Abimana Aryasatya dan Morgan Oey bertarung tanpa senjata di dalam penjara - saling memukul dan saling menendang. Tiba-tiba Abimana mampu melompat tinggi hendak melancarkan serangan mematikan... namun tubuhnya justru jatuh ke lantai secara komikal, meleset dari arah tubuh sasarannya, dengan bunyi debam yang membuat tertawa penonton. Adegan pertarungan memalukan itu belum seberapa ketika karakter Yoga Pratama yang nonton di pinggir arena, berteriak-teriak mengingatkan soal aura merah, dan Abimana tiba-tiba menghentikan perkelahiannya dan justru sibuk menari - membiarkan Morgan memukulinya dengan brutal. Lalu tiba-tiba perkelahian itu berubah arah, Morgan yang kemudian menghentikan perkelahiannya dan sibuk berdoa untuk menenangkan diri, membiarkan Abimana gantian menendangi kepalanya.
Pertarungan absurd itu mengingatkan saya dengan vibe konyol kala menonton Kungfu Hustle-nya Stephen Chow. Ada tone humor Asia yang kental di sana: irasional, konyol, komikal dan sekaligus.... fresh & fun. Selepas menonton Ghost in the Cell, saya membayangkan seandainya Joko Anwar memaksimalkan komedinya mentok ke arah absurd sampai ga bisa dinalar, mungkin film ini justru akan jadi jenius dengan kebegoannya. Sayangnya, Jokan sepertinya punya obsesi lain: ingin menjadi aktivis dengan karyanya. Dan di siinilah saya merasa film ini menjauh dari potensinya terbaiknya.
Ghost in the Cell sudah punya bahan utama untuk menjadi komedi bego yang super ngaco (in a good way, ofc). Bayangkan, sebuah entitas (hantu? roh? makhluk halus? dewa dewi?) yang mengincar korbannya dan membunuhnya, berdasarkan aura orang yang paling negatif. Dan.... entitas ini ada di dalam penjara, tempat para kriminal - orang-orang paling negatif dan emosian - berkumpul! Bayangkan bagaimana penjahat-penjahat brengsek ini belajar untuk mengendalikan diri dengan beribadah, meditasi, dan bersih-bersih. Di sini, sekelompok genk "penjahat kelas teri" yang dipimpin oleh Anggoro (Abimana Aryasatya) berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam penjara mereka setelah korban-korban berjatuhan secara misterius. Dugaan kemudian mengerucut bahwa ini ada hubungannya dengan keberadaan narapidana baru Dimas (Endy Arfian) yang masuk penjara karena dituduh membunuh bosnya dengan sadis.
Genk-nya Anggoro bagi saya adalah nyawa yang paling menghidupkan film ini. Celotehan dan tektokan Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, dan Danang yang terasa cukup natural membuat saya tertawa lepas selama menonton. Mereka terlihat seperti genk bodoh, cerewet, dan slengekan yang cuma bisa mengandalkan karakter Abimana untuk melindungi mereka. Saya berharap seandainya Jokan mengeksplorasi karakter genk ini dengan membangun dinamika relasinya dengan lebih baik dan punya plot arc (misal bagaimana genk mereka kerjaannya berantem terus tapi sebenarnya saling menyayangi dan melindungi, atau ada ending dimana personel genk yang bodoh-bodoh itu justru maju melindungi pemimpin genknya) saya pikir film ini akan punya momen brotherhood yang mengharukan dan bisa jadi mengalahkan Agak Laen. (Anyway, saya selalu ngerasa Jokan adalah sutradara komedi yang baik karena kepekaannya menghasilkan momen komedik).
Sayangnya, saya merasa Jokan selalu tidak pernah puas membuat film yang "sederhana". Dari Pengabdi Setan, Gundala sampai Nightmares & Daydreams, Jokan selalu ingin memasukkan semua pikirannya ke dalam naskahnya, berusaha memperumit masalah, dan membuatnya merusak naskahnya sendiri. Jokan seperti seorang jenius yang ga tahu kapan harus menghentikan ambisinya sendiri (ia butuh editor yang bisa mengerem ini). Sering kali ia memasukkan subplot cerita (atau social commentaryr) yang ga relevan dengan kisah utamanya, karakter-karakter (dengan A-class Indonesian actor) yang ga penting-penting banget, hingga easter egg universe-nya yang mungkin memuaskan fanboynya - tapi membuat saya kesel parah. "Penyakit" ini bikin filmnya sendiri jadi kurang fokus, dan alih-alih terlihat cerdas - lebih kerasa kelewat pretentious.
Bagi saya, masalah utama dari film Ghost in the Cell adalah ketika film ini mencoba memasukkan kritikan sosialnya ke dalamnya. Dalam film-film yang menurut saya bagus sebagai satir - seperti Get Out dan Parasite, Jordan Peele dan Bong Joon-ho berhasil karena mereka memasukkan kritik-nya pada anatomi ceritanya. Di sini, Jokan sibuk memberikan ceramah politiknya lewat celetukan dialog on-the-nose yang kelewat eksplisit, seperti dialog cringe "Ini Indonesia bukan Norwegia!" (ini lebih terasa seperti inferior complex), atau soal masih ada 10% orang jujur di negeri ini, atau soal pion catur sebagai rakyat kecil yang dikorbankan. Saya merasa seperti melihat bit stand up comedian yang lagi belajar mengkritik pemerintah, dan itupun bukan bit yang cerdas dan original (rasanya seperti membaca hasil koleksi bacotan netizen di X). Celotehan kritik ini muncul terlalu sering dan terasa preachy sehingga seringkali merusak mood komediknya.
Di film ini, Jokan juga memasukkan kritik deforestisasi dalam wujud kemarahan alam. Jika concern-nya adalah memang soal penggundulan hutan, alangkah disayangkan ia tidak memasukkan adegan apapun yang menunjukkan pembabatan hutan atau dampaknya bagi kehidupan alam atau masyarakat lokal ke muka penonton. Dan bahkan ketika film ini berusaha mengolok-olok negara ini, Ghost in the Cell tidak benar-benar menunjukkan "seberapa parahnya" negara ini. Dengan style penjara fiktif yang estetik, komedi absurd dan horor imajinatif, terasa ada jarak yang tidak terjembatani antara realitas negara dan yang tampak di layar bioskop. Jokan hanya mengandalkan makian "negara bangsat" atau tokoh villain sebagai karikatur pejabat yang sangat-sangat klise dan membosankan.
Bandingkan dengan Get Out dan Parasite, mereka tidak sibuk menuding satu dalang kejahatan atau memproklamirkan "Rasisme itu buruk!" atau "Ketimpangan sosial itu nyata!", tapi kita bisa melihatnya sendiri dalam keseluruhan ceritanya. Get Out menjadikan white liberals yang ramah sebagai rasisme modern, dan Parasite mempertontonkan perbedaan kelas sosial dengan gambaran tempat tinggal yang jauh berbeda. Buat saya satir bekerja baik dengan lapisan (itulah seninya), tapi Ghost in the Cell sibuk menyorongkannya ke depan muka penonton, tidak percaya dengan kecerdasan penontonnya sendiri. Ini lebih mirip propaganda malas daripada satir cerdas.
Ada tonal dissonance juga buat saya ketika Jokan menjadikan korban-korban entitasnya sebagai instalasi seni. Ketika dia ingin mengangkat entitas yang berasal dari hutan pedalaman, saya membayangkan entitas ini akan bekerja dengan cara tribal dan liar, bukan berkesenian kontemporer ala museum. Buat saya hal ini juga merusak vibe filmnya yang ingin konyol dan logika hantunya. Seandainya Jokan konsisten membangun film ini jadi komedi horror bego, film ini bisa meniru cara Sam Raimi dengan Evil Dead-nya: campy, konyol, dan fun. Membuat salah satu napi itu harus menelan darah atau potongan jari ketika sang entitas menyiksa korbannya pasti akan jadi momen bikin mual yang super seru (seandainya adegan penyiksaan salah satu korban di hadapan seluruh narapidana ini digarap dengan lebih traumatis sekaligus konyol, saya yakin ini akan jadi momen ikonik).
Karakter Bront Paralae sebagai Jeffry - sipir penjara yang super jahat dan doyan menyiksa para narapidana, menurut saya juga merupakan salah satu titik lemah film ini. Ini tahun 2026, dan ketika dunia perfilman sudah menghasilkan villain-villain seperti Joker, Thanos, Gus Fring, Hannibal Lecter, atau Anton Chigurh, kenapa Jokan harus menciptakan tokoh jahat yang paling tidak menarik di dunia? Karakter jahat yang diperankan Bront Paralae, Kiki Narendra, Arswendy Bening Swara seperti karakter yang ditulis di cerita anak sekolah. Mereka sangat satu dimensi dan karikatural. Ketika film mencoba pintar dengan segala social commentary-nya, dan menjadikan ketiganya sebagai simbol sosok pejabat bermasalah, Jokan ga berupaya memberikan kedalaman dan kompleksitas di sana (contohnya.... Hans Landa?). Jika dirasa kedalaman terlalu berat untuk film komedik seperti ini, Jokan seharusnya juga bisa membuat mereka jadi villain yang seenggaknya menarik karena bisa kita olok-olok (seperti karakter The Beast dengan jurus kodoknya di Kung Fu Hustle?).
Terakhir, kelemahan filmnya yang sepertinya juga dirasakan bahkan oleh fansnya.... adalah penyelesaian yang terlalu jump-in. Tiba-tiba saja genk random ini bisa mengetahui apa yang terjadi dan menemukan solusinya. Saya pikir ini memang kekurangan, tapi seandainya Jokan mau main "bego" skalian, kekurangan segi plot ini tidak akan terlalu mengganggu karena kita punya hal-hal lain yang lebih menyenangkan.
So yeah, kita bisa mengakui keberanian Jokan sebagai sutradara idealis dengan visi-misi yang membuat perfilman Indonesia begitu berwarna selama 10-15 tahun ini (anyway, saya ga akan menyebut sindiran Jokan terhadap negara di film ini sebagai keberanian, karena kadang... menjadi pembela negara pun saat ini pun butuh keberanian yang juga sama besarnya?). Tapi Ghost in the Cell sekali lagi membuktikan bahwa mungkin sudah saatnya Jokan juga berani mengakui sebagai penulis naskah.... ia sangat butuh partner penulisan naskah yang bisa membantunya memaksimalkan filmnya.



Komentar
Posting Komentar
Your comment is always important to me. Share di sini!