa membaca sinopsis film ini dari web lain, saya bahkan sampai sekarang masih meraba-raba apa yang sesungguhnya hendak dikisahkan. Kisahnya sedikit mbulet. Tapi cobalah saya ceritakan:
Si kembar anak Greg (Ben Stiller) dan Pam akan ulang tahun, sehingga mereka berharap kedua kakek nenek mereka bisa datang untuk merayakannya. Jack (mertua Greg alias ayah Pam, diperankan Robert De Niro) sakit jantung, dan merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Ia menginginkan ada generasi baru di keturunannya, dan tampaknya niatnya menjadikan Dr.Bob (menantunya yang lain selain Greg) sebagai penerus harus diurungkan sejak Dr.Bob ketahuan selingkuh. Jack pun kemudian memilih Greg, dan merayunya dengan sebutan Godfocker (-plesetan Godfather. See? Norak banget kan!). Di lain sisi, hadirlah si Kevin, (Owen Wilson), mantan kekasih Pam yang dengan bakatnya yang aneh : atraksi sirkus, maupun ahli totok ajaib, kaya raya dan berpenghasilan baik, datang kembali ke kehidupan Greg dan mengirimkan sinyal-sinyal masih ‘mencintai’ Pam. Di sisi yang lain lagi, ada pula Andi (Jessica Alba), rekan Greg yang cantik dan tertarik dengan Greg – yang jelas hadir untuk memberikan kecurigaan, terutama bagi Jack si father in law. Lhaaaa... masih di sisi yang lain lagi, tampaknya Bernie Focker (Dustin Hoffman), ayah Greg, mencapai masa men-opause dan kemudian pergi ke Spanyol untuk menemukan hasratnya yang terpendam : menari flamenco. Di sisi yang lain-lain lagi, Samantha, si kembar cewek anak Greg menyimpan dendam pada ayahnya dan ogah bicara. Di sisi yang lain-lain-lain lagi, tampaknya Greg harus berjuang menghadapi antara krisis keuangan, dan keinginannya untuk memasukkan anaknya ke sekolah swasta yang mahal tampaknya sangat sulit. Pada intinya, akhirnya Jack merasa bahwa Greg tampaknya tidak pantas untuk menjadi Godfocker.

Jadi begitulah ceritanya. Kayaknya pernyataan awal saya tadi harus saya revisi. Kisahnya bukan sedikit mbulet. Tapi emang mbulet. Atau malah sebenarnya simple aja, seperti yang sudah saya ceritakan di sinopsis, Greg kembali bertengkar dengan mertuanya. Itu aja intinya.

Saya merasa, dengan hadirnya seluruh komponen penambah kesialan Greg (mertua, mantan pacar istri, anak, dkk), Little Fockers diharapkan dapat menjadi pemungkas bagi film-filmnya sebelumnya. Tapi, ini adalah pemungkas yang luarbiasa gagal. Jauh lebih buruk bahkan dari Meet the Fockers, yang disebut-sebut tidak mampu menandingi kesuksesan film sebelumnya Meet the Parents. Sudah ceritanya tidak jelas, guyonannya basi, leluconnya norak. Sungguh sebuah formula yang membuat saya untuk pertama kalinya merasa : “Ternyata film Hollywood gag selamanya lebih baik daripada film Indonesia”. (Eh, maaf saya ralat. Mungkin ini bukan pertama kalinya. Saya pernah merasakan hal yang sama ketika menonton Twilight dan New Moon).

Adegan menyuntik pen*s mertua, kemudian tak sengaja si anak melihat, adalah adegan paling garing yang pernah ada. Ini lelucon paling mudah ketebak sedunia. Bahkan, ada adegan atau percakapan yang sebenarnya berpotensi membuat saya tertawa, jadi rusak karena penulis naskahnya terlalu bodoh untuk merangkai sebuah cerita yang lucu. Ketika sebuah adegan cukup membuat kita mampu tertawa, seharusnya kelucuan itu berhenti saja sampai situ. Tapi penulis naskahnya menambah-nambahi lagi – yang artinya memperpanjang durasi beberapa detik, dan kelucuan itu lenyap seketika. Menjadi sebuah adegan yang gag penting. Memang sih, masih ada joke-joke yang bisa bikin saya ketawa. Tapi itu juga gag membantu sama sekali untuk mengangkat ‘hancurnya’ film ini. Dengan naskah yang demikian, gag salah ketika John Hamburg dan Larry Stuckey (the writers) dinominasikan pada Razzie Award 2011 kemarin.

Saya juga heran, komedian-komedian macam Ben Stiller dan Owen Wilson bahkan tidak bisa membuat saya tertawa. Porsi hadirnya Barbara Streisand dan Dustin Hoffman juga kesannya seperti dipaksakan, hanya hadir beberapa menit untuk berakting yang sama sekali tidak signifikan pada keseluruhan film. Saya ya heran sebenarnya, kenapa pemenang Oscar (Robert de Niro dan Dustin Hoffman) kok mau main di film-film beginian pada akhir-akhir karir mereka. Belum lagi akting ‘annoying’ Jessica Alba. Arghhh... Saya tidak pernah suka sama si nona manis itu, dan dalam hati bersyukur dirinya memenangkan worst supporting actress di Razzie Awards. Hehehe...

Jadi, apakah kekejaman 9% itu beralasan? Sangat

Komentar

  1. alo mbak niken, makasih udah berkunjung di blog guweh. surabaya mana? maybe lain kali bisa nobar film KKD hehe. aku di malang lho. deketan lah sebagai sesama movie blogger jawa timur. keep posting yah :)

    BalasHapus
  2. SOK BGT REVIEW LO, KAYAK BISA BIKIN FILM AJA, NGEHINA DOANG BISANYA, LEBIH BAIK INDO??? PLIS DEH, INDO FILM ESEK-ESEK LO SUKANYA YA?? KWKWWK

    BalasHapus
    Balasan
    1. halah nie iq jongkok main komen2 aj...

      Hapus
    2. Iya, saya sukanya film indo esek-esek. :p

      Hapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!