[SPOILER REVIEW]
Selesai menonton The Worst Person in The World-nya Joachim Trier, saya merasa seperti idiot karena ada pertanyaan besar menggantung di kepala: "Dimana bagusnya film ini???". 😢
Saya ga bisa bilang saya bosan dengan filmnya (saya asyik aja ngikutin ceritanya), tapi saya merasa filmnya tidak meninggalkan kesan apa-apa. Saya sadar kesalahan pasti ada pada diri saya, mengingat kritikus mencintai film ini dan sinefil mengagung-agungkan film ini. Banyak yang menyebut film ini begitu related dengan kegamangan hidup quarter life crisis, tapi entah kenapa saya tidak merasa terkoneksi dengan konflik Julie, protagonis utamanya. Ketika banyak orang feel related dengan kisah hidup Julie, saya malah sibuk mempertanyakan apakah film ini mencoba meromantisir perselingkuhan???? (Anyway, technically Julie... ga cheating?).
Jujur, butuh waktu agak lama (dan bantuan ChatGPT & Gemini sebagai "mentor"), untuk membuat pemahaman film ini mengendap di kepala. Saya terbiasa merasakan emosi film dahulu baru memahaminya pelan-pelan, tapi dalam kasus The Worst Person in the World, saya butuh untuk memahaminya dulu baru bisa merasakannya. Saya pun sampai nonton dua kali untuk berusaha benar-benar "get-it" dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Joachim Trier (+dan Eskil Voght, as scriptwriter).
(Btw, PR saya berikutnya adalah Sentimental Value, dimana saya juga ga merasakan apa-apa selepas nonton filmnya huhu - what is wrong with me? 😢).
WHY I FEEL LOST (IN THE BEGINNING)
Agaknya, ada beberapa hal yang bikin saya kesulitan memahami filmnya. Pertama, The Worst Person in The World melakukan pendekatan utama yang sangat realis (walaupun ada 2 adegan sureal-imajinatif dalam film ini - salah satunya adalah adegan super cantik dimana Renate Reinsve berlari mengejar Herbert Nordrum di kota Oslo yang waktunya berhenti). Film ini juga kebanyakan dibentuk melalui percakapan antar karakter yang awalnya saya ga ngerasa itu penting-penting banget. Baru setelah menonton untuk kedua kalinya (dimana saya mulai bisa mencerna film ini), saya baru menyadari bahwa hampir setiap dialog yang ada itu punya maksud. Film ini mencoba untuk bicara banyak hal melalui dialog-dialognya.
Kedua, film ini disusun menjadi 12 bab (plus prolog & epilog). Ini sebenarnya adalah pendekatan yang unik, seperti membaca episode dan bab kisah hidup Julie. Tapi pada awalnya, ini bikin filmnya terasa sangat "episodik" dan terputus. Contoh, ada satu bab dimana Julie tiba-tiba menjadi writer berbakat ketika menulis soal oral seks dan feminisme, tapi di bab berikutnya kita tidak melihat Julie melanjutkan kemampuannya itu. Atau, ada satu bab dimana Julie menonton Aksel, sang mantan kekasih, dituduh misoginis di siaran televisi, dan saya merasa subplot ini tidak berhubungan dengan bagian selanjutnya. Saya tahu semua bab pasti punya makna penting, tapi awalnya saya beneran ga paham apa relevansi setiap bab dengan keseluruhan kisahnya?
Ketiga, pada mulanya karakter Julie tampak sangat pasif di mata saya. Saya merasa film ini seperti hendak membicarakan "krisis", tapi penyampaiannya sangat subtle dan seolah nyaris tidak terasa seperti krisis. Baru di kali kedua nonton, dimana saya berusaha lebih peka "membacanya", saya mulai bisa melihat bagaimana krisis itu dibentuk: melalui pandangan kosong Renate Reinsve dan ekspresinya kala menerawang jauh. Kita diajak masuk ke isi pikiran Julie - ke kehampaan, kebingungan, kecemasan yang dia rasakan - hanya lewat ekspresi Renate Reinsve.
Film ini bahkan dibuka dengan siluet tubuh Renate Reinsve dari samping, dengan pemandangan cantik kota Oslo di belakangnya. Awalnya, saya mengira ini hanyalah "kepentingan estetik" yang memanfaatkan tubuh Renate Reinsve yang emang oke punya dan bikin saya iri setengah mati (I mean, LOOK AT HER!!). Tapi rupanya, ini adalah cara Trier menyimbolkan film ini sendiri dalam satu shot: seorang perempuan muda di hadapan dunia membentang, yang sedang bertanya-tanya tentang apa yang seharusnya ia lakukan.
THE KEY TO UNDERSTAND
Setelah selesai menonton dan menemukan diri ini ga paham film ini bagusnya seperti apa, saya seperti berusaha menggali dan mencari satu kalimat kunci untuk membuka pemahaman saya tentang film ini. Saya tahu ini film bagus, tapi seperti.... something is missing dan saya ga tahu itu apa. Saya sih sudah tahu kalimat kunci dasarnya: coming of age story dari cewek akhir 20-an yang tengah mencari jati diri, yang proses pencarian ini menyakiti orang yang mencintai dia Tapiii... saya kesulitan menemukan benang merah keseluruhan makna filmnya. Misalnya, apa maksud adegan sureal Julie menjadi tua dan menyusui anak? Apa maksud monolog Aksel ketika Julie menemuinya di rumah sakit? Apakah film ini sekedar sebuah film drama romantis perempuan di antara dua pria dan membenarkan perselingkuhan yang dilakukannya?
Tapi akhirnya saya menemukan satu kata kunci spesifik yang membedakan The Worst Person dari sekedar coming of age story biasa.
Buat saya, kalimat kunci film ini adalah: potret seorang perempuan modern (di negara maju) dimana era kebebasan justru membuatnya lumpuh. Saya membayangkan bahwa The Worst Person in The World bisa menjadi wajah dari generasi kita, sebuah modern existential crisis bagi perempuan yang hidup di abad ke-21... (mungkin serupa novel Jane Austen pada masanya? Tapi saya rasa feminis akan marah besar dan menuduh film ini adalah bentuk mansplaining karena ditulis oleh dua lelaki hahaha. Anyway, tuduhan mansplaining sendiri sudah dibahas dalam satu scene di film ini sendiri).
SIAPA JULIE DAN APA YANG DIWAKILINYA?
Secara umum, kita tahu ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tengah mencari jati dirinya. Di bagian prolog, kita diperlihatkan Julie yang berubah-ubah pikiran tentang karir yang ingin dicapainya. Awalnya ia masuk ke kedokteran, lalu merasa jiwa manusia adalah "panggilan hatinya" hingga kemudian banting setir ke psikologi. Tapi kemudian ia menyadari bahwa fotografi mungkin adalah minat sesungguhnya. Di setiap fase yang dilaluinya, berbeda pula lelaki yang dikencaninya. Film ini kemudian bermula dari bagian kisah Julie ketika berkencan dengan Aksel, seorang komikus underground yang berusia 15 tahun lebih tua darinya.
Lalu, pencarian jati diri apa yang sebenarnya dialami Julie?
Julie itu cantik, berotak cemerlang dengan segudang potensi, tinggal di salah satu negara maju di dunia dengan jaminan sosial - ia diberikan begitu banyak kemewahan, keberuntungan, pilihan, dan kesempatan. Tapi apa yang sebenarnya dia inginkan? Pilihan terbuka lebar di depannya, tapi begitu banyaknya pilihan (dalam karir dan cinta) melahirkan paradoks yang membuatnya lumpuh dan kesulitan memilih.
Jalan hidup mana yang sebaiknya ia pilih? Bagaimana jika ia memilih salah satu dan ia gagal di jalan tersebut? Bagaimana jika menjatuhkan pilihan membuat alternatif hidup lainnya tertutup? Bagaimana jika ia memilih identitas diri, dan setelah terlampau jauh ia menyadari itu bukan jati dirinya yang sejati?
Ini yang kemudian membuat Julie seperti "luntang lantung" selama beberapa tahun. Di tengah karir fotografinya yang terhenti, ia kemudian "hanya" menjadi penjaga toko buku dan pacar dari seorang lelaki yang telah mapan dan sukses sebagai seniman.
"I feel like a spectator in my own life. Like I'm playing a supporting role in my own life."
Di dalam hati, Julie menyadari bahwa dirinya ingin lebih dan menjadi "sesuatu". Ia mengagumi Aksel untuk itu. Tapi menjadi sesuatu membutuhkan dia menentukan pilihan. Dan setelah menetukan pilihan, ia harus berkomitmen, bekerja keras, bertanggung jawab, disiplin dan melakukan pengorbanan. Ia harus bersiap menanggung konsekuensi dan resiko atas pilihannya sendiri. Dan itu... tidak mudah bagi perempuan modern dan penuh potensi seperti Julie.
Pada akhirnya, "luntang lantung" Julie adalah kegagalan dan kegagapan Julie untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Kecemasannya membuat ia tidak berani memilih. Ia lebih asyik memilih menjadi perempuan dengan segudang potensi daripada menanggung resiko kemungkinan menjadi medioker, gagal, salah jalan, atau kehilangan kesempatan. Berkhayal, memang jauh lebih asyik. Kecemasan membuatnya terus menunda - dan sambil ia berpikir tentang ini, bisakah ia bersenang-senang dahulu?Ini yang terjadi ketika Julie meninggalkan Aksel dan memilih Elvind. Ia melarikan diri dari beban menjadi dewasa.
"I feel like I never see anything through. I go from one thing to another."
MODERN WOMAN AND MODERN PROBLEM
Ada satu bagian film yang menceritakan bagaimana ibu Julie, nenek Julie, dan nenek-nenek moyang Julie, telah memiliki anak di usia 30 tahun (nenek moyang Julie bahkan telah meninggal sebelum masuk usia 30, dimana harapan hidup manusia kala itu pun hanya 35 tahun). Julie lahir di era modern, dan mungkin ia mewakili generasi perempuan yang tidak terbayangkan ada pada puluhan tahun lalu. Ia berusia tigapuluh, dan hingga usia itu, ia belum menginginkan anak. Apa yang ia tunggu? Julie tidak tahu. Yang jelas, ia yakin ia belum siap untuk punya anak, dan tidak yakin apakah dirinya akan menjadi ibu yang baik.
Julie adalah wajah modern generasi perempuan saat ini. Thanks to feminism movement, perempuan di era modern memiliki lebih banyak pilihan untuk berdaya selain menjadi seorang istri dan ibu. Tapi pertanyaan besarnya: Apa yang sebenarnya diinginkan oleh perempuan-perempuan modern seperti Julie? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Julie?
Adegan sureal setelah Julie makan jamur ajaib - dimana ia menjadi tua dan menyusui anak adalah perlambang ketakutan terbesar Julie: menjadi seorang ibu. Baginya, menjadi seorang ibu akan membuat ia kehilangan jati dirinya dan segala kemungkinan yang bisa ia dapat sebagai seorang perempuan bebas. Hal ini membuat saya teringat diri saya sepuluh tahun lalu: tidak siap menikah dan tidak siap punya anak. Menikah dan punya anak membuat saya merasa (kala itu) kehilangan kebebasan dan semua kesempatan yang mungkin saya miliki. Tapi, kala itupun saya tidak tahu pasti: pada titik apakah saya akan merasa siap menikah dan punya anak? (Sekarang saya sudah menikah dan punya satu anak, dan saya tahu bahwa keputusan ini lahir dari kondisi saya yang sebenarnya juga ga siap sama sekali. Dan tolong jangan tanyakan kepada saya apakah saya ingin punya anak kedua - karena saya ga siap dan saya ga tahu kapan siap hahaha).
Di menjelang akhir, kita kemudian mengetahui bagaimana Julie merasa gamang ketika mengetahui dirinya hamil. Aksel bilang bahwa ia yakin Julie akan menjadi ibu yang baik, tapi Julie tidak mempercayai dirinya sendiri (bisakah kita menjadi ibu yang baik jika dari awal kita tidak yakin apakah kita menginginkan anak atau tidak?). Tapi kemudian kita melihat Julie mengalami keguguran - sebuah ironi bagaimana alam kembali "membebaskan" ia untuk kembali pada pilihan tidak terbatas...
DUA LELAKI YANG MEWAKILI HIDUP YANG MUNGKIN DIJALANI
Lelaki dalam hidup Julie mewakili fase hidup yang dijalani Julie. Sedari awal, kita sudah melihat bahwa setiap fase hidup yang dijalaninya (kuliah kedokteran, psikologi, fotografi), Julie bersama lelaki yang berbeda. (Ini mungkin seperti penjelasan patologis psikologi yang menyebalkan dan sok tahu, tapi hubungan Julie yang buruk dengan ayahnya yang tidak pernah benar-benar hadir untuk dirinya sepertinya punya dampak besar pada pola relasi Julie dengan setiap laki-laki dalam hidupnya).
Aksel (Anders Danielsen Lie) dan Elvind (Herbert Nordrum) bisa dianggap mewakili dua kemungkinan hidup yang dijalani Julie. Keduanya adalah lelaki dengan karakter berbeda, dan menawarkan fase hidup yang berbeda.
Aksel berusia 15 tahun lebih tua daripada Julie. Ia lahir dari era yang berbeda, dan (sepertinya) mewakili wajah generasinya (which is... early millenial? or late gen X?). Ia seorang artist, komikus underground yang idealis, intellect, dan dedicated. Ia adalah bentuk "jati diri" yang telah terbentuk, mapan, dan sukses. Di usia pertengahan 40-an, ia telah melalui fase kedewasaan yang belum dimiliki Julie. Ia pun sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa hubungannya dengan Julie unik dan spesial, serta menyadari bahwa Julie adalah cinta sejatinya.
Tapi, kemapanan Aksel sebagai pria dewasa pada akhirnya menyesakkan bagi Julie. Aksel juga controlling, analytic, dominan, dan merasa lebih tahu daripada Julie. Ia kerap mendikte dan menganalisis Julie. Secara tidak langsung, Aksel juga menuntut Julie pada kedewasaan yang belum siap dijalani Julie. Aksel menginginkan anak, sementara Julie masih meraba-raba arah hidupnya. Inilah yang kemudian membuat Julie "melarikan diri" ke Elvind.
Elvind, adalah karakter yang begitu kontras dari Aksel. Ia santai, selow, tidak ambisius, dan tidak menuntut banyak. Ia yang bahkan lebih sering mengikuti keinginan pasangannya (ada bab kisah tentang Elvind dan kekasihnya yang seorang instruktor yoga dan pecinta lingkungan). Elvind, sebagaimana produk dari generasinya, mungkin sama "luntang-lantungnya" dengan Julie.
Coba perhatikan perkenalan pertama mereka ketika Julie menyusup ke pesta pernikahan: mereka pipis bareng, saling mencium bau tubuh, dan ngobrol nggak jelas tentang seks. Obrolan mereka santai, konyol, dan sama sekali ga dewasa. Tapi dengan Elvind, Julie menemukan kebebasan yang dicarinya. Adegan ikonik ketika seluruh kota Oslo berhenti dan Julie berlari menemui Elvind adalah khayalan dan hasrat Julie untuk menghentikan waktu, dimana dia bisa bersenang-senang saja dan merasakan cinta. Ini memang adalah adegan yang romantis (bukankah ketika kita jatuh cinta kita hanya ingin menghentikan waktu dan merasakan perasaan itu selamanya?), tapi juga menyimbolkan keinginan dan egoisme Julie untuk melarikan diri dari konsekuensi dan tanggung jawab menjadi orang dewasa.
Pada mulanya, Julie mencintai Elvind karena ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri dengan Elvind. Tapi sejauh apa Julie benar-benar imemahami dirinya? Dan sejauh apa Elvind bisa compatible dengan "hasrat besar" Julie untuk menjadi "sesuatu"?
Ada satu adegan dimana Elvind tidak sengaja membaca tulisan Julie, dan ini berujung pada pertengkaran antara keduanya. Di sini, kita melihat bahwa Julie dengan angkuhnya "meremehkan" intelektualitas Elvind yang dianggapnya selama ini tidak pernah punya ketertarikan pada hal-hal semacam ini. Ia bahkan menghina dan menghakimi Elvind yang menurutnya sudah cukup puas bekerja hanya sebagai barista, sementara ia sendiri menginginkan lebih. Pertengkaran ini (atau lebih tepatnya, kemarahan Julie), menyadarkan Julie bahwa ia punya keinginan yang berbeda dari Elvind, dan Elvind yang "ringan" tidak bisa memahami dirinya secara utuh. Maka, apakah Elvind adalah sekedar fase hidup yang lain bagi Julie?
(Walau dimaksudkan sebagai sebuah bentuk sarkasme, saya rasa di titik inilah judul "The Worst Person in The World" sangat relevan. Bagaimana kelabilan Julie menemukan makna hidupnya membuat ia menyakiti orang-orang di sekitarnya dan dirinya sendiri).
KEMATIAN AKSEL
Kematian Aksel adalah titik kesadaran bagi Julie bahwa pencarian jati dirinya pada akhirnya akan berhadapan dengan.... mortalitas. Kematian Aksel adalah alarm pengingat bahwa hidup itu absurd dan realita pahit bahwa waktu kita terbatas. Sementara Julie "bermain-main" dan "mencoba-coba" jati diri yang benar-benar sesuai, diam-diam waktu terus berjalan tanpa peduli dengan perjalanan hidupnya sudah sampai mana.
Aksel adalah seorang seniman dengan idealisme dan intelektualitas yang mengagumkan. Ia mewakili sosok manusia yang telah "menemukan" jati dirinya. Ia adalah "Julie" yang sudah jadi. Biarpun relasi mereka harus berakhir, Julie menyadari bahwa ia mengagumi identitas Aksel yang kokoh. Ketika bisa dibilang identitas Julie mewakili generasinya - yang fluid dan gampang berubah, Aksel mewakili identitas generasi sebelumnya: yang kuat dan lebih punya akar/jangkar.
Ini membuat saya berpikir bagaimana dalam beberapa dekade terakhir, modernitas dan kemajuan teknologi mengubah identitas manusia di dalamnya. Sebagai contoh, perempuan jaman dulu disiapkan untuk menjadi seorang istri dan ibu karena mereka tidak punya banyak opsi, dan identitas itu "terpaksa" dijalani. Perempuan jaman sekarang punya lebih banyak kebebasan dan pilihan, tapi kebebasan ini juga punya paradoksnya tersendiri: ketakutan memilih dan kebingungan mau ngapain. Di sini, Julie gamang dengan identitas dirinya sendiri, dan kesulitan untuk memahami siapa diri dan apa makna hidupnya. Apakah jati diri itu adalah tentang menemukan, atau sebenarnya hasil dari menjalankan hal yang ada di depan kita?
Dalam dialognya yang menyayat-nyayat hati ketika Julie menemuinya di rumah sakit, Aksel banyak bicara bagaimana ia tumbuh besar dimana budaya disebarkan dan diwariskan melalui benda fisik (analog). Dahulu, mendengarkan musik membutuhkan "ritual": berjalan ke toko kaset, memilih album yang ingin dipilih, dan mendengarkan satu album. Membaca buku pun membutuhkan ritual yang sama. Aksel tumbuh dengan mengkoleksi hal-hal itu, dan menjadikannya sebagai perpanjangan identitas dirinya sendiri.
Julie (yang the late millenial or the early gen Z) adalah generasi yang sudah cukup terpapar dengan digitalisasi. Ruang digital memang memberikan banyak kemudahan, tapi kemudahan ini pun juga menghasillkan generasi dengan attention span yang rendah, komitmen yang lebih lemah, serta identitas yang lebih cair (dan mungkin performatif?). Generasi digital adalah generasi yang lebih tahu banyak hal, lebih mempunyai banyak pengalaman, tapi besar kemungkinan hal ini membuat mereka tidak punya akar yang kuat dan dalam.
Julie mungkin mendambakan ia punya pegangan yang lebih kuat atas jati dirinya sebagaimana Aksel. Tapi di lain sisi, Aksel yang jati dirinya mengakar kuat pun pada akhirnya menemukan dirinya tidak lagi relevan dengan perkembangan jaman. Ada satu scene dimana Aksel dicerca dan dituduh misoginis akibat mempertahankan idealismen seniya. Aksel (sebagai perwakilan generasinya), merasa seni adalah pemberontakan dan katarsis dari sisi terdalam manusia - yang bisa saja gelap, busuk, dan bajingan. Tapi seni yang ia bela, tidak lagi mendapatkan tempat di jaman sekarang dimana seni dipandang harus memberikan.... nilai moral yang lebih "baik"? (era ini bisa dilihat dari fenomena cancel culture dan me too movement). Menurut saya, tidak ada yang lebih benar di antara keduanya. Hanya cara pandang yang berbeda. Aksel membela seni sebagai sebuah estetika, generasi sekarang menganggap seni tidak boleh menyakiti. (Anyway, saya terbuka dengan kontra argumen terhadap asumsi ini).
Pada akhirnya, Aksel merasa bahwa ia yang sebelumnya telah menemukan jati dirinya... tak lagi menemukan tempatnya di era yang baru. Jati dirinya pun menabrak tembok besar yang tidak bisa ia kalahkan. Ia hanya bisa memandang masa lalu, menonton ulang film yang sudah pernah ia tonton, dan sekalinya berusaha mendengarkan musik baru... itupun dari era lampau. Ia merindukan era dimana ia merasa hidup di tengah produk budaya yang ia koleksi... sesuatu yang menurutnya begitu berharga tapi tidak lagi dipedulikan generasi saat ini. Dan karena kanker yang dideritanya, Aksel sudah tidak sanggup lagi melihat masa depan... ia hanya bisa bersandar (ia menyebutnya worship) pada memori masa lalunya. Masa dimana ia relevan dan merasa hidup. Masa dimana ia bisa mengingat bahwa ia pernah "ada".
I began to worship what had been. And now I have nothing else. I have no future. I can only look back. And... It's not even nostalgia. It's... Fear of death. It's because I'm scared. It has nothing to do with art. I'm just trying to process.
Saat Aksel meninggal, Julie kehilangan banyak hal. Ia kehilangan relasi yang pernah penting dalam hidupnya. Ia kehilangan partner intelektual yang paling bisa memahami dirinya dalam pencarian makna hidupnya. Kehilangan Aksel juga membuat Julie menyadari bahwa ia kehilangan seseorang yang paling mampu melihat dirinya (Aksel mengagumi dirinya, percaya Julie akan jadi ibu yang baik, dan merasa Julie adalah cinta sejatinya), dan itu artinya... kehilangan Aksel membuat Julie merasa ia kehilangan sebagian jati dirinya.
If I regret one thing, it's that I never managed to make you see how wonderful you are.
THE EPILOGUE
Di epilog kita melihat Julie akhirnya kembali berkarir sebagai fotografer (sementara itu diperlihatkan Elvind ternyata sudah berpasangan dengan orang lain dan memiliki anak). Dengan menjadi fotografer (biarpun pekerjaannya sepertinya belum karir fotografi yang mentereng), tampaknya Julie telah menentukan pilihan hidupnya. Tapi, apakah ini artinya Julie telah menemukan jati dirinya?
Film ini tidak berusaha menjawabnya secara eksplisit. Mungkin fotografi adalah sekedar fase hidup lagi dari Julie, mungkin juga tidak. Tapi setidaknya memilih sudah merupakan satu langkah lebih maju bagi Julie. Dan kalaupun karir ini hanya merupakan sekedar fase hidup lagi bagi Julie, bukankah itu pun.... tidak apa-apa?
Tapi mungkin pertanyaan yang lebih fundamental untuk diajukan adalah: Apakah jati diri itu.... nyata? Atau apakah itu hanya istilah yang tercipta di era modern dimana manusia mencoba mencari dan menyandarkan makna hidupnya? Apakah jati diri, panggilan jiwa, atau identitas kita... itu sesuatu yang terpendam dan butuh "ditemukan", atau penemuan itupun hanya sekedar fase hidup kita yang labil? Dan... adakah bentuk diri kita yang benar.benar.... final





Komentar
Posting Komentar
Your comment is always important to me. Share di sini!