Hereafter (2010)


“Each of us wonders what awaits us after life?”

Directed by Clint Eastwood ; Produced by Clint Eastwood, Kathleen Kennedy, Robert Lorenz, Steven Spielberg (executive) ; Written by Peter Morgan ; Starring Matt Damon, Cécile de France ; Music by Clint Eastwood ; Cinematography Tom Stern ; Editing by Joel Cox, Gary D. Roach ; Studio Kennedy/Marshall, Malpaso Productions, Amblin Entertainment ; Distributed by Warner Bros Pictures ; Release date(s) October 22, 2010 ; Running time 129 minutes ; Country United States ; Language English, French ; Budget $50 million ; Gross revenue $103,846,941

Genre :
Drama
RottenTomatoes: 48% (6.1/10)
Metacritic : 56/100
NikenBicaraFilm:

Sinopsis :
Sebuah film yang terangkai dari tiga cerita. Kisah pertama, adalah seorang Marie Lelay (Cecile de France), yang pada saat liburannya di Thailand terkena tsunami dan mengalami mati suri sebelum akhirnya tersadar kembali. Pengalaman hidup setelah mati ini kemudian mempengaruhi karir dan kehidupannya ketika ia kembali ke Perancis. Kisah kedua, adalah George Lonagan (Matt Damon), seorang psychics yang mampu berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal dan berusaha keluar dari bakat yang justru dianggapnya sebagai kutukan. Kisah ketiga, adalah Marcus di London, yang tak mampu melupakan rasa kehilangannya setelah ditinggal saudara kembarnya Jason.


Review :
Pada jajaran pemain, terdapat nama besar Matt Damon. Kemudian sebagai sutradara dan produser : Clint Eastwood. Dan bahkan Steven Spielberg ikut menjadi excecutive producers. Penulis naskah adalah Peter Morgan, yang sebelumnya dikenal lewat beberapa filmnya seperti The Damned United, State of Play, dan Frost/Nixon. Ditambah dengan premis yang demikian, mengenai kehidupan setelah meninggal, wajar jika hal itu membuat saya membayangkan bahwa film ini akan menjadi sebuah tontonan yang menarik. Kehidupan setelah mati? Tidak ada lagi misteri yang paling membuat semua orang di seluruh dunia penasaran selain misteri ini. Sebelumnya, pada Titik Hitam (2002), sebuah film produksi Indonesia yang dibintangi Winky Wiryawan, kehidupan setelah mati menjadi sebuah tema yang diangkat dengan bumbu film horor. Hereafter, mengangkat tema yang sama dengan bumbu film drama. Sayangnya, Eastwood dan Peter Morgan, kebanyakan memberikan bumbu drama. Akibatnya, tema hereafternya-lah yang sekedar bumbu, bukan sebuah tema utama yang layak untuk dijadikan judul cerita.

Durasi film ini (129 menit), bagi saya terlalu panjang. Terlalu panjang dengan jalan cerita yang sangat lambat, permainan standar para aktor dan aktrisnya (bahkan Matt Damon sendiri bermain dengan biasa-biasa saja di sini), penggalian karakter yang dangkal, dan sebuah kisah yang membosankan. Herafter seharusnya jadi sebuah tema yang menarik untuk diangkat, tapi seperti yang sudah saya bilang barusan, tema itu bukan sebuah tema utama yang dibahas. Pada kisah pertama, menceritakan Marie Lelay yang mengalami mati suri. Nyatanya, kisah yang dipaparkan lebih ke bagaimana obsesi tidak jelas Marie ini menyebabkan ia mengalami kemunduran pada karir dan percintaannya. It seemed booring, right? Pengalaman mati suri itu sendiri tidak banyak dibahas. Kisah kedua, tentang seorang paranormal yang mampu berkomunikasi dengan orang mati, sisi drama si George yang lebih banyak diceritakan. Tentang bagaimana ia berusaha keluar dari bakatnya yang menurutnya bukan sebuah bakat yang membahagiakan buat dirinya. Bukannya membahas tentang aspek hereafter itu sendiri, tapi akhirnya kita justru diajak bersimpati kepada sosok George yang membenci bakat yang diberikan Tuhan kepadanya ini – dan membuatnya terus-terusan bermasalah di bidang percintaan. Arghhhh... jadinya hanyalah sekedar drama tidak menarik dengan ‘hereafter’ sebagai sebuah korelasi antara ketiga tokoh.


Kalau boleh saya berpendapat ya, sebagai sebuah film drama, film ini menjadi sebuah drama yang mampu dengan baik meninabobokkan saya. Tampaknya Clint Eastwood gagal mengeksekusi film ini dengan menarik. Tidak ada permainan emosi di sini. Terutama di kedua kisah awal. Gag ada yang namanya emosi saya dibikin tercampur aduk...

Nah, tapi saya rasa untuk kisah ketiga, film ini baru benar-benar berhasil membuat emosi saya tercampur aduk. Sebuah kisah tentang seorang anak kembar yang saling bergantungan, kemudian salah satunya harus meninggal, dan saudara kembarnya tak mampu melupakan rasa sedihnya dengan terus merindukan saudaranya yang meninggal? Ah.. sebuh formula yang tepat untuk mampu membuat saya menangis. (*Sumpah, saya nangis dua kali untuk kisah ketiga ini! – Whatever, anggaplah saya cengeng...). Tapi sayang beribu sayang, pemeran Marcus (Frankie McLaren) kayaknya tidak terlalu berakting dengan baik. Susah kali ya cari anak kecil kembar yang jago akting. Tapi konon Eastwood memang sengaja mencari aktor cilik yang tidak pernah berakting sebelumnya.

Kalo saya punya ‘hak’ untuk menyarankan kepada kakek Eastwood dan Peter Morgan, seharusnya kisah ketiga ini yang mampu menjadi inti utama cerita ini. Gag perlu lah ada kisah Marie yang mengalami mati suri. Sungguh, kisah pertama itu membosankan dan gag seru sama sekali. But, as your information, Hereafter sendiri sempat mencuri perhatian ketika masuk nominasi oscar untuk katagori best visual effect (bertanding dengan Inception dkk). Visual effect tersebut digunakan untuk menciptakan adegan tsunami, dan visual effectnya memang mengagumkan. Saya pikir, inilah gunanya kisah pertama diceritakan di film ini. Kalo gag ada cerita tentang seorang wanita yang tenggelam akibat tsunami, mungkin film ini nggak akan kedengaran gaungnya di ajang piala Oscar.


Selain datarnya plot, lambatnya film ini berjalan, dan banyak adegan-adegan yang gag penting, saya juga merasa suara musik di sepanjang film ini membuat saya terganggu. Entahlah, saya gag mampu mendeskripsikan alasannya dengan jelas. Hehe. Tapi saya merasa menonton film ini seperti berada pada sebuah restoran dengan hiburan musik instrumen yang dimaksudkan untuk menghibur pengunjung, tapi nyatanya ketika dimasukkan ke sebuah film jadinya malah annoying dan nggak ‘pas’. And hello??? Saya baru sadar bahwa penata musiknya adalah sang sutradara sendiri : Clint Eastwood. T_T

Hmm.. masih berminat menonton film ini? Tonton aja kalau Anda mau merasa bosan. Saya rasa opa Clint Eastwood gagal kali ini.

Tidak direkomendasikan untuk:
Anda yang tertarik menonton film ini karena tema ‘hereafter’. Seriously, soal tema after life? Titik Hitam masih lebih seru. Ini hanyalah film drama dengan bumbu ‘hereafter’. Bukan tema ‘hereafter’ dengan bumbu drama.

Komentar

  1. Cerita pertama emang nggak penting, melenceng dan bosenin. Tapi ya emang kepake buat nampilin efek tsunami itu. Banyak banget potensi yg sia-sia ni. Tumbenan film si opa Eastwood nggak berkesan

    BalasHapus
  2. saya belum pernah nonton filmya sih.. mw beli tapi gak jadi2..tapi dengan ada nya review ini saya tahu filmnya seperti apa,, thanks

    BalasHapus
  3. terima kasih atas tanggapannya...

    @movfreak : hehe. iya. padahal adegan tsunaminya sudah dahsyat banget, tapi setelah itu ceritanya jadi bikin kita ngantuk...

    BalasHapus
  4. amat jarang clint eastwood bikin film yang buruk, coba liat Mystic Rivers, Letter from Iwo Jima atau Gran Torino, n Of course, Unforgiven..itu semua kaliber oscar. tapi buat hereafter, tampaknya kita harus mau berfikir tentang makna di balik film itu, saya cenderung mengatakan ni bukan tentang hereafter tapi tentang near-death experience dan hubungan emosional..bahwa setelah bersentuhan dengan kematian kehidupan seseorang bisa berubah. cuman, yah...i have to admit, penuturannya terlalu lambat dan banyak adegan yg ga terlalu penting. film drama yang tidak mampu mendramatisasi emosi penonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeaah.. menurut saya hereafter adalah film yang membosankan. Saya pikir kisah Matt Damon dan si cewek sangat tidak penting dan tidak berkesan.. satu-satunya yang membuat saya begitu sedih adalah cerita ketiga tentang dua anak kembar itu. Rasanya menyakitkan sekali menontonnya...

      Hapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!