Lars and the Real Girl (2007)



Directed by Craig Gillespie ; Produced by Sarah Aubrey, John Cameron, Sidney Kimmel ; Written by Nancy Oliver ; Starring Ryan Gosling, Emily Mortimer, Paul Schneider, Kelli Garner, Patricia Clarkson ; Music by David Torn ; Cinematography Adam Kimmel ; Editing by Tatiana S. Riegel ; Distributed by Metro-Goldwyn-Mayer ; Release date(s) October 12, 2007 (2007-10-12) ; Running time 106 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $12 million ; Gross revenue $11,293,663

Score
RottenTomatoes: 81% (120 reviews)
Metacritic : 70/100 (32 reviews)

NikenBicaraFilm:
Sinopsis :
Lars (Ryan Gosling) tinggal di garasi milik ayahnya, pada rumah yang sama dengan kakak laki-lakinya, Gus (Paul Schneider) dan istrinya Karin (Emily Mortimer). Lars seorang penyendiri, dan enggan bergaul dengan orang sekitarnya, bahkan kakaknya sendiri. Suatu saat, Lars kedatangan seorang tamu perempuan. Tamu yang dikatakannya spesial. Dan ternyata tamu itu adalah seorang s*x doll bernama Bianca, yang kemudian dikenalkan Lars sebagai kekasih barunya.


Review :
Oke, saya memang melupakan Ryan Gosling saat perannya sebagai Noah bersama Rachel McAdams di The Notebook. Walaupun filmnya sendiri jelas adalah sebuah film romantis ala Nicholas Sparks yang membuat saya sebagai cewek langsung trenyuh dan tidak mampu mencegah mata ini berkaca-kaca, tapi Ryan Gosling tidak ada pada list saya saat itu. Namun, sejak perannya sebagai Dean di film Blue Valentine, definetely, saya gag mampu menghilangkan pesona Ryan Gosling dari benak saya. Sehingga ketika tidak sengaja melihat DVD Lars and the Real Girl yang dibintangi mas ganteng itu di sebuah toko, gag pake pikir panjang langsung aja deh saya beli.

Premisnya sebenarnya sangat menarik, tentang orang yang jatuh cinta pada boneka. Sebuah kisah cinta yang unik ini memang kelihatan konyol dan gila. Lars and the Real Girl kalau boleh saya katakan dapat disebut sebagai sebuah drama komedik. Beberapa adegannya dapat mengundang senyum dari saya, tanpa terjebak ke sebuah komedi yang murahan. Saya semakin menyukainya, karena cerita yang dibangun tidak pada sebuah cerita yang kira-kira umum akan dilakukan oleh orang. Mungkin, seandainya saya yang punya kuasa untuk membangun cerita, maka cerita yang saya buat akan terkonsentrasi bagaimana perlakuan kasar orang-orang di sekitar Lars akan kegilaan yang dia alami. Tapi, Nancy Oliver (Lars and the Real Girl’s Writer), membangun sebuah kisah yang unik. Tidak hanya Lars yang mencintai boneka cantik itu, tapi rupanya penduduk kota tersebut juga berusaha menerima kehadiran Bianca sebagai warga baru. Karin, sebagai kakak ipar berusaha menerima dengan baik kegilaan Lars, dan meyakinkan suaminya dan warga lainnya untuk mampu melakukan hal yang sama. Olliver, tampaknya berusaha membangun sebuah fenomena yang bisa saja terjadi pada sebuah kota kecil dengan penduduknya yang sedikit. Keramahan, dan ketulusan. Alhasil, film ini menjadi sebuah suguhan yang semakin menarik, walaupun konflik yang dibuat seolah-olah diminimalisir karena tidak ada adegan ‘cacian’ dan ‘makian’ dari orang lain terhadap sang tokoh. Sebuah kisah yang sedikit berbeda mungkin jika dibandingkan film-film lain tentang orang ‘minor’, seperti I am Sam (2000) contohnya. Film ini seolah-olah ingin menyampaikan bahwa kegilaan Lars, bukanlah sesuatu untuk dihakimi, namun sesuatu yang harus dipahami dengan baik.

Craig Gillespie mampu merangkai adegan-adegan yang sangat cantik dan mengharukan, dalam artian yang lebih indah – bukan sebuah melodramatik yang mendayu-dayu ala opera sabun. Lars dengan mudah menjadi sebuah tokoh yang membuat kita jatuh simpati. Tokoh Lars ini sendiri, mampu dihidupkan dengan baik oleh Ryan Gosling. Gosling membuat kita seperti percaya bahwa Lars memang benar-benar mencintai boneka Bianca dan pikirannya sendiri – karena segala percakapan dengan Bianca berasal dari khayalannya sendiri. Gag salah donk, kalau berkat perannya di sini Gosling dinominasikan pada berbagai ajang penghargaan seperti Golden Globe, Satellite Award, Screen Actors Guild Award, dll. Para pemeran lainnya juga menurut saya sudah cukup mampu mengimbangi Ryan Gosling, salah satunya Kelli Garner, sebagai Margo yang menyukai Lars dengan tulus hingga bahkan tidak merasa ilfil ketika mengetahui bahwa cowok yang disukainya mencintai boneka. Emily Mortimer, sebagai kakak ipar Lars – Karin Lindstorm juga bermain dengan cukup baik. Kehadiran Patricia Clarkson, - yang terakhir kali saya lihat sebagai ibu asyik di Easy A – sebagai dokter Dagmar yang merawat Lars dan bonekanya, tentu saja juga cukup mencuri perhatian.

Buat yang berotak mesum dan aneh, jangan membayangkan adegan porno antara Lars dan boneka. Karena hal itu tidak bakalan Anda jumpai (*saya ya gag bisa membayangkan jika semisal adegan itu benar-benar ada. Jelas itu akan menodai keindahan film ini!). Tanpa adegan weird s*x scene, film ini menjadi cukup layak untuk ditonton segala usia.

Best Scene :
*SPOILER ALERT! WARNING! JANGAN DIBACA KALAU TIDAK INGIN MENGETAHUI BAGAIMANA FILM INI BERAKHIR!*
Ketika Lars merawat bonekanya yang ‘sakit’, dan menjaganya semalaman sampai kemudian ia menemukan bonekanya ‘meninggal dunia’.

Nominations and Awards :
* Academy Award for Best Writing (Original Screenplay) (nominee)
* Golden Globe Award for Best Actor – Motion Picture Musical or Comedy (Ryan Gosling, nominee)
* Satellite Award for Best Picture — Musical or Comedy (nominee)
* Satellite Award for Best Actor — Motion Picture Musical or Comedy (Ryan Gosling, winner)
* Satellite Award for Best Actress — Motion Picture Musical or Comedy (Emily Mortimer, nominee)
* Satellite Award for Best Original Screenplay (nominee)
* Screen Actors Guild Award for Outstanding Performance by a Male Actor in a Leading Role (Ryan Gosling, nominee)
* Writers Guild of America Award for Best Original Screenplay (nominee)
* National Board of Review Award for Best Original Screenplay (winner, tied with Juno)
* Broadcast Film Critics Association Award for Best Actor (Ryan Gosling, nominee)
* BFCA Critics' Choice Award for Best Writer (nominee)
* Chicago Film Critics Association Award for Best Actor (Ryan Gosling, nominee)
* Chicago Film Critics Association Award for Most Promising Director (nominee)

Komentar

  1. film drama-komedi-romance dengan cerita yang bagus dan sangat menyentuh.

    memorable scene yg saya inget :
    ketika Lars maen bowling bareng Margo, ia dan Margo saling curi pandang (sadar bahwa mereka ternyata saling suka), diiringi musik biola yg pas banget. =)

    tp scene yang paling menyentuh buat saya, yaitu:
    ketika Bianca "ceritanya" dah mau meninggal, n masuk rumah sakit, ternyata yang merasa (bakal) kehilangan bukan cuma si Lars, tapi seluruh warga kota kecil itu. menyentuh banget tu scene.

    setuju banget, lewat ketulusan warga kota yang mau menerima Lars apa adanya, film ini ingin menyampaikan bahwa kegilaan Lars, bukanlah sesuatu yang kudu dihakimi, namun sesuatu yang harus dipahami.

    btw, nice review !! -salam movie mania- =)

    BalasHapus
  2. tengkyuuu!! :)

    iya, tuh scene emang menyentuh banget... :(

    comment2 lagi ya di review lainnn...

    BalasHapus
  3. gw udah lama pengen nonton film ini, karena temanya yang tergolong jarang tetapi (sepertinya) dieksekusi dengan baik oleh sang sutradara. entahlah, gw suka film-film yang ga terlalu populer tetapi justru (katanya) berkualitas baik seperti film ini. tetapi setelah baca review ini, makin mantap kayaknya bahwa film ini memang beneran punya kualitas.

    nice review :)

    btw, salam kenal ya... boleh tukeran link? meonthemovie.blogspot.com
    trims :D

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!