A Quiet Place (2018) (4/5)


"Who are we if we can't protect them? we have to protect them," 

  RottenTomatoes: 98% | IMDb : 8,4/10 | Metascore : 81/100 | NikenBicaraFilm: 4/5

Rated: PG-13 | Genre: Drama, Horror, Thriller

Directed by John Krasinski ; Produced by Michael Bay, Andrew Form, Brad Fuller ; Screenplay by Bryan Woods, Scott Beck, John Krasinski ; Story by Bryan Woods, Scott Beck ; Starring Emily Blunt, John Krasinski ; Music by Marco Beltrami ; Cinematography Charlotte Bruus Christensen ; Edited by Christopher Tellefsen ; Production companies Sunday Night, Platinum Dunes ; Distributed by Paramount Pictures ; Release date March 9, 2018 (SXSW), April 6, 2018 (United States) ; Running time 95 minutes ; Country United States ; Language American Sign Language, English

Story / Cerita / Sinopsis :
Sebuah keluarga harus bertahan hidup dalam sunyi saat bersembunyi dari makhluk misterius yang buta namun sensitif terhadap suara. 

Review / Resensi :
Baru saja saya sedih mendengar berita perceraian Channing Tatum dan Jenna Dewan. Sebelumnya, daftar pasangan sweet-couple Hollywood yang berpisah baru-baru ini juga cukup bikin sedih: Chris Pratt dan Anna Faris, Jennifer Anniston dan Justin Theroux, dan menurut sumber gosip Nicole Kidman dan Keith Urban juga hendak berpisah. Sedih deh, apa di Hollywood sudah ga ada true love lagi? Oh but wait, masih ada John Krasinski dan Emily Blunt! Nih pasangan serasi bangeeeett! Sebelumnya, nama aktor John Kransisnki baru kedengeran di telinga saya sebagai sekedar Emily Blunt's husband dan "some guy from The Office series" (berhubung saya ga ngikutin The Office). Sebagai sutradara, John Krasisnki sebelumnya baru bikin dua film, dan saya baru nonton The Hollars (2016) - yang kurang sukses dan kurang dapat perhatian dari para kritikus, tapi saya cukup suka. John Kransiski akhirnya baru mendapat pengakuan sebagai sutradara lewat film horror A Quiet Place ini, dimana selain berperan sebagai aktor utama, ia juga mengajak sang istri Emily Blunt untuk menjadi pemeran utama. 

Bersetting tahun 2020, John Krasinski dan Emily Blunt berperan sebagai sepasang suami istri dengan kedua anaknya yang harus bertahan hidup dari makhluk misterius sebangsa alien yang mendeteksi mangsanya lewat suara. Untuk bertahan hidup, mereka bersembunyi di sebuah country-house dengan ladang jagung, dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun supaya tidak diserang oleh makhluk misterius itu. 

Film yang berasal dari short story oleh Bryan Woods dan Scott Beck dan naskahnya juga dikerjakan oleh mereka berdua ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan film. Bayangin donk, kamu masuk ke bioskop dengan sistem teknologi sound canggih dan berharap akan mendapatkan pengalaman nonton yang maksimal dengan segala efek sound dan musik yang tidak bisa kamu dapatkan kalo nonton lewat layar laptopmu yang murah. Tapi A Quiet Place malah mengajakmu untuk menonton film dengan efek suara minimal dengan dialog yang hampir seluruhnya dilakukan dalam bahasa isyarat. Nonton A Quiet Place mengingatkan saya kayak masuk ruang ujian sekolah. Pengalaman ini akan terasa makin maksimal jika penonton bioskop bisa berkompromi untuk tidak mengeluarkan suara selama nonton - dimana hal ini nggak bisa saya dapetin pas nonton kemarin karena saya nonton di bioskop dengan ruangan yang terisi setengah penuh dan mayoritas anak-anak sekolah. Tau kan anak-anak sekolah kalo nonton rame-rame pasti cenderung berisik. Ditambah lagi, sebelah saya tipe cewek yang kalo nonton film horror suka heboh sambil berbisik, "Aduh kasihannya... aduhh kaget...". Ya Allah. (Padahal saya kalau nonton sama teman bisa lebih berisik lagi. Nggak tau diri kok emang saya). 

Kalau saya disuruh menyebutkan dua hal gimana cara bikin film horror/thriller yang baik, maka saya akan menyebutkan dua poin utama sebagai berikut... Pertama, film thriller yang baik harus bisa membangun atmosfer menegangkan dengan baik. Jadi, ketika akhirnya muncul jumpscare scene, efeknya bisa bikin penonton jantungan dengan lebih maksimal. Atmosfer menegangkan ini tentu butuh momen sunyi-sepi-sendiri yang bikin deg-degan. Coba deh, kamu kalau rame-rame di kuburan malem-malem ga bakal takut. Tapi sekalinya sendirian di rumah, mau ke kamar mandi aja takut. Lalu kedua, penampakan hantu or creepy creature-nya harus ditampilkan dengan anggun. Artinya, ga boleh langsung diungkap semuanya di awal film, harus dengan cara semisterius dan "secantik" mungkin. Karena yang misterius itu kesannya lebih bikin cemas. Dan oh yes, penampakan hantu atau makhluk seremnya harus beneran serem. John Krasinski - yang ngaku tidak tumbuh besar dengan film horror - tampaknya tahu benar 2 hal penting ini dan bisa memanfaatkannya dengan baik. Screenplay aslinya yang kabarnya cuma ada satu baris dialog juga sudah sangat membantu untuk bisa dijadiin bahan film horror yang baik. Penampakan sang alien juga cool enough. Selain itu, A Quiet Place berhasil menjaga dinamika cerita makin ke belakang makin intens, sehingga atensi penonton sepenuhnya bisa terenggut. Selamat deh, selama 90 menit kamu akan dibuat deg-degan dan sport jantung.

Unsur dramatis dan melankolisnya didapatkan dengan mengambil tema sentral keluarga. Inti film ini adalah bagaimana orangtua melindungi anak-anak mereka. Hal ini makin spesial karena kita tahu John Krasinski dan Emily Blunt beneran suami istri dengan dua anak perempuan in real life. So, penjiwaan keduanya semakin terlihat di layar. Akting manis terutama ditunjukkan oleh Emily Blunt yang karakternya mengalami hal-hal yang sama sekali tidak diinginkan... And please deh, biarpun mukanya bare face gitu kenapa Emily Blunt bisa tetep secakep itu sihhhhh!

Sejauh ini saya menjelaskan A Quiet Place sebagai sebuah film horror sempurna. But anyway, atas nama selera pribadi saya sebenarnya berharap A Quiet Place bisa lebih digarap dengan nuansa "indie- hipster" yang lebih kental. Ada banyak poin dari film ini yang terasa sangat khas film indie-hipster, sehingga jika visi filmnya digarap dengan lebih "indie-style" lagi, maka saya akan lebih girang lagi. Contohnya, saya membayangkan scoring music-nya diisi oleh Disasterpeace (It Follows, 2015), Mica Levi (Under The Skin, 2014) atau Brian McOmber (Krisha, 2015). Saya merasa butuh bunyi-bunyian yang lebih asing dan lebih aneh. And then saya berharap filmnya juga bisa lebih emosional dan dramatis lagi dari ini, atau dengan kata lain: lebih depresif (semacam The Mist (2017), please?). Oh ya, rating film ini juga cuma PG-13. Bayangin donk kalau rating-nya R.. dan film ini bisa dibuat lebih berdarah-darah dan lebih sadis lagi. Pasti lebih keren lagiii uwuwuwuwu...

(Anyway, film yang disebut mirip A Quiet Place itu antara lain Don't Breathe (2016) dan Hush (2016). Dan kedua film itu ratingnya R. Sayang kok A Quiet Place ini dibikin PG-13. Apa faktor studionya milik Michael Bay?).

Overview :
A Quiet Place sangat menjanjikan sebagai salah satu film horror terbaik dan tercerdas tahun ini. John Kransisnki akan mengajak kita untuk "bersepi ria" dalam 90 menit penuh teror dan kecemasan tingkat tinggi. Ia juga mampu menjaga dinamika dan intensitas A Quiet Place tanpa bertele-tele, lalu perlahan-lahan meningkatkan ketegangan yang membuat penonton tidak akan pernah bosan. Penampakan sang makhluk jahat juga ditampilkan dengan sangat anggun. Ibarat kalau emang ada juklak "Cara Bikin Film Horror yang Baik", maka John Kransisnki ini sudah bikin sesuai juklak. Tapi saya sih berharap ada sentuhan style "indie-hipster" dan level kesadisan yang lebih parah. John Kransisnki sukses sebagai sutradara, dan istrinya Emily Blunt sukses mempertontonkan akting yang "manis". So, that's what people said: A couple who made horror movie together, stay together!




SPOILER!!
NB:
By the way, di akhir saya baru sadar lho kalo si anak perempuannya tuna rungu. HAHAHAHA. Makanya sepanjang film saya mikir nih keluarga kok hebat banget bisa belajar bahasa isyarat dalam waktu singkat. Baru deh di akhir saya baru sadar kalo si anak perempuan tuli, dan alat yang dikasih bapaknya itu adalah alat pembantu pendengaran (kirain alat apaan gitu). Pantesan pas adiknya nyalain roket kenapa dia santai aja... Ya Allah, emang lambat banget kok prosesor otak saya ini. Duh. 
Dan ngomong-ngomong, pemeran si anak perempuan ini Millicent Simmonds memang aktris tuna rungu. John Kransiski kabarnya memang sengaja mengcasting aktris yang beneran tuna rungu. 

Komentar

  1. Kemana aja mbak niken?? Udah lama banget nunggu review-annya. Biasanya saya silent reader, entah kenapa saat ini saya gemas pengen komentar. Hehehe
    Saya juga mikir ini film horror yg beneran horror. Beda dgn jump score nya milik wawan (a.k.a james wan). Lebih buat merinding kaya It follows yg ngehe itu. Bener bangen kalau ini masuk list film horror thriller yg elegan. *manggut2*
    [spoiler alert!]
    But Why??? Why?? Bapakenya kenapa mesti gitu? Daku tak terima ia ber-ending begitu.

    Notes : Maap jikaku lebay. #penontonbaper

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, ngumpulin mood buat nulis itu yg berat banget..

      (Spoiler)

      Aku malah ngarep endingnya lebih depresif lagi kayak film the mist.. jadi anak2nya mati semua. Trus ortunya stress dah... haha

      Hapus
  2. Mbak Niken, menurut mbak penempatan paku yang dizoom pas mencuat dan orang2nya lalu lalang di tangga itu termasuk salah satu trik Krasinski buat mancing ketegangan penonton gag?

    Actually reviewnya kurang nendang mbak, gag kayak yang lain bisa detail banget. Tp blog mbak Niken tetep jd referensi aku buat baca review film. Mbak review Call Me by Your Name atau Blue Jasmine donk... emang iti film lama sih, tapi masih layak tonton dan layak review.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh kurang nendang yaa.. haha.. kalo kurang nendang berarti otak saya stuck idenya ga bisa mengalir keluar kayak saya nulis review film-film MCU.. haha

      Untuk yang paku itu kayak "pengalih perhatian" sih. Setelah habis ketusuk paku, berikutnya kita mikir pakunya bakal bikin gara-gara lagi.. eh ternyata enggak.. hehe

      Hapus

Posting Komentar

Your comment is always important to me. Share di sini!