On Reflections: Perfect Days (2023) - Apakah Hirayama Merasa Damai?

Di hidup modern yang selalu sibuk dan penuh tekanan, belakangan gaya hidup slow living menjadi solusi yang terlihat trendy. Sebuah alternatif hidup yang seperti menjawab kegelisahan kita akan hidup yang bikin stress dan lelah. Kemunculan sosok Hirayama (diperankan dengan sangat baik oleh Koji Yakusho) lewat film Perfect Days (disutradarai Wim Wenders), kemudian menjadi icon mindfulness yang dipuja para sinefil. 

Di Perfect Days, Hirayama adalah seorang petugas kebersihan toilet, yang mengerjakan pekerjaannya dengan  tekun dan dignity. Rutinitasnya terasa begitu sederhana, tapi ia tampak bisa menikmatinya dengan sungguh-sungguh dan penuh syukur. Ia mampu mengagumi pemandangan cahaya yang menyelinap masuk di antara dedaunan pohon tinggi, lalu memotretnya dengan kamera analog seolah-olah itu adalah pemandangan paling cantik di dunia. Ia berangkat kerja sambil mendengarkan kaset musik 70's dengan khidmat, dan mengakhiri hari dengan membaca buku sastra. Hirayama seperti pengingat bagi kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidup dan menikmati hidup apa adanya.

Rutinitas bisa begitu membosankan, tapi cara Hirayama menikmati tersebut (dan bagaimana Wim Wenders menampilkan hari-hari Hirayama dengan visual yang sangat puitis) seperti mampu menyadarkan kita bahwa mungkin rutinitas itu bisa jadi terasa sangat nikmat dan damai. Sekilas, kita mungkin akan merasa film Wim Wenders ini punya vibe yang mirip dengan Paterson-nya Jim Jarmusch dalam versi Tokyo. Betapa hal-hal mundane ternyata bisa begitu indah.

Sama seperti American Beauty (iyes, film favorit saya) yang bisa membuat saya mengagumi tas plastik menari-nari terkena angin, Perfect Days juga membuat saya melihat komorebi - cahaya yang masuk dari sela-sela dedaunan dengan perspektif baru. Hirayama seperti menginspirasi saya untuk mencintai detail-detail kecil di sekitar saya yang sebelumnya terasa biasa-biasa saja. Ia seperti mengingatkan saya bahwa rasa syukur tidak harus didapatkan dari hal-hal besar, tapi bisa dari hal-hal sederhana - asal kamu tahu cara melihatnya. Jika seorang pembersih toilet yang hidup sendiri saja bisa sebegitu penuh syukur menjalankan hidup - masa saya ga bisa bersyukur atas hidup yang saya punya? 

Tapi kemudian, film berakhir dengan 5 menit wajah close up Koji Yakusho, mendengarkan lagu Feelin Good dari Nina Simone saat mengendarai mobil ke tempat kerjanya. Ada senyum di situ, tapi ada emosi ambigu silih berganti yang terbaca juga pada wajahnya: ada kesedihan, ada tawa, ada air mata yang muncul (antara haru, lega atau terluka?), ada senyum yang sesekali tulus sesekali dipaksakan, dan ada tarikan napas untuk menguatkan diri - ini membuat saya kemudian mempertanyakan ulang: apakah Hirayama betul-betul bahagia dan menjalani hidupnya dengan penuh kedamaian? Apakah lantunan Feelin' Good dari Nina Simone bukan apa yang betul-betul dirasakan Hirayama, tapi sebuah mantra untuk menguatkan dirinya agar percaya bahwa dirinya baik-baik saja?

Hmmm... saya jadi mempertanyakan ulang, mungkinkah saya telah melewatkan sesuatu?

SIAPA HIRAYAMA?


Melalui rutinitas yang dikerjakannya, awalnya kita mengenal Hirayama sebagai seorang pria pendiam yang tekun. Ia bekerja sebagai pembersih toilet, tapi mengerjakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan tidak mengeluh. Ia tinggal di rumah sederhana yang super rapi, dengan koleksi kaset lawas, dan selera sastra tinggi yang mengagumkan. 

Dalam hari-hari Hirayama yang biasa-biasa saja, kita bisa melihat "konflik-konflik" kecil yang terjadi di sekelilingnya. Seperti ketika Takashi, teman kerjanya yang menyebalkan, meminta Hirayama untuk merelakan kasetnya dijual supaya ia bisa berkencan, atau kehadiran keponakan Hirayama yang muncul tiba-tiba (dan pertemuannya dengan adiknya), hingga Hirayama bertemu dengan mantan suami penjaga bar yang sering dikunjunginya. Tapi di luar itu semua, kita bisa melihat bahwa Hirayama tampak content dengan kehidupan sederhananya (perhatikan bagaimana ia keluar apartemennya setiap pagi untuk menengadah dan melihat langit, atau bagaimana ia menikmati permainan tic tac toe dengan seseorang asing yang menyelipkan kertas permainan ini di toilet). 

"Kondo wa Kondo, Ima wa Ima. Next time is next time, now is now". 

Ini kalimat yang Hirayama yang ucapkan ke keponakannya, seperti mantra pengingat bagi kita untuk tidak usah mencemaskan hari esok. Jalani saja apa yang terjadi hari ini. 

Tapi benarkah Hirayama betul-betul merasa damai dengan hidupnya?

Ketika saya berusaha menggali lebih dalam siapa Hirayama, saya menemukan bahwa Hirayama mungkin lebih kompleks dari sekedar icon bersyukur yang semula saya bayangkan 

Setelah saya pikir-pikir, berikut adalah beberapa hint yang sepertinya mengindikasikan itu:

Pertama, pertemuan dengan adiknya membuat kita bisa menduga bahwa Hirayama punya trauma dan luka masa lalu. Sosok adiknya muncul dengan supir dan mobil mewah, sehingga kita bisa mengira bahwa Hirayama lahir dari keluarga yang sepertinya cukup kaya raya. Melalui percakapan kecil yang terjadi dan tangis tertahan yang ditunjukkannya, kita mengetahui bahwa Hirayama pernah berkonflik dengan ayahnya sendiri, dan bahkan hingga sekarang tidak bisa berdamai dan memaafkan ayahnya. Ini membuat saya bertanya-tanya, mungkinkah pekerjaannya sebagai pembersih toilet (dan kehidupannya yang sangat sederhana) adalah kondisi yang ia pilih sendiri? Mungkinkah ia beusaha melarikan diri dari kehidupan yang pernah ia punya di masa lalu?

Kedua, melihat keseharian Hirayama yang sepi tanpa keluarga dan teman dekat, saya pun juga berpikir bahwa itu adalah "pilihan" Hirayama untuk mengasingkan diri dari keintiman/kedekatan dengan orang lain. Ia mungkin sedikit socially awkward, tapi sebenarnya ia cukup menyukai kehadiran orang-orang di sekitarnya (seperti kakek-kakek yang sering bertemu dengannya di pemandian umum, sesama pelanggan di kedai favoritnya, atau ketika ia tersenyum saat gebetan Takashi mencium pipinya). Tapi, ada jarak yang tetap dijaga Hirayama di sana. Ini pun termasuk dengan wanita pemilik bar langganannya, dimana saat berbicara dengan mantan suami penjaga bar tersebut, Hirayama menyiratkan bahwa ia tidak berusaha mendekati sang pemilik bar lebih dari sekedar teman.

Ketiga, kamera analog, koleksi kaset lawas, dan buku sastra Hirayama memang terlihat seperti hobi yang keren - tapi itu juga menunjukkan bahwa Hirayama gagap mengikuti perubahan dan perkembangan teknologi di sekitarnya (ia tidak tahu spotify, ia juga tidak tahu bahwa koleksi kasetnya berharga). Apa yang ia punya mungkin adalah sisa dari kebahagiaan masa lalunya yang belum bsia ia buang, tapi ia juga tidak lagi mampu memahami perubahan jaman. Bagi orang dengan beban trauma masa lalu, perubahan juga bisa terasa overwhelming. 

Hint keempat yang saya temukan, adalah pemilihan judul film Perfect Days yang meminjam judul lagu Perfect Day-nya Lou Reed (lagu ini juga diputar di film ini). Sekilas, lagu ini seperti lagu romantis yang super manis tentang hari yang sempurna: kencan yang sederhana (pergi ke kebun binatang, minum sangria di taman, lalu menonton bioskop). Tapi dari liriknya, banyak orang percaya bahwa lagu ini adalah tentang seseorang yang hancur (kabarnya lagu ini dibuat saat Lou Reed bergelut dengan adiksi heroinnya), yang menganggap kencan yang sederhana itu terasa sangat sempurna karena mampu membuatnya bertahan. 

Oh it's such a perfect day 
I'm glad I spend it with you
oh such a perfect day
you just keep me hangin on
you just keep me hangin on

(btw, kabarnya sih Lou Reed menertawakan orang yang mengkaitkan lagu ini dengan kecanduan heroinnya. Ia bilang bahwa lagu ini hanya tentang visi hari sempurna seorang cowok: the girl, sangria in the park, and go home. Perfect day. Real simple). 

SIMPLE LIFE AS A COPING MECHANISM


Awalnya, saya (dan mungkin kebanyakan orang) melihat Hirayama sebagai guru zen yang telah selesai dengan segala problem kecemasan dan kesedihannya. Tapi, setelah mengetahui bahwa Hirayama adalah sosok yang sepertinya menyimpan trauma dan luka di dalam hidupnya, pandangan saya kemudian berubah: Hirayama adalah seorang survivor (?) 

Kesederhanaan hidupnya dan betapa rapi dan teraturnya hidupnya, mungkin adalah cara yang sengaja ia pilih untuk bertahan hidup. Dari luar kita bisa melihat senyum tenang dan wajah damai, tapi di baliknya kita bisa melihat seseorang yang "bekerja keras" untuk menguatkan diri. Segala rutinitas yang dilakukan Hirayama (bangun pagi, mengendarai mobil sambil mendengarkan musik, bekerja dengan tekun, beristirahat di pemandian dan menikmati makan malam di kedai favorit, lalu menikmati membaca buku di rumahnya), boleh dibilang adalah cara ia mengendalikan hidupnya di atas luka dan trauma yang ia punya. Kesederhanaan hidup yang ia pilih (mungkin) adalah kesengajaan agar ia bisa merasa tenang dan punya kendali.

Being mindful, hingga ia bisa memperhatikan detail keindahan kecil pada cahaya dan bayangan pohon - adalah mekanisme Hirayama untuk "menghidupi" apa yang ia lalui saat ini. Slogan "Sekarang ya sekarang, nanti ya nanti" - bukanlah sebuah slogan kosong yang diucapkan oleh lelaki sok bijak, tapi oleh seseorang yang tahu benar bagaimana masa depan bisa begitu mencemaskan, dan masa lalu bisa kembali menyakiti kita.

Saya ga tahu banyak tentang prinsip zen, tapi pada mulanya saya menganggap zen adalah "kondisi ajaib" yang dirasakan oleh orang yang telah mencapai ketenangan batin. Tapi mungkin kita bisa bayangkan seekor angsa yang tampak berenang dengan tenang di tengah kolam. Ketenangan yang ia tunjukkan, sebenarnya adalah hasil dari kaki yang bekerja keras berenang di bawah permukaan air. Mungkin demikian pula dengan Zen, untuk menjadi tenang dan merasa damai, adalah hasil dari disiplin pikiran tingkat tinggi, pengorbanan, dan kerja keras. Dan itu adalah upaya yang dilakukan Hirayama. Segala rutinitas yang dilakukannya mungkin adalah hasil disiplin dan kerja keras? 

Pemahaman ini membuat saya bisa menepis kritik yang menyerang Perfect Days sebagai upaya Wim Wenders meromantisir kelas pekerja dan kemiskinan agar tetap merasa baik-baik saja menerima nasib (di tengah ketidakadilan struktural, dampak kapitalisme, dan blablabla). Di balik visual puitis dan adegan sunyi yang damai - sebenarnya Wim Wenders memberikan dimensi pada karakter Hirayama lebih dari sekedar seorang pria pekerja yang mensyukuri hidup. Ada luka di sana. Ada trauma. Dan hal -hal ini justru membuat kita semakin mengagumi sosok Hirayama sebagai seorang manusia yang benar-benar tangguh.

JADI, APAKAH HIRAYAMA TELAH BENAR-BENAR MERASA DAMAI?

Seluruh ekspresi di wajah Hirayama di akhir film (ada ekspresi yang menyiratkan dua perasaan sekaligus: bahagia dan sedih - what a beaitiful acting!!) - kala ia menyetir film dengan lantunan suara Nina Simone menyanyikan Feelin Good, adalah sebuah momen emosional yang menunjukkan bahwa luka dan trauma itu kemungkinan masih ada pada dirinya. Mungkin, Hirayama belum sepenuhnya berdamai.

Kehidupan Hirayama jelas tidak sesempurna dan sedamai yang mungkin awalnya saya bayangkan. Seberapa kuatnya Hirayama mencoba mengendalikan hidupnya, "bocor-bocor halus" dari luka dan kecemasan itu akan selalu ada dan sesekali muncul ke permukaan. Dan di balik kesederhanaan hidup yang ia pilih, tetap saja ada pengorbanan yang harus ia bayar: pandangan aneh dan meremehkan dari orang lain, jauh dari keluarga, rasa kesepian, dan pertanyaan besar tentang makna hidup itu sendiri. 

Tapi.... bukankah begitulah hidup? 

Mustahil bagi kita untuk bisa seratus persen berdamai dengan luka yang pernah kita punya, karena itulah yang sejatinya membentuk kita. Di sinilah saya rasa filosofi komorebi (daun dan cahaya) dan mimpi Hirayama yang berupaya bayangan hitam putih itu menjadi simbolisme penting (dan kenapa setting Jepang yang digunakan Wim Wenders terasa masuk akal melampaui sekedar kepentingan estetis atau tuduhan orientalis): bahwa jalan hidup kita tak pelak lagi terdiri dari cahaya (suka) dan bayangan (duka) - dan itulah yang membuatnya terasa utuh. 

Hal terbaik yang mungkin bisa kita lakukan, di tengah hidup yang terasa berat, adalah menjalani setiap hari dengan penuh kesungguhan dan harapan, sebagaimana yang dilakukan Hirayama di setiap harinya. Bersyukur dan berdamai... dengan segala suka dan duka, putus asa dan harapan, masa lalu dan masa depan, sedih dan bahagia - mungkin adalah kerja aktif yang dihasilkan dari konsistensi dan kerja keras. 

Komentar