Saya akui saya bukan penggemar skena stand up comedy Indonesia. Saya merasa tidak cocok setelah beberapa kali mencoba menonton, lalu ga pernah sengaja mencarinya lagi. Justru perkenalan saya dengan skena ini adalah ketika saya ga sengaja menonton podcast PWK era Praz Teguh, dan menonton komika-komika yang diwawancarai di sana. Di PWK inilah saya baru merasa para komika ini kocak semua, mengingatkan saya masa-masa menyenangkan mendengarkan cerita random dan konyol dari teman kampus. Sejujurnya, saya lebih suka format "komika ngobrol dan nongkrong bareng" ini daripada dalam format stand up atau film - karena spontanitas dan insting komedi mereka jauh lebih keluar.
Soal Pandji Pragiwaksono, saya sudah tahu dia dari acara RCTI "Kena deh!" tapi setelahnya ga terlalu ngikutin dia sebagai stand up comedian. Tapi saat melihatnya, saya selalu merasa seperti sedang melihat abang-abang yang seru diajak ngobrol. Tipikal abang-abang yang selalu punya banyak stock cerita konyol, hiperbolis dengan kadar pas, pandai mengatur tempo percakapan, dan mengakhiri kisahnya dengan ending yang bikin kita terbahak-bahak. Auranya positif dan energinya luar biasa. Beneran tipe abang-abang yang kamu tunggu datang ke tongkrongan karena mahir mencairkan suasana.
Sayangnya, ketika saya menonton Mens Rea, aura abang-abang ini berubah menjadi sesuatu yang terasa.... sempit. Saya merasa seperti sedang melihat teman sekelas mengoceh tentang kepala sekolah yang menyebalkan. Ocehan ini mungkin akan sangat seru seandainya saya masih SMP. Tapi jujur. ini bukan tontonan komedi politik yang saya bayangkan akan ada dari Special Shows keliling Indonesia dengan harga tiket ratusan ribu hingga dua juta. Ini bukan yang saya ekspektasikan ada dari komedian yang merupakan salah satu founder stand up comedian Indonesia, dan tengah merintis karir di New York.
Selepas acara ini berakhir, pertanyaan pertama yang muncul di kepala: kenapa saya tidak tertawa dibuatnya?
BIAS PANDANGAN POLITIK
Saya akui saya ga ketawa, mungkin karena ada bias pandangan politik (atau pandangan hidup dan dunia secara general).
Selama 20 tahun terakhir sejak saya punya hak pemilu, saya mengalami perubahan pandangan politik yang cukup labil. Ada fase dimana saya memuja Prabowo dan menganggap Jokowi terlalu cepat 10 tahun untuk jadi presiden. Lalu ada fase dimana saya cebongers garis keras karena memuja Ahok. Ada fase dimana saya merasa ingin mengacungkan jari tengah ke semua pejabat dan memboikot pemilu sebagai bentuk protes saya pada demokrasi yang gagal. Dan saat ini, di usia 37 tahun, saya mengalami fase menjilat ludah sendiri. Siapa yang menyangka bahwa kini saya (sedikit) pro pemerintah? 😂
Tahun 2015 adalah tahun yang cukup memalukan untuk diingat karena di tahun itu saya patah hati. Kalau menengok ke belakang, saya merasa diri saya luar biasa bodoh dan overreacting Tapi kala itu sakitnya memang luar biasa, dan saya mengalami kecemasan eksistensial (putus di usia 27 kala itu membuat saya berpikir apakah saya akan sendirian sampai akhir hidup. Saya teringat nangis di atas motor sambil meratapi diri dalam hati: siapa lagi cowok yang mau sama saya?). Ini kemudian bikin saya mencari kompensasi dan validasi diri dari tempat lain. Mendadak... saya merasa feminisme adalah saluran yang tepat untuk menyalurkan kekecewaan saya pada laki-laki. (Saya tahu ini sangat shallow dan cringe lol )
Ini fase dimana saya terobsesi membuktikan diri sebagai cewek pintar (saya pick-me banget). Saat itu saya mengkritik keras trend hijrah, mulai membaca buku-buku sains dan filsafat populer (yang populer ya, otak saya hanya mampu mencerna versi populer), memuja ideologi liberal barat, dan mulai mempertanyakan spiritualitas diri saya sendiri. Ini adalah fase dimana saya menjadi cebongers dan meramaikan arus politik identitas saat itu (saya termasuk yang merasa superior karena mencibir gerakan 212). Saya kerap menyebut orang lain bigot, tanpa sadar saya adalah bigot dalam bentuk lain.
Setelah itu saya mengalami pergeseran pemikiran dengan mengikuti aktivisme "kiri" Indonesia. Ini adalah fase dimana "musuh" saya bukan politisi dari kubu seberang, tapi penguasa itu sendiri: Pejabat tamak, oligarki. dan kapitalis. Saya merasa lebih baik karena peduli dan berpihak pada masyarakat tertindas. Saya adalah keyboard warrior yang merasa diri saya paling bermoral hanya karena saya membagikan satu kisah penindasan dan peduli krisis iklim. Saya merasa lebih baik dari orang lain yang saya anggap apatis (kala itu belum ramai sebutan tone deaf) atau "bagian dari ketimpangan struktural". Ini... adalah cara saya untuk merebut kepercayaan diri kembali dari dengki yang saya rasakan. Saya ga punya prestasi apapun, ga cantik, ga punya duit banyak - tapi seenggaknya saya yakin saya punya moral yang lebih baik. Saya mencemooh kelas menengah yang hedon dan performatif - ironisnya tanpa menyadari, bahwa sayalah kelas menengah yang performatif itu.
Covid 19 kemudian mengubah segalanya. Pandemi membuat semua orang nyaris gila, termasuk saya. Saya baru menikah, baru melahirkan, tidak bisa bekerja, dan lini masa saya dipenuhi histeria massal bahwa besok kita semua bisa mati. Saya nggak menampik kenyataan mencemaskan itu - tapi satu hal yang membuat saya makin gila adalah makian terhadap pemerintah yang tidak becus menangani. Kelakuan Jokowi dan Terawan kala itu memang absurd, tapi mencaci maki mereka - dengan menihilkan tindakan pemerintah seperti menyalurkan vaksin dan bantuan, membuat saya mendadak mempertanyakan realita yang saya pahami. Untuk pertama kalinya, saya melihat wajah para aktivis dan influencer yang sebelumnya saya kagumi dengan wajah baru: mereka orang-orang marah yang nggak pernah puas, dan andalan mereka untuk memobilisasi massa adalah fear mongering dan rage bait. Ini fase dimana saya menghapus twitter demi perlindungan mental (saya berpikir warga twitter adalah masyarakat pintar dengan anger management issue).
Fase berikutnya lebih absurd lagi: Saya ngefans Gibran 😂.
Berhubung saya tinggal di Solo, saya merasa Solo kemudian mengalami modernitas yang saya butuhkan dengan pembangunan-pembangunan yang dia lakukan saat menjadi walikota (sepertinya dia memang meniru cara bapaknya: bangun infrastruktur sebagai legacy). Dukungan saya khas oportunis sejati: biarin aja Solo dapat perlakukan istimewa karena wali kotanya anak presiden, yang penting kota ini maju. Ketika Gibran maju wapres, saya bahkan mendukung dengan alasan yang sama pragmatisnya: supaya Solo masih dapat perhatian publik dan pemerintah pusat.
Dengan otak yang pendulumnya sudah bergeser dari fase idealis, saya kemudian asyik mendengarkan podcast Total Politik (ini jaman sebelum TotPol jadi musuh masyarakat). Saya menyukai podcast ini karena mereka bisa mengundang pejabat-pejabat penting negara dalam format ngobrol santai. Saya suka kedua host tersebut: Budi Arie (Didit) yang mahir "menjilat" narasumber (I said it as a compliment! Karena doi bisa bikin narasumber ga defensif dan terbuka menjawab setiap pertanyaan) dan Arie Putra yang selalu punya pemikiran khas filsuf (walau memang menurut saya dia perlu lebih mahir dan berani mengartikulasikan pikirannya - terutama karena ia rentan disalahpahami seperti insiden viral "Asian Value" saat mereka mengundang Pandji). Keduanya seperti dua host sok akrab dan mampu "merendahkan diri", yang bisa "menjinakkan" image pejabat-pejabat jaga gengsi.
Di Total Politiklah saya mulai melihat pejabat-pejabat ini dengan perspektif baru. Mereka tidak lagi berupa simbol kejahatan dalam otak saya, tapi manusia biasa yang bisa bodoh atau pintar, bisa lucu, bisa tertawa, bisa ngaco, bisa bingung, bisa jahat dan bisa baik... Saya kini melihat arena politik sebagai modern Game of Thrones, yang ternyata... seru banget jika dinikmati sebagai penonton. Semua orang punya kepentingan, semua orang punya intrik dan strategi, semua orang bisa punya niat jahat tapi melakukan kebaikan, dan semua orang bisa berniat baik tapi melakukan kesalahan. Orang-orang seperti Bahlil, Ahmad Sahroni, dan Zulkifli Hasan, di mata saya sekarang serupa dengan bagaimana saya melihat Saul Goodman (kalo kata Bambang Pacul, tipe "koreah"). Sudah lama saya mendengar betapa politik itu kotor, tapi kini saya mulai bisa melihat alasannya. Hitam putih di kepala saya selama ini dalam melihat politik dengan ini telah resmi berakhir (?). Politik terlalu kompleks untuk disederhanakan. Dunia jadi lebih menarik karena tidak disederhanakan.
Dengan adanya perubahan perspektif di kepala saya - yang mungkin tidak akan disangka oleh Niken 10 tahun lalu (dia pasti akan membenci diri saya yang sekarang lol), maka saya menyadari ada bias pandangan politik saat menonton Mens Rea-nya Pandji Pragiwaksono. Jelas, saya berada di kubu yang berbeda (saya menyebut fase ini sebagai fase moderat realist observer yang (sedikit) mendukung pemerintah lol). Saya menjadi sedikit alergi pada mereka yang mengklaim paling benar secara moral (karena ironisnya. saya pun mengaku saya yang lebih benar 😈). Kini yang saya butuhkan adalah orang lain yang juga merasa dunia ini memang abu-abu, benar dan salah salah itu ambigu, dan mengajak saya untuk menerima ketidakberdayaan manusia dalam mencerna itu.
Jadi, soal Mens Rea-nya Pandji Pragiwaksono? Begini menurut keyakinan saya....
MENS REA ADALAH ORASI POLITIK
Belakangan, Pandji Pragiwaksono sepertinya memposisikan dirinya menjadi komika yang peduli dengan isu politik. Ia percaya bahwa perbaikan bangsa dan negara ini bisa dilakukan dari luar sistem, dengan misi mulia mengedukasi masyarakat agar tidak lagi tolol dalam memilih pemimpin. Ia geram ketika pejabat-pejabat yang dipilih rakyat justru berbuat seenaknya sendiri dan menganggap rakyat bisa dibodohi. Sepertinya itulah misi yang ingin ia jalankan kala melakukan specials show tour stand upnya kali ini. Mengambil judul "Mens Rea" yang berarti niat jahat adalah sebuah kontradiksi yang menarik. Ini adalah kritikan dan edukasi politik, sebuah perlawanan tanpa niat jahat (walau saya juga kepikiran, apakah perlawanan juga boleh dikomodifikasi sedemikian rupa? Mengingat harga tiketnya ga bisa dibilang murah).
Sepanjang satu jam lebih saya menonton Pandji mengoceh soal bobroknya pemerintah negara saat ini. Presiden yang terpilih karena joget-joget di tiktok, wakil presiden dengan muka ngantuknya yang ga capable, pencucian uang yang mungkin dilakukan seorang artis, polisi yang menindas masyarakatnya sendiri, intel yang mungkin bersembunyi di dalam shownya, dan lain-lain. Saya melihat penonton banyak yang tertawa dan bertepuk tangan karenanya. Show ini membuat Pandji menjadi salah satu icon perlawanan rakyat terhadap kebusukan penguasa (dan rakyat 58% yang memilih penguasa sekarang).
Tapi menurut keyakinan saya, Mens Rea adalah katarsis sosial. Ini lebih mirip orasi, propaganda, atau kampanye politis yang disampaikan dengan banyolan. Ia memindahkan makian dari twitter ke panggung - menjadi pahlawan dengan mikrofon karena berani mengatakan itu keras-keras. Pandji sepertinya tahu benar isi kepala audiensnya, dan berhasil memvalidasi keresahan dan kebencian mereka terhadap pemerintah. Kesengajaan untuk tidak menghina dan menyerang integritas nama-nama yang dianggap oposisi pemerintah seperti Mahfud MD dan Anies Baswedan (dengan alasan mereka bukan pejabat saat ini - walaupun mereka tetap saja orang-orang punya power yang kebetulan kalah dalam kontestasi politik) jusru semakin mengukuhkan itu. Tawa yang tercipta adalah tawa persetujuan. Tepuk tangan yang terjadi adalah tipikal komedi clapter yang lahir dari persetujuan audiens, bukan karena materi komedinya lucu dan mengejutkan.
Apakah ini salah dan tidak sah disebut sebagai komedi? Tentu saja tidak.
Tapi secara estetika seni, apakah ini bisa disebut sebagai komedi yang baik? Saya sih sejauh ini berpikir bahwa seni harusnya mampu menelanjangi kompleksitas manusia dan dunia, bukan menyederhanakannya dalam sekedar makian (my problem bukan ada pada makiannya, tapi rasanya suck kalo makiannya cuma dijadiin gimmick dari materi yang biasa saja). Seni harus mampu mengakui bahwa kebenaran mutlak itu bisa dipertanyakan, sehingga tidak akan merasa paling benar secara moral. Seni boleh saja menunjuk kesalahan pada satu titik, tapi tidak lupa untuk memasang cermin dan menunjuk kesalahan pada dirinya sendiri.
Lalu pertanyaan saya, apakah ini memang dimaksudkan sebagai komedi partisan? Karena jika iya, berarti komedi ini memang hanya diperuntukkan melayani ego kalangan tertentu. Ga jauh beda dengan humas istana kala memasang iklan kampanye keberhasilan pemerintah di layar bioskop.
KOMEDI SEBAGAI BENTUK SENI
Setelah heboh Mens Rea, saya coba menonton stand up comedy show komedian Barat sebagai perbandingan (karena saya memang awam dan ga familiar sebelumnya). Saya menonton beberapa show komedian yang berani membawa materi gelap seperti Dave Chappelle, Ricky Gervais, Anthony Jeselnik, dan Bill Burr. Semingguan ini saya seperti kurang kerjaan menganalisa komedi mereka dan membandingkannya dengan Mens Rea. Mungkinkah perbandingan saya terlalu jauh?
Favorit saya adalah Ricky Gervais. He is a world-class jerk, tapi saya ga mengira komedi bisa dibawa sefilosofis itu. Mendengarkan Gervais bicara soal moralitas, agama, hate crime, dan cancel culture membuat saya mengagumi kemampuan ia menjebak kita pada argumennya yang logis sekaligus gila. Komedi ternyata bisa jadi semacam talking essay dengan lelucon yang benar-benar lucu. Bill Burr dan Dave Chappelle adalah ahlinya storytelling. Bill Burr mahir melebih-lebihkan sesuatu, menjadi lelaki redneck emosional dan gemar berteriak, berani menertawakan feminis radikal. Dave Chappelle pun piawai melontarkan lelucon tentang betapa egois dan ngaco dirinya sambil membawa isu besar seperti rasisme dan moralitas (bit soal Bill Crosby sampai sekarang membuat saya kepikiran). Sedangkan Anthony Jeselnik, dengan persona wajah dingin dan keahliannya merangkai setup dan punchline, membuat saya mempertanyakan diri saya sendiri: bagaimana bisa saya tersenyum akan lelucon soal pedofil dan kematian anak-anak? (Dark comedy Jeselnik sepertinya paling menarik untuk dibedah secara psikologis).
Komedian kelas dunia itu membuat saya mengagumi komedi sebagai bentuk seni bernilai tinggi. Komedi ternyata ga cuma sekedar lucu dan mengandalkan lucu atau tidak dari selera. Saya ga menyangka komedi bisa berfungsi untuk menyentil ego manusia, mempertanyakan ulang kebenaran, mendorong batas ketabuan, menilai ulang moralitas, hingga memberikan ruang aman bagi kita untuk menertawakan hal-hal yang tragis dan mengerikan. Komedi, ternyata bisa digunakan sebagai cermin untuk menelanjangi jiwa terdalam manusia. Sayangnya, saya tidak mendapatkan kedalaman itu dari Mens Rea. Jika memang show ini "sengaja" menjadi basic demi menjangkau massa luas, apakah ini ide yang baik? Untuk seorang founder stand up comedy Indonesia sekelas Pandji yang membawa kritik sosial politik, apakah salah jika saya berharap lebih?
Saya pun nggak melihat hal baru dalam materi yang dibawakan Pandji. Semua isu politik Pandji pasti pernah kamu baca di media kalau rajin ngikutin berita politik. Pandji hanya memindahkan berita-berita buruk tentang negara ini ke medium stand up, menimpalinya dengan sedikit jokes dan melakukan gimmick-gimmick slapstick. Semua opini politiknya juga adalah pelajaran standar politik. Ia nyaris tidak melakukan re-inventing dari isu yang ada. Tidak ada observasi tajam, eksplorasi mendalam, dan argumen baru yang menantang berpikir audiensnya. Dalam komedi, menurut saya wajib hukumnya komedian membawa sudut pandang baru atas isu apapun. Komedian harus selangkah di atas pemikiran audiensnya. Di Mens Rea, Pandji hanya seperti fasilitator kemarahan publik.
Pandji ga bisa cuma mengandalkan kepedulian dan niat mulianya tanpa diimbangi kerja keras secara intelektual, kreatif, dan estetis sebagai komedian. Tugasnya adalah membedah semua isu itu, memberikan setup yang baik, timing yang presisi, dan meledakannya dalam punchline yang cerdas dan lucu. Saya merasa tidak ada twisted argument, tidak ada kejutan, tidak ada kontradiksi yang tidak diduga. Semua jokesnya lurus dan ini sangat membosankan. Bukankah "patah"-nya dugaan penonton adalah keharusan dalam seni komedi?
Bit soal Dharma Pongrekun dan Verrel Bramasta adalah contoh bagaimana Pandji memberikan materi yang kurang kreatif. Seharusnya Pandji bisa melakukan twist kepada audiensnya ketika membahas mereka. Keduanya sudah jadi bahan bulan-bulanan massa (karena mereka memang cringe). Pandji harusnya bisa memasukkan argumen yang tidak pernah dipikirkan audiens sebelumnya, misal seperti bagaimana sosok Dharma dianggap sebagai peak absurd-nya politik negara ini - lalu melontarkan punchline yang memuji keberanian Dharma Pongrekun yang mungkin tidak dimiliki politisi lain seperti Anies Baswedan yang terpaksa menunggangi politik identitas. Tapi Pandji memilih melakukan komedi receh dengan menirukan gerakan menjilat jari. Ini membuat saya merasa Pandji hanya memindahkan olok-olokan dari internet dan membuat Dharma makin babak belur.
Bit soal Gibran juga salah satu materi yang memanfaatkan kebencian massa terhadap Gibran. Saya ga ngomongin body shaming layak atau tidak, tapi soal bagaimana dari sekian banyak materi yang bisa dijadikan bahan untuk menertawakan Gibran, Pandji memilih untuk melakukan low-hanging fruit: menirukan wajah ngantuk Gibran. Punchline di bagian terakhir (Wapres kita.....? Gibran!) juga bisa bikin penonton ketawa hanya karena memanfaatkan image Gibran yang sudah negatif di mata audiensnya. Buat saya ini materi yang malas karena menyerang Gibran dari asosiasi yang paling dangkal dan sudah dibicarakan orang. Tidak ada observasi dan eksplorasi intelektual di sana. Ini lebih mirip lelucon anak SMP yang berusaha edgy karena berani mengolok anak kepala sekolah hanya karena mukanya meme-able.
Saya pun menduga, bahwa sebagai karya, Mens Rea tidak akan berumur panjang. Karena seluruh isi materi Pandji sangat kontekstual tanpa memberikan sesuatu yang melampaui konteksnya (misal, dia bisa bicara tentang psikologi penguasa dan pemilih, atau sistem yang buruk karena ego bawaan manusia). Apalagi ia sering name-calling dan menertawakan jokes-jokes viral. Taruhlah komedi ini ditonton 10 tahun lagi, orang mungkin sudah akan lupa siapa Bahlil, Verrel, dan tidak mempedulikan Gibran. Komedinya tidak akan terlalu lucu lagi. Ironisnya, tokoh-tokoh yang disebut Pandji harus masih aktif berpolitik sampai 10 tahun lagi supaya komedinya masih tetap relevan.
Dan ketika saya berpikir ulang kenapa ini bisa terjadi, itu karena menurut saya Pandji kurang sinis. Kalau kamu menonton Ricky Gervais atau Louis CK, kamu akan merasa bahwa mereka adalah pengamat dunia yang sangat sinis. Dan mereka sinis pada semua orang tanpa tebang pilih, bahkan terhadap diri mereka sendiri. Kesinisan ini adalah bahan bakar untuk bisa berpikir berbeda dari kebanyakan orang. Hey, tapi bukankah Pandji sangat sinis kepada pemerintah? Betul, tapi ini sinisme yang lahir dari keberpihakan dia sebagai oposisi. Ia tidak sinis pada audiensnya, atau pada rakyat itu sendiri. Menurut saya dia terlalu optimis dengan apa yang dia lakukan. Mungkin ini adalah hal yang luar biasa mengagumkan (karena tbh, menjadi optimis itu luar biasa berat). Tapi sebagai komedian, menurut saya ini yang membuat materinya tidak punya kejutan.
SIBUK MEMUKUL KE ATAS, LUPA MEMUKUL DIRI SENDIRI
Ada satu kesalahan yang menurut saya teramat fatal dari Mens Rea: Pandji sibuk punch up ke pemerintah, tapi lupa untuk memukul dirinya sendiri. Kesengajaan atau ketidaksengajaan hal ini membuatnya terlihat bersinar seperti pahlawan bagi mereka yang satu kubu, musuh di mata kubu yang berseberangan, dan di mata saya sendiri, ia terlihat seperti abang-abang berceramah dengan nada sok tahu. Dan karena saya adalah penonton yang sombong dan menyebalkan, saya paling alergi sama siapapun yang menurut saya tengah menggurui saya.
Mungkin ini seperti aturan tidak tertulis, jika kamu ingin menghina sesuatu, pastikan kamu adalah bagian darinya. Komedian cina bisa mengolok-olok sesama orang cina dan akan sangat lucu karena ia adalah bagian darinya. Kalau orang lain melakukan itu? ia akan rawan disalahpahami sebagai komedian rasis. Tapi bagaimana dengan, misalkan Ricky Gervais... yang kerjaannya mengolok-olok semua orang?
Ini menurut pandangan saya. Pertama, kamu harus menaruh kerentanan dirimu dalam komedimu. Kamu harus memperlihatkan kebodohan dirimu, supaya saya merasa kamu berhak menghina saya dan orang lain. Di Mens Rea, Pandji hanya menaruh satu line bahwa dirinya jaman sekolah adalah anak rajin yang tetap bodoh - tanpa benar-benar bercerita sebodoh apa dirinya. Dia bilang pemimpin Indonesia tidak kompeten dan itu adalah hasil dari masyarakat yang bodoh, tapi dia tidak menceritakan pengalamannya sebagai masyarakat tolol, atau bahwa misal dia menyesal pernah jadi tim sukses Anies (and he must really-really shooooww it). Ini membuat saya curiga apakah pernyataannya didasari ketulusan, atau ada ego dan kebanggaan diri bahwa ia (dan audiensnya) merasa tidak salah memilih dalam pilpres kemarin? Dan apakah mereka mencoba "mengedukasi" orang-orang yang punya pilihan politik yang berbeda?
Kalau kamu tidak mau jadi bodoh, maka kamu bisa menjadi brengsek, dan akui saja kalau kamu memang brengsek. Ini adalah keahlian Ricky Gervais. Personanya adalah orang brengsek yang ga peduli dicancel orang lain karena ia sudah sangat kaya raya. Ia suka cerita soal mansionnya di Hampstead. Dalam show terbarunya Mortality, ia berargumen bahwa ga usah menyombongkan diri paling bermoral karena moralmu terbentuk sesuai dengan zamanmu berada. Ia lantas cerita soal bagaimana jika ia hidup 500 tahun lalu, ia pasti akan jadi kulit putih yang punya budak. Dave Chappelle juga melakukan itu - ia bisa saja berceramah soal rasisme, tapi ia tidak lupa untuk menaruh perspektif dirinya sebagai kulit hitam yang juga egois dan arogan. Louis C.K., adalah komedian getir yang lebih dulu membenci dirinya sendiri, sehingga kita merasa ia berhak untuk membenci orang lain (walau setelah kasus pelecehan seksual yang dilakukannya, kini ia dibenci semua orang).
Yang kedua, kamu harus menyerang semua orang. Kamu boleh saja punching up, tapi menyerang ke atas terus tanpa melakukan manuver punching ke diri sendiri (atau kubu yang sama), dan bahkan punching down, akan membuatmu terlihat seperti "penjaga moral". Ini membuat komedimu terasa lurus dan membosankan. Punching down adalah sesuatu yang penuh resiko, tapi jika berhasil akan membuat komedi punya kualitas tinggi. Lewat punch down (misal menghina minoritas), komedian bisa menghasilkan ketegangan yang membuat penonton merasa tidak nyaman (tense), dan ini akan terbayarkan ketika komedian melahirkan punchline yang tidak terduga (release). Dan dengan menyerang semua orang seperti yang dilakukan Gervais, "keadilan" komedi akan terjaga. Bahkan, Gervais sendiri berpendapat bahwa jika memang semua orang dianggap setara, maka semua orang "boleh" diolok-olok (walau saya sendiri tidak yakin benar apakah saya setuju dengan argumen ini).
Pilihan estetika ini tentu saja penuh resiko. Ricky Gervais dibenci kaum woke seluruh dunia, Bill Burr dianggap anti-feminist. Tapi resiko ini adalah sesuatu yang menjadi konsekuensi dari pilihan mereka sebagai seniman untuk tidak bermain aman. Kalaupun Pandji dianggap bermain dengan resiko tinggi karena berani menghina pemerintah, ini lahir dari sikap politiknya, bukan posisinya sebagai seniman. Dan mustahil Pandji ga mengantisipasi hal ini. Dan.... apakah kalian ga sadar bahwa narasi kebencian pemerintah ini sudah jadi narasi mainstream di semua lini masa? Dan siapa cobaaaa yang benar-benar cinta pemerintah? Saya aja jadi (sedikit) pro pemerintah karena saya muak lihat narasi kebencian yang kadang di luar logika, bukan karena saya bener-bener cinta prabowo. Menurut saya, yang lebih berani adalah influencer middle-class yang berkata dengan bangga sebagai pendukung Prabowo dan Jokowi. Kang Lindan dengan lagu Terima Kasih Pak Jokowi? Itu baru pemberani.
Saya justru merasa yang berhasil melakukan apa yang saya sebut di atas adalah Ben Dhanio sebagai opener. Ia mengolok-olok dirinya sendiri sebagai cina miskin dan menjadi pembantu di rumah karena istrinya bergaji lebih baik, maka saya ikut tertawa ketika ia mengolok-olok orang Jawa dan Jokowi. Materi dia adalah satu-satunya yang bikin saya tertawa sepanjang nonton Mens Rea (Dani Beler tidak melakukan hal yang sama, sehingga menurut saya ia tidak lucu).
REFLEKSI SAYA: MENS REA ADALAH NIAT BAIK YANG BUTUH BANYAK PERBAIKAN
Walau saya sudah menulis panjang lebar di atas, saya sendiri masih kepikiran bahwa apakah pandangan dan kritikan saya lahir dari alasan yang logis, atau memang karena saya punya bias pandangan politik yang berbeda, atau karena saya memang penonton yang arogan, menyebalkan, dan sok elitis. Tapi kalau boleh jujur, Pandji adalah satu-satunya kubu oposisi yang masih saya follow di Instagram dan nggak bisa benar-benar benci (berbeda dengan Ahok misalnya, yang saya ilfil berat karena tahu masalah rumah tangganya wkwkw). Iya, saya memang masih merasa agak sebal, tapi saya harus akui: saya tidak pernah benar-benar membaca argumen yang benar-benar menunjukkan kebencian atau narasi yang sepenuhnya tidak adil dari dirinya. Terlepas bahwa optimisme dia akan "perubahan" yang terasa naif dan membuat materinya di Mens Rea jadi agak membosankan, tapi justru pandangan positifnya ini yang membuat saya masih ga menekan menu block account 😅.
Saya pun menyadari, mungkin tidak adil jika saya membandingkan ekosistem skena stand up comedy Indonesia yang baru satu dekade dengan komedi Barat yang telah jauh lebih berkembang. Di Barat, fase marah-marah kepada pemerintah sudah jauh terlewati. Mereka kini bahkan sudah memasuki tahap komedi yang lebih personal dan reflektif setelah sebelumnya memasuki trend anti-woke. Saya membaca tentang gimana Dave Chappelle belakangan bahkan kerap dikritik karena ia lebih mirip penceramah dan tidak terlalu lucu lagi. Ia dianggap terlalu defensif membela posisinya di hadapan generasi baru.
Saya tentu tidak bisa mengharapkan trend keresahan di Barat benar-benar diterapkan di sini, karena situasi politik yang benar-benar berbeda. Di bangsa yang masih belajar berdemokrasi dengan lebih baik, saya paham Mens Rea bisa menjadi simbol amarah yang dibutuhkan oleh banyak orang. Mungkin ini adalah satu penanda kecil dari negara yang kesadaran politiknya baru mulai tumbuh (walaupun ironisnya, kesadaran politik yang lebih baik adalah bukti pemerintah Indonesia telah bekerja lebih baik? 😂). Membaca argumen pro-kontra netizen soal Mens Rea yang menurut saya sama-sama konyol, saya ngerasa bahwa ya sepertinya kita memang masih membutuhkan wadah-wadah kritik semacam ini...
Tapi buat saya yang sudah melewati fase "marah-marah" kepada penguasa, buat saya Mens Rea tetaplah tidak cukup. Saya paham fungsinya, tapi saya berharap estetika komedinya bisa jauh lebih baik dari ini. Di mata saya, Mens Rea adalah orasi basic politik yang masih butuh banyak hal untuk diperbaiki




Komentar
Posting Komentar
Your comment is always important to me. Share di sini!