Edward Scissorhand (1990)


Directed by Tim Burton ; Produced by Tim Burton, Denise Di Novi ; Screenplay by Caroline Thompson ; Story by Tim Burton, Caroline Thompson ; Starring Johnny Depp, Winona Ryder, Dianne Wiest, Anthony Michael Hall, Kathy Baker, Vincent Price ,Alan Arkin ; Music by Danny Elfman ; Cinematography Stefan Czapsky ; Editing by Colleen and Richard Halsey ; Distributed by 20th Century Fox ; Release date(s) December 7, 1990 ; Running time 105 minutes ; Country United States ; Language English

Genre : Drama, Fantasy
Rated : PG-13
Rotten Tomatoes : 91% (7.6/10)
Metacritic : 74/100NikenBicaraFilm:

Sinopsis :
Bagaikan sebuah dongeng di jaman modern : Seorang nenek bercerita kepada cucunya, tentang seorang pria bernama Edward yang tangannya berupa gunting. Ia lelaki yang kesepian, tinggal sendirian pada sebuah rumah di atas bukit, sebelum seorang wanita baik hati mengajaknya tinggal di rumahnya.

Review :
Saya sangat menyukai passion Tim Burton dalam setiap filmnya. Filmnya selalu penuh fantasi, walaupun memang selalu bernuansa dark dan sedikit gothic. Saya menyukai Charlie and the Chocolate Factory, Sweeney Todd, Big Fish dan Corpse Bride. Semua film Tim Burton selalu terlihat ciri khasnya. Unik, atau malah boleh dibilang eksentrik. Permainan warna Burton juga selalu mempesona saya. Edward Scissorhand, mungkin boleh dibilang sebagai salah satu karya terbaiknya, dengan aktor favoritnya sejak saat itu : Johny Depp.


Johnny Depp, bukan mengawali karir gemilangnya ketika menjadi kapten Jack Sparrow dalam Pirates of the Caribbean. Tentu saja, karir gemilangnya adalah ketika ia memerankan Edward, yang polos, naif, dengan tangan guntingnya yang sebenarnya selalu membahayakan orang-orang di sekitarnya. Semua orang bilang Johnny Depp sangat berhasil memerankan karakter Edward, dan saya termasuk salah seorang di antaranya. Inilah awal dari ke’eksentrik’an akting Depp. Jadi rasanya tidak aneh ketika melihat Depp di karir selanjutnya memerankan Jack Sparrow, Hatter (Alice in the Wonderland) dan Willy Wonka (Charlie and the Chocolate Factory).

Film ini punya sisi indah yang luar biasa bagi saya. Tidak sulit bagi kita untuk mencintai Edward, ataupun memaklumi tingkah lakunya yang sedikit sensitif ketika merasa cemburu dan marah. Edward is loveable and nice, but he still a human. Dengan melihat sisi humanis dari seorang Edward, saya merasa bahwa dia adalah karakter yang menarik. Gag sekedar orang polos yang tidak punya rasa marah. Saya juga suka bagaimana Burton membangun detail karakter masing-masing anggota keluarga yang menampung Edward : Ben, Peg, anak mereka Kim dan Kevin.

Sayang memang, bahwa film ini pada last scene-nya membuat saya sedikit kecewa. Aduh, adegan menyatakan cinta, dan ciuman di saat-saat kritis tampaknya adalah drama yang selalu merusak kesenangan saya. =D

Btw, apakah Anda jadi bertanya-tanya kenapa saya mereview film jadul ini? Hmmm.. mungkin memang tidak ada salahnya Anda melupakan layar bioskop sejenak dan melihat film-film lama yang mungkin belum Anda tonton. Boleh dibilang, karya-karya Tim Burton setelah itu, segalanya bermula dari Edward dan tangan guntingnya....


Direkomendasikan untuk :
Semua pecinta film!

Tidak direkomendasikan untuk :
Orang-orang yang phobia gunting. Bayangin aja kalau phobia gunting, terus membayangkan ada orang dengan gunting sebagai pengganti jari tanganya...


Facts That (Maybe) You (Don’t) Want To Know:
1. Beberapa orang sempat menjadi bahan pertimbangan Tim Burton sebelum dirinya menetapkan Depp sebagai pemain. Sebut saja Tom Cruise, Tom Hanks, Robert Downey Jr dan Michael Jackson. Tapi pada akhirnya Tim Burton terlalu jatuh cinta pada Johny Depp, hingga akhirnya kolaborasi mereka tidak hanya pada Scissorhand, tapi juga beberapa film Burton berikutnya : Sleepy Hollow, Charlie and Chocolate Factory, Sweeney Todd, dan Alice in Wonderland.
2. Untuk mendalami aktingnya sebagai Edward, Johnny Depp menjadikan Charlie Chaplin sebagai bahan referensi bagaimana membuat orang jatuh simpati tanpa membutuhkan banyak dialog.
3. Untuk membuat tangan gunting, Burton memperkerjakan Stan Winston, yang nantinya juga akan membantu Burton mendesain make up si Penguin di Batman Returns.
4. Saat membuat Storyline, Burton dan Thompson banyak terpengaruhi oleh beberapa film horror Universal Studio tahun 1923-1960 (biasa disebut Universal Monsters atau Universal Horror) seperti The Hunchback of Notre Dame (1923), The Phantom of the Opera (1925), Frankestein (1931), Creature from the Black Lagoon (1954), dan King Kong (1923)

Komentar

  1. saya baru tonton film ini tadi malam di O channel.. bener-bener film emosional yang menyentuh perasaan.. ada sedih, senang, marah, kasian.. semuanya campur aduk..

    BalasHapus
  2. baru nonton lagi stelah beberapa tahun lalu ga nonton :) itupun d garudachanel .. hmph knpa trans tv , global tv kya gt ga nayangin film ini ya , padahal kan film nya keren daripada nyiarin film yg itu" aja ... membosan kan :))

    BalasHapus
  3. film penuh kenangan pas masih SD dulu.....

    BalasHapus

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!