A Separation / Jodaí-e Nadér az Simín (2011)



Nader: "Don't you ever think why you wanna leave this country? 
'Cause every time you face a trouble, you give in. Rather than confront it,"
Simin: "Sorry, it hasn't been a week since I left, and look what happened!"

RottenTomatoes: 99%
IMDb: 8,4/10
Metacritic: 95/100
NikenBicaraFilm : 5/5

Rated : PG-13
Genre : Drama

Directed by Asghar Farhadi ; Produced by Asghar Farhadi ; Written by Asghar Farhadi ; Starring Leila Hatami, Peyman Moaadi, Shahab Hosseini, Sareh Bayat, Sarina Farhadi, Merila Zarei ; Music by Sattar Oraki ; Cinematography Mahmoud Kalari ; Edited by Hayedeh Safiyari ; Distributed by Filmiran (Iran), Sony Pictures Classics (US) ; Release dates 15 February 2011 (Berlin), 16 March 2011 (Iran) ; Running time 123 minutes ; Country Iran ; Language Persian ; Budget $500,000

Story / Cerita / Sinopsis :
Akibat perbedaan tujuan, Simin (Leila Hatami) meminta untuk bercerai dari suaminya Nader (Peyman Moaadi) dan terpaksa meninggalkan anaknya yang berumur 11 tahun Tahmer (Sarina Farhadi). Selama mengurus perceraian, Simin meminta bantuan Razieh (Sarah Bayat) untuk mengurus Nader, Tahmer dan ayah Nader yang menderita Alzheimer. Rupanya hal itu menimbulkan konflik panjang yang tidak terduga.

Review / Resensi :
So, what do I know before about Iran? Just Iraq with the 'n', Ahmadinejaad, and missile. Tidak banyak yang saya ketahui sebelumnya dari negara tersebut, selain ketiga hal itu dan mungkin berita-berita mengenai para pengungsi Iran yang tertangkap sebagai imigran gelap di pesisir selatan Indonesia saat hendak mencari kehidupan lebih baik di Australia. Tetapi rupanya, Iran mampu menghasilkan sebuah film berkualitas Oscar seperti A Separation ini. A Separation adalah film Iran pertama yang saya tonton, dan film ini berhasil menyabet penghargaan Best Foreign Film di ajang piala Oscar 2012 serta meraih nominasi di Best Original Screenplay di ajang yang sama. 

Salah satu unsur paling penting bagi saya dari sebuah karya film adalah: cerita. Dan cerita harus punya naskah yang kuat untuk menjadikannya menarik. Aspek sinematografi, special effect, music, dan teknis lainnya memang penting, namun biasanya itu hanya sekedar unsur sekunder yang menunjang sebuah film, bukan unsur yang memegang peran mayor. Memang, ada perkecualian pada film-film blockbuster yang tidak butuh cerita yang berat, ataupun karya-karya film art-surealis, tapi saya sendiri selalu menyukai sebuah film yang kuat dari aspek cerita dan naskah, dan ini biasanya yang selalu berhasil meraih simpati kritikus film. A Separation, adalah film yang sangat kuat di hal itu. Bahkan, kekuatan utama A Separation memang hanya bermodalkan naskah, yang kemudian didukung kualitas akting yang solid. Secara teknis, A Separation bahkan kabarnya hanya bermodalkan hand-held camera. 


Jalinan cerita yang ada di A Separation sesungguhnya adalah sebuah kisah drama biasa. Nader dan Simin yang merupakan keluarga menengah-modern hendak bercerai, lalu kemudian Simin meminta tolong pada Razier yang berasal dari keluarga menengah ke bawah yang begitu religius untuk membantu (calon) mantan suaminya dalam merawat sang ayah mertua. Suatu ketika, Razier meninggalkan si ayah dalam keadaan tangan terikat tali - dan setelah ini diketahui oleh Nader, membuat Nader naik pitam dan mengusir Razier dengan mendorongnya keluar pintu rumahnya. Konflik kemudian muncul setelah insiden "mendorong" Razier ini membuat Razier yang hamil muda harus keguguran - dan kemudian membuat suami Razier marah besar dan menuntut Nader ke pengadilan. Ya, konfliknya sebenarnya terbilang "sederhana", sebuah kisah yang mungkin memang akan masuk ke halaman koran lokal pada sebuah kolom kecil tapi luput dari perhatianmu. 

Saya sesungguhnya kehabisan kata-kata dalam melukiskan betapa bagusnya film ini. Karena memang terlalu banyak yang membuat film ini sangat hidup. Sesuai judulnya, A Separation pada intinya memang bercerita tentang perceraian kedua orang tua yang kemudian membuat sang anak menjadi menderita. But this movie is more complicated than that. A Separation juga menyinggung hal-hal lain seperti nilai agama, pengabdian kepada orang tua, hingga harga diri. Hal menarik lainnya yang ingin saya coba gali lebih dalam lagi adalah: kebohongan. Ya, pada akhirnya film ini juga sedikit banyak ingin bercerita tentang bagaimana kebohongan kecil kemudian bisa melahirkan kebohongan lain yang menjadi lebih besar hingga ke titik klimaks terparah yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Kebohohongan ini sendiri juga menjadi "twist" di bagian finalnya, dan siapa yang berbohong adalah unsur lain yang bisa membuatmu penasaran. Kebohongan adalah hal yang salah, namun tidak apa-apa jika berbohong untuk kebaikan. Tapi sejauh mana "kebohongan untuk kebaikan" yang bisa ditolerir? Ada banyak kebohongan di sini, namun semua punya alasan kuat untuk berbohong. Jadi kemudian sampai dimanakah kita sebagai penonton bisa "mengijinkan" para pelaku di sini untuk berbohong? That's a moral question!

Hal hebat lainnya adalah Ashgar Faradi mampu menggiring emosi penonton ke level yang begitu intens, bahkan sejak adegan pertama ketika sang suami dan istri bertengkar di depan pengadilan. Konfliknya memang sekilas begitu dramatis, namun sangat - sangat manusiawi. Yang menarik adalah keempat karakter yang tengah bertikai (Nader, si istri Simin, si pembantu Razier dan suaminya Hodjat) diberikan basic story, sebuah latar belakang, yang membuat kala keempatnya bertikai kita tidak tahu harus memihak kepada siapa. Karena ya, semuanya memiliki alasan untuk merasa sedih, marah, kecewa - bahkan bertingkah gila. Karakter keempatnya bahkan begitu kuat, kamu mampu menganalisa sifat utama keempatnya - Nader yang keras kepala, Simin yang moderat dan mandiri, Razier yang religius dan taat pada suaminya, hingga Hodjat yang temperamental. Tidak ada si protagonis dan antagonis di film ini - karena semuanya memberikan perspektif yang masuk akal dan sifat baik maupun sifat buruk, sehingga menimbulkan dilema moral bagi penonton untuk memberikan penilaian "keadilan" harus ditegakkan kepada siapa.  

Now we talk about the Iranian culture. Dengan "kesederhaan" dari cerita yang ada, film Asghar Faradi ini juga secara tidak langsung menjadi introduksi bagi kita kepada kehidupan masyarakat Iran - baik yang modern maupun yang masih konservatif. Ada sesuatu bermakna sedikit sindiran di sini, mengenai bagaimana Iran adalah negara yang tidak cukup nyaman untuk ditinggali - yang menjadi alasan kuat bagi Simin untuk pindah ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Kita juga diajak mengenali potret buram sistem hukum di negara tersebut, melalui gambaran sebuah ruang pengadilan yang sangat buruk. Lalu juga ada unsur religius di sini, mengenai penggambaran tokoh Razier yang sangat religius dan berpegang teguh pada norma-norma keyakinan yang dimilikinya. Kita juga sedikit banyak diajak mengenali tradisi berpakaian para perempuan di film ini, bagaimana mereka mengenakan "hijab" yang ternyata jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan tentang standar hijab. 

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, selain berbekal cerita dan naskah yang sangat kuat, A Separation juga ditunjang oleh penampilan aktor dan aktrisnya yang bermain dengan sangat baik. Tidak hanya keempat karakter sentral Leila Hatami (Simin), Peyman Moaadi (Nader), Shahab Hosseini (Hodjat), serta Sareh Bayat (Razieh), namun juga sang anak Tahmer (Sarina Farhadi)  dan Rosayeh (Kimia Hosseni) bermain dengan cukup mengagumkan. Aspek teknisnya memang terbilang sangat sederhana (kabarnya memang kebanyakan pengambilan gambar dilakukan dengan hand-held camera), serta tidak ada iringan musik menyayat hati yang dramatis. Musiknya hanyalah backsound yang terasa natural - namun justru inilah yang kemudian melengkapi A Separation menjadi sebuah film yang sangat personal dan mampu dengan lebih kuat menyampaikan maksudnya. 

Overview:
Sebuah film yang sangat - sangaaaat luar biasa. The acting was great, but the greatest thing about A Separation is its script. Ada banyak nilai - nilai moral yang bisa kamu petik dari film ini, dan A Separation mampu menyeretmu pada perjalanan emosi yang luar biasa melelahkan. Filosofi film ini begitu kuat, karena tidak hanya sekedar bercerita tentang bagaimana perceraian adalah keputusan yang sangat menyakitkan, namun juga konflik - konflik lain meliputi agama, pengabdian kepada orang tua, harga diri, serta keadilan. Luar biasanya adalah semua itu mampu dirangkum dalam sebuah film "sederhana" berdurasi hanya 2 jam. This movie is so brilliant. 

Komentar

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!