Matrix Revolutions (2003)


Directed by Andy Wachowski, Larry Wachowski ; Produced by Producer: Joel Silver Executive Producers: Andy Wachowski, Larry Wachowski, Grant Hill ; Written by Andy Wachowski, Larry Wachowski ; Narrated by Mary Alice ; Starring Keanu Reeves, Laurence Fishburne, Carrie-Anne Moss, Hugo Weaving, Nathaniel Lees, Jada Pinkett Smith, Harry J. Lennix, Harold Perrineau ; Music by Don Davis ; Cinematography Bill Pope ; Editing by Zach Staenberg ; Studio Village Roadshow Pictures, Silver Pictures ; Distributed by Warner Bros. ; Release date(s) November 5, 2003 ; Running time 129 minutes ; Country United States, Australia ; Language English ; Budget US$110 million ; Gross revenue US$427,343,298

Genre: Science-Fiction, Fantasy
Rated: R
Rottentomatoes: 36% (5.3/10) ; TopCritic: 27% (5/10)
Metacritic: 48/100
NikenBicaraFilm:

Sinopsis:
Ini merupakan episode terakhir dari trilogi Matrix. Zion terancam dalam bahaya karena mesin-mesin sentinel telah mampu menyerang pertahanan Zion dan hendak menghancurkan kota tersebut. Militer Zion pun bersiap memberikan perlawanan seadanya kepada mesin-mesin tersebut. Di lain sisi, Oracle mengisyaratkan bahwa Neo harus menghancurkan rival abadinya: Mr.Smith yang kini semakin merajalela tak terbendung. Dalam bagian akhir ini, pertanyaan besar mengenai nasib Zion dan Matrix akan terjawab, dan apakah Neo benar-benar Sang Terpilih yang mampu memberikan kedamaian bagi umat manusia.


Review:
Tantangan terberat adalah pada bagian akhir dari trilogi. Semua orang pastinya penasaran mengenai bagian akhir film, dan berharap tidak kecewa dengan bagian akhirnya. Semua orang pun dibikin penasaran mengenai bagaimana Matrix akan berakhir, dan pantas bagi para penonton untuk berekspektasi berlebihan mengenai akhir dari trilogi Matrix. Penonton akhirnya cenderung menaikkan standar, dan ketika akhirnya melihat bahwa filmnya rupanya tidak memenuhi standar *yang kadang jadi ketinggian* itu, bisa dipastikan penonton akan keluar gedung bioskop dengan kecewa.

Tampaknya, hal serupa terjadi pada Matrix Revolution yang rilis hanya beberapa bulan setelah film keduanya. Diharapkan mampu menutup episode dengan dramatis, nyatanya Matrix ditutup dengan sejumlah kisah klise yang yaaaaa... happy ending (walapun sang tokoh utama terpaksa mati dengan terhormat, tentu saja) dan beberapa kritikus mengkritik penutup Matrix ini sebagai sesuatu yang antiklimaks. Beberapa kritikus juga menilai bahwa Matrix Revolution dipenuhi adegan action yang sebenarnya tidak terlalu penting. Saya pikir, hal itu terjadi pada adegan menghancurkan mesin-mesin jahat yang mencoba merebut pelabuhan Zion. Entahlah, adegan bertahan sampai mati (*biarpun tahu bakalan kalah*) tidak memiliki makna yang berarti, apalagi ketika kapal mendadak muncul di saat-saat kritis dan kemudian menyalakan sebuah peralatan, dengan satu tombol dan mendadak mesin-mesin itu langsung mati. Kelihatannya mudah sekali, tapi kok kenapa sebelumnya heboh banget nembak-nembak plus ngebom-ngebom. Sementara itu, tidak banyak pertarungan klasik yang dipertontonkan pada dua film sebelumnya, karena adegan action terkonsentrasi pada pertarungan di Zion yang melibatkan mesin-mesin sentinel dan robot-robot buatan warga Zion. Sebenarnya efeknya lebih mantep sih, tapi entahlah... saya lebih menyukai pertarungan yang terjadi di dalam dunia Matrix. Dan adegan ini cuma muncul di bagian ending aja, saat Neo bertarung versus Mr.Smith.

Sementara itu kesialan Neo juga menjadi-menjadi dengan kesaktian Mr.Smith yang bisa menembus dunia real. Tapi untunglah, ada juga keajaiban Neo yang rupanya juga punya kesaktian di dunia real – sampai sini cerita semakin gag masuk akal. Saya masih bisa memahami mengapa Neo menjadi Sang Terpilih, jika dia memang bagian dari penciptaan pemrograman Matrix. Tapi kenapa dia bisa begitu sakti di dunia nyata dengan mampu menghentikan mesin serta dia buta tapi bisa melihat? And then gimana bisa Mr.Smith menjadi manusia di dunia nyata, dengan menyusup ke tubuh Bane? Belum lagi Oracle yang tahu segalanya tapi juga gag melakukan apa-apa kecuali menyuruh Neo melakukan ini-itu seolah-olah menjadikan cerita ini semua sekedar sebagai permainan belaka?

Keklisean ala drama juga masih saja terjadi di banyak tempat, yang tentu saja melibatkan percintaan Neo-Trinity. Entahlah, saya mungkin termasuk golongan yang menyukai sebuah film action seharusnya mengesampingkan kisah percintaan. Hehe. Saya juga masih terganggu dengan kehadiran Monica Belucci yang sekedar nampang dan hanya ngomong satu kalimat. Kemudian muncul pula gadis kecil Sati yang entah maksudnya apa. Oke, kisahnya makin gag bisa dimengerti, dan endingnya juga klise. Kita sudah tahu bahwa ending akan berakhir bahagia, dan jagoan diharuskan mati untuk benar-benar bisa jadi pahlawan. Tapi ending tersebut dieksekusi dengan sangat predictable. Saya juga tampaknya tidak ingin bahwa kedamaian berlangsung di Zion. Haha. Apalagi kedamaian itu tidak didapat dengan perjuangan yang menghebohkan, namun sekedar negosiasi oleh Neo yang menawarkan bantuannya untuk menghancurkan Mr.Smith yang semakin brutal saja di dunia Matrix dengan imbalan klise : kedamaian.

Belum lagi, menurut saya Matrix Revolution dipenuhi oleh naskah yang buruk. Ini merupakan bagian yang paling parah. Mulai dari ke’keren’an Niobe yang diperankan Jada Pinken Smith yang sempat-sempatnya berkomentar belagu di tengah situasi genting, sampai percakapan antara Neo dan Mr.Smith pada final battle mereka di Matrix yang telah hancur. Sungguh, sangat Hollywood. Film Matrix tampaknya memang sebuah film mainstream yang ingin begitu populer di kalangan penonton dengan menyisipkan part-part gag penting di tengah gempuran action yang memukau. *Btw, film ini sendiri tidak terlalu sukses secara finansial, terutama kalo dibandingkan ama film keduanya.

Final conclusion, saya rasa Matrix Revolution memang bisa dikatakan sebuah penutup yang cukup mengecewakan. Okelah, adegan action memang semakin banyak – dan action tersebut gag dibatasi sekedar pertarungan di dunia Matrix, tapi juga pertarungan di dunia nyata (Zion citizens versus Sentinels), tapi -once again-, saya sebenarnya merindukan pertarungan-pertarungan klasik yang muncul pada episode sebelumnya, yang ngemanfaatin “bullet time” de-el-el itu – yang tidak terlalu dieksplor terlalu banyak pada Matrix Revolution ini.. Ditambah lagi, kekurangan dari segi plot dan naskah memang turut andil untuk mencoreng kisah Matrix menjadi sebuah ending yang tidak cukup dramatis, dan tetap saja menyisakan sebuah pertanyaan-pertanyaan yang kayaknya cuma bisa dijawab ama yang punya cerita aja...

Direkomendasikan Untuk:
Semua orang yang uda terlanjur ngikutin Matrix.

Komentar

  1. Setelah nonton lengkap Matrix (Matrix, Matrix Reloaded lalu Matrix Revolution)
    Buat gw berpikir
    Apakah gw sekarang di dalam MATRIX....?

    BalasHapus
  2. setelah baca dan nonton Matrix (Matrix,Matrix Reloaded lalu Matrix Revolution) dan kemudian membaca Komentar ini, saya semakin Tidak begitu menghayati dan menyukai film ini dibandingkan film "HALO(Master Chief)"

    BalasHapus
  3. dan yang paling penting saya tidak mengerti Cerita Matrix Revolution ini dibandingkan Episode sebelumnya... @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tampaknya yang cuma bisa memahami cerita The Matrix hanyalah wachoswki brothers :)

      Hapus
  4. Ceritanya bisa kok dipahami, dan pertanyaan2 TS semua bisa terjawab jika teliti dengan plot storynya dari awal, mengingat ni film kaya akan filsafat, mungkin pertanyaannya adalah kenapa TS sulit objektif menilai kedalaman storynya, tapi saya setuju eksekusinya agak bertele - tele.

    BalasHapus
  5. "apalagi ketika kapal mendadak muncul di saat-saat kritis dan kemudian menyalakan sebuah PERALATAN, dengan satu tombol dan mendadak mesin-mesin itu langsung mati. Kelihatannya mudah sekali, tapi kok kenapa sebelumnya heboh banget nembak-nembak plus ngebom-ngebom"

    Tuh kapal masuk, langsung nyalain EMP, ya iyalah sentinelnya langsung pada mati. Lah terus dari tadi kenapa pada heboh? karena mereka ga punya EMP. Ko ga punya EMP? Coba deh nonton lagi, itu karena ulahnya mr.smith di "real world"

    *btw, halah gw ngomen telat banget wkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Your comment is always important to me. Share di sini!